Puasa dan Kedermawanan

ramadhan-adalah-ajang-melatih-kedermawanan-_140618190750-350Anas bin Malik berkata, “Rasulullah SAW adalah orang yang paling baik, paling dermawan (murah tangan), dan paling pemberani.” (HR Ahmad). Puasa Ramadhan mendidik seseorang untuk menjadi pribadi yang dermawan atau murah tangan, suka bersedekah, memberikan sebagian harta yang dimiliki kepada orang lain yang membutuhkan. Rasulullah SAW, seperti dikatakan pada hadis di atas adalah seorang pribadi yang dermawan. Dalam hadis lain secara tegas dikatakan bahwa Rasulullah SAW adalah sosok paling dermawan terutama pada bulan Ramadan. Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah adalah orang yang paling dermawan dalam hal kebaikan. Beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan.” (HR Muslim). Lebih lanjut dikatakan dalam hadis tersebut, “Beliau adalah orang yang paling dermawan dalam hal kebaikan melebihi angin yang berembus.” (HR Muslim). Selain itu, orang yang dermawan, seperti dikatakan dalam Alquran, adalah salah satu dari tanda orang bertakwa yang mendapat petunjuk dari Allah dan akan memperoleh keberuntungan di akhirat kelak. Allah SWT berfirman,Alif Lam Mim. Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Alquran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Al-Baqarah [2]: 1-5).

Allah SWT sangat suka dengan orang yang dermawan dan dekat dengannya. Tidak hanya itu, orang dermawan juga dekat dengan orang-orang dan surga. Dalam hadis disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, “Maafkanlah kesalahan orang yang dermawan. Sesungguhnya Allah menuntun tangannya jika dia terpeleset (jatuh). Seorang pemurah hati dekat kepada Allah, dekat kepada manusia dan dekat kepada surga.” (HR Ath-Thabrani).
Lebih lanjut bahkan dikatakan bahwa Allah SWT lebih menyukai orang yang tidak pintar tetapi dermawan daripada orang pintar dan alim (rajin beribadah) tetapi kikir. Rasulullah bersabda, “Seorang yang bodoh tapi dermawan lebih disukai Allah daripada seorang alim (tekun beribadah) tapi kikir.” (HR. Ath-Thabrani). Bulan Ramadan adalah bulan mulia yang penuh berkah. Segala amal ibadah, baik yang sifatnya ritual seperti shalat, iktikaf, membaca Alquran, berdoa dan berzikir, maupun amal sosial seperti bersedekah, menolong dan membantu orang yang kesulitan, pahalanya akan dilipatandakan. Ibadah ritual sudah jelas, itulah bentuk pengabdian seseorang kepada Allah. Adapun ibadah sosial berkaitan dengan aspek dengan manusia lain di sekitar. Dengan menjadi pribadi yang dermawan seperti Rasulullah, terutama pada bulan Ramadhan, ia berarti tengah mendekatkan diri kepada Allah, kepada sesama manusia, dan ujungnya adalah mendapatkan surga. Wallahu a’lam.

Oleh: Nur Faridah

Keutamaan Memberi Makan

roti-bakar-_160215083319-409Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dalam sahihnya tentang kisah seorang ahli ibadah dari Bani Israil yang telah menghambakan dirinya kepada Allah selama 60 tahun lebih. Pada suatu hari, ahli ibadah itu keluar dari peribadatannya, secara tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang cantik jelita. Wanita itu merayunya sehingga ia lupa diri, lalu berzina dengannya. Setelah berzina, muncullah penyesalan mendalam pada diri sang ahli ibadah. Ia menangis hebat hingga akhirnya pingsan. Ketika sadar, ia masih juga menyesali perbuatannya. Di tengah tangis pilunya, datanglah seorang pengemis lapar meminta belas kasihan. Kebetulan, di tangannya ada dua potong roti, lalu disedekahkan kepada pengemis itu. Nafsu makan ahli ibadah itu hilang sama sekali dikalahkan penyesalannya yang mendalam. Di tengah kepiluan itu, akhirnya ia pun meninggal.

Di akhirat, ternyata amal ibadahnya selama 60 tahun masih lebih ringan dibanding dengan satu perbuatan keji yang telanjur dilakukannya. Kemudian, setelah kebaikannya berupa sedekah dua potong roti itu diikutsertakan, menjadi beratlah amal kebaikannya. Maka, dia pun diampuni. Saudaraku, demikianlah adanya. Ibadah demi ibadah kita tidak cukup untuk meraih surga-Nya Allah. Shalat, zikir, tilawah, puasa, bahkan haji sekalipun belum tentu menjamin keselamatan kita di akhirat nanti. Apalagi, maksiat demi maksiat kita tak kunjung berhenti. Jangan kira ibadah lahiriah kita sudah pasti memasukkan kita ke surga. Ibadah ritual kita yang sifatnya pribadi tidak lengkap tanpa diiringi dengan amal sosial kita. Seperti kisah di atas, tabungan beribadah 60 tahun saja masih kalah dibanding satu perbuatan khilaf. Mengapa? Karena, perbuatan itu adalah zina. Zina adalah dosa besar. Untung saja, sebelum nyawa berpisah dengan raganya, sang ahli ibadah masih sempat memberi dua potong roti kepada seorang pengemis. Dengan itu, dia diampuni.
Memberi makan orang lain adalah amal sosial yang mulia. Mengenyangkan orang lain merupakan amal yang sangat dianjurkan Islam.  “Siapa pun mukmin memberi makan mukmin yang kelaparan, pada hari Kiamat nanti Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan surga. Siapa pun mukmin yang memberi minum mukmin yang kehausan, pada hari kiamat nanti Allah akan memberinya minum dari minuman surga. Siapa pun mukmin yang memberi pakaian mukmin lainnya supaya tidak telanjang, pada hari kiamat nanti Allah akan memberinya pakaian dari perhiasan surga.” (HR Tirmizi). Dalam hadis lain diriwayatkan bahwa orang yang gemar memberi makan orang lain disediakan baginya pintu khusus di surga yang tidak ada yang boleh memasukinya selain dirinya dan semisal dengannya (HR Thabrani). Gemar memberi makan orang lain kelak akan memperoleh naungan pada hari perhitungan. “Tiga pekara siapa pun yang ada padanya, kelak akan dinaungi oleh Allah di bawah arsy-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Yaitu, berwudhu pada waktu cuaca dingin, mendatangi masjid meskipun gelap, dan memberi makan orang yang kelaparan.” (HR Abu Muslim al-Ashbahani). Memberi makanorang yang kelaparan termasuk amalan yang dapat menghapus dosa-dosa, mengundang turunnya rahmat, dan menyebabkan diterimanya tobat. Mencukupkan diri dengan ritual-ritual yang bersifat individual belum cukup. Orang yang beriman harus melengkapi dirinya dengan amal-amal sosial. Nabi SAW bersabda, “Tidak (sempurna) iman orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan.” (HR al-Baihaqi). Alangkah indahnya jika kita memahami ajaran Islam ini secara utuh. Bahwa Islam bukan ajaran individualis, melainkan ajaran yang mengedepankan distribusi kebaikan kepada orang banyak. Orang yang beriman harus hadir membantu saudaranya yang kesulitan. Bukan semata atas dasar kemanusiaan, melainkan itulah tuntutan keimanan.

Oleh: TGH Habib Ziadi

Sabda Rasulullah Soal Usia ke-40

buang-waktu-ilustrasi-_150312215228-633Ali bin Ali Thalib berkata, ”Alangkah cepatnya jam demi jam dalam satu hari, alangkah cepatnya hari demi hari dalam satu bulan, alangkah cepatnya bulan demi bulan dalam setahun, alangkah cepatnya tahun demi tahun dalam umur manusia.” Dalam hidup manusia terdapat tonggak-tonggak umur yang sangat penting, di antaranya umur empat puluh tahun sebagaimana tertera dalam Alquran (Al-Ahqaf: 15–16). Nabi Muhammad SAW juga mengilustrasikan dalam sebuah hadisnya, ”Bila seseorang sudah mencapai usia empat puluh tahun, lalu kebaikannya tidak mengatasi kejelekannya, setan mencium di antara kedua matanya dan berkata, ‘inilah manusia yang tidak beruntung’. ” Dalam riwayat lain, Nabi bersabda, ”Barang siapa umurnya sudah melebihi empat puluh tahun sedang kebaikannya tidak lebih banyak dari kejelekannya, hendaklah ia mempersiapkan keberangkatannya ke neraka.” Dari dua hadis tersebut di atas, Nabi SAW menganjurkan umatnya untuk memeriksa amal perbuatannya setiap kali menyadari umurnya kian bertambah. Dengan demikian, umur merupakan aset sekaligus pertanggungjawaban. Kita bisa beruntung dan celaka dengan umur panjang kita. Semuanya bergantung pada amal yang kita perbuat. Syahdan, menurut beberapa riwayat, sebelum Rasulullah SAW mengembuskan nafas terakhirnya, beliau mengatakan, ”Ummati, ummati, ummati,” dengan lirih dan sendu. Kata ummati yang diungkapkan beliau itu sinonim dari kata komunitas atau masyarakat yang menurut Chairil Anwar dalam salah satu puisinya adalah laksana lautan, terkadang bergelombang dan bergolak yang melambangkan keteguhan dan keperkasaan seakan siap menelan dan menghantam semua yang dihadapi. Di lain waktu, ia laksana hamparan biru permadani yang menggambarkan ketenangan dan kedamaian. Namun, laut juga bisa diibaratkan sebagai “tong sampah”, tempat pembuangan segala macam kotoran, sampah, limbah, dan sebagainya. Konteks yang diungkap Rasulullah tersebut merupakan refleksi dari pertanyaan siapakah di antara kita yang semangat imannya terus bergelombang seiring dengan pertambahan umurnya? Siapa pula yang tetap tenang dan tenteram meski cobaan datang bertubi-tubi? Siapakah di antara kita yang justru tidak memanfaatkan sisa umur ini dalam kebaikan dan keimanan? Orang semacam inilah bak tong sampah, tempat pembuangan kotoran sosial maupun kultural. Toh, umur ditentukan oleh mutunya, bukan panjangnya. Rasulullah menyimpulkannya dalam dua kalimat, ”Manusia paling baik ialah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya. Manusia paling buruk ialah yang panjang umurnya dan buruk amalnya.”

Oleh: Ahmad Fatoni

Manusia Pengembara

rezeki-ilustrasi-_140430165546-136Suatu hari, Rasulallah SAW memegang pundak Abdullah bin Umar. Rasulullah SAW kemudian berpesan, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pengembara.”  Rupanya, putra Umar bin Khattab itu sangat terkesan dengan ucapan singkat Rasulallah SAW hingga dia berkata, antara lain, “Jaga nikmat hidupmu sebelum ajal menjemputmu.” Demikian pula seharusnya kita. Bukankah setiap capaian dunia hanyalah halte demi halte untuk sampai pada terminal akhir kehidupan yaitu kematian. Pada hakikatnya, manusia memang hanya musafir, hingga Ibnul Qayyim, ulama besar abad ke-12 Masehi berkata, “Manusia sejak tercipta dilahirkan untuk menjadi pengembara.” Sifat pengembara dalam diri manusia merupakan sebuah keniscayaan kehidupan sebagaimana diungkap Imam Syafii, “Bahkan seekor singa tidak akan pandai memangsa jika tidak hidup di hamparan bumi yang luas, dan anak panah tak akan menemui sasarannya bila tak pernah dilepaskan dari busurnya.” Sayangnya, sifat pengembaraan manusia sering membuatnya alfa dalam pengembaraannya di padang safana kehidupan. Manusia menjadi rakus dalam berburu rezeki. Manusia berpikir, rezeki adalah uang. Padahal, sebuah cinta dari seorang istri pun adalah rezeki. Bukankah Rasulallah SAW menyebut cinta Khadijah dengan berkata, “Aku telah diberi rezeki dengan cintanya.”  Seringkali manusia tak pandai bersyukur atas karunia rezeki yang melimpah. Padahal, Allah SWT berjanji untuk memberi lebih jika seorang hamba pandai bersyukur.

Karena itulah, Ibnul Qayyim berkata, “Andai seorang hamba mendapat rezeki dunia dan seluruh isinya, kemudian dia bekata, “alhamdulillah,” niscaya pemberian Allah padanya dengan ucapan hamdallah itu akan lebih besar dari seluruh dunia dan seisinya. Mengapa? Sebab, segala kenikmatan dunia akan berakhir sementara pahala atas ucapan tahmid itu kekal hingga hari akhir. Manusia memang sering mengalami krisis keyakinan soal rezeki. Krisis itulah yang menghantarkan manusia menjadi serakah, korup, manipulatif dan merampas hak-hak orang lain. Ulama mengatakan ada tiga konsep rezeki. Rezki yang telah dijamin (rizqul makful), rezeki yang dibagikan (rizqul maqsum) dan rezeki yang dijanjikan (rizqul maw’ud). Konsep rezeki pertama seperti udara yang kita hirup, angin yang berhembus, dan kenikmatan lainnya yang Allah SWT berikan tanpa usaha manusia. Pada dua konsep rezeki lainnya, manusia harus berusaha, tentu dengan cara yang halal. Itulah sebabnya Rasulallah SAW berkata, “Mencari rezeki yang halal adalah (bersifat) wajib setelah kewajiban agama (seperti shalat dan puasa).” Setelah segala kenikmatan rezeki diperoleh, manusia seharusnya berbagi. Nasihat ringkas Ibnul Qayyim menarik untuk dikutip. Ia berkata, “Boleh jadi saat kau tertidur lelap, pintu-pintu langit tengah diketuk puluhan doa; dari orang miskin yang kau tolong; dari orang lapar yang kau beri makan; dari orang yang sedih dan telah kau hidupi, dari orang yang berjumpa denganmu dan kau berikan senyum. Karena itu jangan pernah meremehkan amal-amal kebaikan”. Wallahu a’lam.

Oleh: Inayatullah Hasyim

Hikmah Para Penikmat Tahajud

muslimah-shalat-tahajud-_131023153305-815Semoga tidak pernah ada kata bosan untuk selalu saling mengingatkan. Ada kenikmatan yang tak terkatakan dalam setiap Tahajud kita. “Sesungguhnya bangun tengah malam lebih tepat untuk khusyuk dan bacaan kala itu sungguh sangat berkesan mendalam.” (QS al-Muzammil: 6).

Dengan tadabur dan dibaca pelan, inilah sungguh keistimewaan shalat Tahajud. Tahajud adalah syariat Allah, sebuah upaya meraih cinta dan rahmat-Nya. Tahajud adalah sunah utama Rasulullah, sebuah ikhtiar untuk meraih syafaat Rasulullah.Penikmat Tahajud akan dicintai, dikagumi, didoakan, dan diaminkan doanya oleh para malaikat. Allah tuntun mencapai “maqooman mahumuudan”, kedudukan mulia di sisi-Nya, juga di hadapan makhluk-Nya.Tahajud adalah shalat yang paling nikmat dan mengesankan. Hidup damai, tenang, dan sangat bahagia. Ada aura “haibah” penuh wibawa dan karismatik. Penikmat Tahajud pada akhirnya dalam skrip tulisan-Nya akan terunduh cinta dan sayang dari hamba-hamba-Nya yang beriman. Disegani manusia dan ditakuti musuh, manusia, dan jin.Orang yang bersenyap dalam Tahajud akan memiliki “qoulan tsaqiilan”, bicaranya didengar dan nasihatnya membangkitkan semangat ibadah dan amal saleh. Doanya sangat mustajab. Kunci sukses ikhtiar, berdagang, dan semua aktivitas. Allah juga akan memuliakan para penikmat Tahajud dengan “wujuuhun nuuri”, wajah yang bercahaya, nyaman, dan menyenangkan jika ditatap. “Thiiban nafsi”, nafsunya hanya semangat dalam ketaatan dan berakhlak mulia. Ia juga adalah “manhaatun anil itsmi”, Allah cabut keinginannya pada maksiat.Tahajud adalah “daf’ul bala”, sebuah upaya untuk menolak bala bencana.Kalau terjadi, membawa hikmah besar. Sehat, segar, kuat, cerdas, obat jasmani ruhani, dan obat antipikun Kepastian akan didapat bagi mereka yang istiqamah Tahajud. Di antaranya membuka jalan rezeki, kemudahan urusan, dan kebahagiaan rumah tangga. Berbuah belas kasih, dermawan, dan rendah hati. Saat kondisinya sakaratul maut, insya Allah husnul khatimah. Kuburnya “Rowdoh min riyaadhil jinaani”, taman surga. “Miftaahul jannati” meraih kunci surga.“Hamba-hamba Allah yang beriman itu sedikit sekali rehatnya di waktu malam. Dan, selalu memohon ampunan Allah pada waktu pagi sebelum fajar.” (QS adz-Dzariyat: 17-18). Semoga dengan cara-Nya ternikmati shalat Tahajud kita. Amiin.

OLEH: ustaz Arifin Ilham

Surga Diisi Orang yang Mampu Jaga Amarah

kata-sabar-sangatlah-mudah-untuk-diucapkan-namun-tidak-mudah-_140625102131-279Setiap aktivitas seorang Muslim yang tengah menjalankan ibadah shaum adalah ibadah. Jiwanya tengah dididik Sang Ilahi, demikian pula raganya, sedang dilatih. Sungguh satu bulan penuh diisi dengan pendidikan. Sabar, ikhlas, dan ihsan menjadi pelajaran utamanya. Tak seorang pun tahu apakah dia sedang berpuasa atau tidak, hanya dirinya dan Allah SWT yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Ibarat suatu madrasah, hikmah yang terkandung di dalam shaum sangat luar biasa.Tak ada ruang kosong yang sia-sia, semuanya penuh hikmah. Berpulang kepada diri masing-masing untuk mengambilnya. Kepada mereka yang sungguh-sungguh, predikat takwa akan diraih, sementara yang asal-asalan, hanya mendapatkan lapar dan kehausan.Tentu saja, untuk meraih derajat takwa tak semudah mengatakannya. Selain harus memenuhi seluruh amalan dengan sungguh-sungguh sesuai syariat, hiasi juga hati dengan sabar dan ikhlas. Ingatlah godaan mencapai takwa sebanding dengan prestise raihannya. Perut lapar kerap membuat orang mudah tersinggung dan cepat marah. Berusahalah sekuat tenaga untuk menahan amarah dan tidak memprovokasi orang supaya marah. Menahan amarah merupakan salah satu sifat dari orang-orang bertakwa (al-muttaqun).

Kita dianjurkan untuk menghindar jika ada seseorang yang mengajak bertengkar, dianjurkan berkata “inni shoimun”, aku sedang berpuasa. Kemarahan merupakan emosi negatif yang diluapkan dalam wujud kata-kata maupun perbuatan reaktif.
Emosi ini sering kali merugikan, bahkan mengancam. Tak sedikit pula, akibat amarah yang tak terkendali, seseorang tega membunuh.Menahan amarah merupakan akhlak mulia. Dijanjikan balasan surga yang luasnya tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Rasulullah bersabda, “Barang siapa menahan marah, padahal ia mampu menampakkannya, maka kelak pada hari kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk dan menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai.” (HR Tirmidzi).Selain marah yang sifatnya negatif, ada juga yang positif. Marah seperti ini dilakukan bukan atas dasar kebencian, tapi sebagai pendidikan dan penyadaran. Rasulullah pernah marah kepada sahabatnya yang malas beribadah, bahkan ia pun pernah memarahi orang yang pelit. Marah model ini dilakukan agar seseorang mendapatkan kemaslahatan dalam hidupnya. Ketika kita disakiti oleh seseorang, kemarahan adalah hal yang wajar. Namun, terus-menerus mendendam ialah sikap buruk dan harus dihindari. Pada bulan suci ini, pelajaran menahan amarah menjadi salah satu materi wajib untuk dijalankan mereka yang melaksanakan shaum. Dengan amarah yang membara, kita telah lemah dan dengan mudah dikalahkan oleh setan yang terkutuk.Orang yang mudah marah, di dalam dirinya terkandung sifat sombong, memersepsi dirinya sebagai orang hebat, merasa harus dihormati.Surga yang diciptakan Allah hanya diisi orang-orang yang lemah lembut dan selama hidupnya mampu mengelola amarahnya secara positif.Ia tidak seperti iblis, yang marah dan membangkang saat diperintah Allah SWT bersujud kepada Adam. Dia merasa lebih mulia karena diciptakan dari api, sedangkan Adam hanya dari tanah. Mari tetap tenang dan tenteramkanlah hati kita. Dapatkanlah dengan penuh salah satu pelajaran menuju takwa bernama menahan amarah pada bulan yang penuh nilai pendidikan ini.

Oleh: Dadang Kahmad

Puasa Bagi Anak Sarat Manfaat

anakBeberapa hari lagi, bulan suci yang kita rindukan kehadirannya akan tiba. Ramadhan adalah momentum terbaik untuk pendidikan keluarga, khususnya pendidikan anak. Nuansa kebersamaan suami, istri, dan anak dalam Ramadhan sungguh sangat terasa, sehingga momentum penuh berkah ini dapat dimaknai sebagai sebuah pendidikan mental, spiritual, dan sosial. Rasulullah SAW selalu membiasakan bersahur dan berbuka bersama dengan anggota keluarga dan selalu menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya kepada mereka.

Karena itu, orang tua sangat dianjurkan untuk melatih anak berpuasa sejak dini. Puasa anak tidaklah sia-sia karena meskipun belum mencapai akil baligh, ibadah puasanya tetap dicatat oleh Allah SWT sebagai kebaikan. Latihan berpuasa bagi anak tidak hanya menambah nilai keberkahan bagi keluarga (ayah dan ibunya), tapi dapat menumbuhkan kesadaran dan spirit keberagamaan yang positif bagi masa depannya. Doa anak kecil yang sedang puasa juga sangat didengar Allah SWT. Hasil riset Dr Muhammad Mustafa al Samri, Washaya al Aba’  fi Shiyam al Abna’ (Pesan Orang Tua tentang Puasa Anak) menunjukkan bahwa anak-anak yang berpuasa Ramadhan cenderung mengalami pertumbuhan fisik dan perkembangan mental yang lebih baik dibandingkan dengan anak yang tidak berpuasa. Selain itu, anak yang berpuasa cenderung lebih mampu mengemban tanggung jawab (amanah) dan lebih cepat dewasa dalam bersikap, berpikir, dan berperilaku. Puasa bagi anak juga sarat manfaat. Melalui puasa, anak dididik untuk disiplin waktu. Mereka membiasakan diri bangun lebih pagi, shalat Subuh berjamaah, bertadarus bersama keluarga, dan belajar. Puasa juga mendidik anak untuk berlatih sabar dalam menahan rasa lapar dan dahaga, sabar dalam mengendalikan diri dari kebiasaan “serbaenak”, dan kemanjaan-kemanjaan lainnya. Sebuah penelitian di Amerika Serikat tentang qiamul lail menyimpulkan, kebiasaan bangun malam, diikuti gerakan ringan seperti shalat, menghirup udara, dan minum air putih sangat baik bagi ketahanan dan kesehatan tubuh. Anak yang dibiasakan bangun malam atau pada waktu sahur akan memiliki kebugaran tubuh yang prima. Karena itu, melatih dan membiasakan anak berpuasa sangat penting untuk kesehatan dan kebugaran fisik mereka di masa depan.Persoalannya kemudian adalah sejak kapan dan bagaimana orang tua harus melatih dan membiasakan anaknya berpusa? Sebagian ahli pendidikan Islam berpendapat, sebaiknya puasa anak dimulai pada usia tujuh tahun, sebagaimana Rasulullah SAW menganjurkan orang tua agar memerintahkan anaknya melaksanakan shalat pada usia tujuh tahun dan jika pada usia 10 tahun belum terbiasa shalat agar diberikan sanksi yang lebih tegas lagi, misalnya, pukulan ringan dengan niat mendidik bukan emosi. (HR Abu Dawud).Pakar pendidikan menyarankan, dimulai dari usia 10 tahun. Tetapi, bagi sebagian anak perempuan saat ini, usia 10 tahun ter kadang sudah menginjak usia akil baligh. Karena itu, latihan puasa perlu dibiasakan bagi anak sedini mungkin.Tentu saja, latihan puasa harus diberikan secara bertahap, sesuai dengan kemampuan fisik anak. Mula-mula, anak dilatih puasa hingga tengah hari. Artinya, anak diajak makan sahur bersama keluarga dan diperkenankan berbuka pada waktu Zhuhur, kemudian dilanjutkan lagi berpuasa hingga Maghrib. Setelah itu, anak dilatih puasa hingga Ashar, dan akhirnya puasa dari waktu sahur hingga Maghrib.Yang terpenting dalam pembiasaan ini adalah pengawasan dan motivasi dari orang tua, sehingga tidak mudah tergoda oleh temannya yang kebetulan tidak puasa. Sebagai orang tua, kita harus meyakini bahwa melatih anak berpuasa sejak dini merupakan salah satu strategi pendidikan mental spiritual yang efektif bagi masa depan anak dan bangsa. Marhaban ya Ramadhan.

Oleh:  Muhbib Abdul Wahab  

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.