Indahnya Kesempatan Bertaubat

kh-muhammad-arifin-ilham-ketika-berdzikir-bersama-komunitas-brigez-_150222181910-893Allahuakbar Wa Lillaahilham, hari Sabtu Dhuha ini gang motor terbesar, Brigez yg beranggota 30 ribu biker mengundang saya berzikir. Ketika Kiki, ketua lapangan Brigez datang ke rumah, Ia mengajak saya berzikir. “Bang, kami sudah cape maksiat mulu, bimbing kami hijrah, kami banyak berbuat dosa, terutama saya bang” tutur dan pinta Kiki ke saya. Saya pun sangat senang melihat semangat Kiki mengajak gangnya bertaubat. “Subhanallah Kiki, abang juga banyak dosa, ayo kita bersama-sama berhijrah” jawab abang.

Subhanallah jamaahnya yang ada hadir banyak remaja yang pakai anting, kalung, bertato, yang penting dan utama bagi saya, kita sama-sama berhijrah. Sungguh sahabatku, Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bertaubat (QS Al Baqoroh 222). Allah berfirman dalam hadist Qudsi, “Engkau hambaKu, takala engkau melakukan maksiat, engkau meninggalkan-Ku. Ketahuilah hamba-Ku, takala engkau sudah lelah dengan dosa maksiatmu, engkau sangat menyesal, lalu engkau bertaubat pulang kepada-Ku, sungguh engkau menjumpai-Ku sebagai Rab yang Maha Pengasih Penyayang yang mengampuni seluruh dosa dosamu”.

Allahu Akbar, karena itu tiada kesempatan terindah yang paling bersejarah dalam hidup di dunia sebentar ini selain kesempatan bertaubat. Selamat hijrah sahabat sahabatku Brigez, semoga Allah mengampuni semua dosa kita, dan menerima taubat kita…aamiin.

Oleh:KH Muhammad Arifin Ilham

Api Cinta

masjidil-haram-di-makkah-arab-saudi-_141003220725-249Ketika dakwah Islam masih dilakukan secara rahasia di Makkah, Abu Bakar meminta izin kepada Rasul untuk berdakwah secara terang-terangan. Nabi Muhammad SAW awalnya tidak setuju karena jumlah mereka masih sedikit. Abu Bakar terus meminta izin, akhirnya Rasul SAW mengizinkannya. Abu Bakar berkhotbah di Masjidil Haram agar masyarakat masuk Islam. Sekonyong-konyong kaum musyrikin mengeroyok Abu Bakar dan kaum Muslimin. Utbah bin Rabi’ah memukulnya dengan sandal dan tangan, ia juga menendang dan menginjak tubuh Abu Bakar. Wajah beliau pun bersimbah darah. Hampir-hampir hidung Abu Bakar rata dengan wajahnya. Beliau pun pingsan dan digotong pulang oleh kerabatnya. Abu Bakar dalam keadaan koma, para kerabatnya dari Bani Taim–meskipun belum masuk Islam—mereka marah. Mereka segera mendatangi Ka’bah dan mengumumkan, “Jika dalam peristiwa ini Abu Bakar meninggal maka kami akan membunuh Utbah bin Rabi’ah.”
Ibu dan anggota keluarganya cemas setelah sekian lama barulah Abu Bakar menyadarkan diri. Kata-kata pertama yang keluar dari lisannya, “Bagaimana keadaan Rasulullah SAW?” Ibu Abu Bakar cemas sekali kalau-kalau Abu Bakar meninggal. Abu Bakar bertanya lagi kepada sang ibu, “Bagaimana keadaan Rasulullah SAW?” Ibunya menjawab, “Ibu tidak tahu bagaimana keadaan temanmu itu.”
Abu bakar berkata, “Tolong ibu tanyakan kepada Fathimah binti Khaththab.” Ibunya segera pergi ke rumah Fathimah binti Khathab dan ia segera menjenguk Abu Bakar. Abu Bakar bertanya kepada Fathimah bagaimana keadaan Rasulullah SAW. Fathimah ragu menjawab karena ada ibu Abu Bakar di sampingnya yang belum masuk Islam. Abu Bakar mengatakan jangan khawatir karena beliau aman. Fathimah menjawab bahwa Rasul baik-baik saja. Abu Bakar bertanya lagi, “Di mana Beliau sekarang?” Umu Jamil menjawab, “Sekarang ada di Darul Arqam.” Abu Bakar ingin menemui Nabi SAW. Ibunya menginginkan Abu Bakar makan dan minum untuk menguatkan badannya dan agar sakitnya tidak semakin parah. Namun, Abu Bakar bersumpah tidak akan makan dan minum sampai berjumpa langsung dengan Rasulullah SAW. Ibunya menyerah melihat kemauan keras anaknya. Setelah keadaan sudah aman, akhirnya ibu Abu Bakar dan Fathimah mengantarkan Abu Bakar berjumpa Rasul di Darul Arqam. Abu Bakar gembira melihat Rasulullah SAW selamat dan segera menghampiri untuk memeluk Nabi. Nabi yang memandang Abu Bakar dengan sedih segera dihibur oleh Abu Bakar bahwa lukanya tidak parah. Abu Bakar tidak ingin Rasul cemas memikirkannya. Abu Bakar memohon kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, tolong dakwahi ibu saya, ia sangat baik kepada anaknya. Doakan ibu saya agar Allah mengaruniakannya hidayah dengan masuk Islam semoga bisa selamat dari azab api neraka.” Rasulullah SAW mendakwahi ibu Abu Bakar, Umul Khair, dan mendoakannya agar masuk Islam. Alhamdulillah, Allah lapangkan dada Umul Khair yang langsung mengikrarkan dua kalimat syahadat masuk Islam. Faidah dari kisah di atas, yakni likulli mihnatin minhatun (setiap musibah diakhiri dengan karunia). Ibu Abu Bakar akhirnya masuk Islam. Selain itu, karena peristiwa penyerangan kaum musyrikin terhadap kaum Muslimin di Masjidil Haram menyebabkan Hamzah paman Nabi masuk Islam. Beberapa hari setelah kejadian pemukulan terhadap Abu Bakar, Umar bin Khathab pun masuk Islam.

Oleh: Fariq Gasim Anuz

Hikmah Sudahkah Hari Ini Membaca Alquran ?

anak-anak-membaca-alquran-_140810122138-526

SubhanAllah walhamdulillah ketahuilah sahabatku bahwa :
setiap huruf Alquran itu mu’zijat,
setiap hurufnya ridha Allah,
setiap hurufnya rahmat Allah,
setiap hurufnya ampunan dosa,
setiap hurufnya dijaga Malaikat,
setiap hurufnya nur cahaya,
setiap hurufnya hidayah,
setiap hurufnya barkah Allah,
setiap hurufnya “syifaaun” obat penyakit jasmani,
setiap hurufnya obat penyakit rohani,
setiap hurufnya sepuluh kebaikan,
setiap hurufnya membuat doa mustajab,
setiap hurufnya penenang hati,
setiap hurufnya menjadi penerang kubur,
setiap hurufnya syafaat di akhirat kelak.

Sudahkah sahabatku hari ini membaca Alquran ? Alhamdulillah, Arifin membiasakan sejak diajarkan di pesantren membacanya waktu Fajar, setelah Magrib, dan nanti malam sebelum rehat. Sungguh tiada kebahagiaan hidup dunia sebentar ini kecuali selalu terus asyik berinteraksi dengan Alquran, seakan Allah bicara langsung membimbing kita. “Sungguh tiada yang merasakan indahnya, bahagianya hidup bersama Alqur’an kecuali mereka yang sudah tenggelam hanyut merasakannya krn membaca dan mengamalkannya” (Sayyid Qutub). Subahnallah sahabatku jangan sedih kalau membacanya masih terbata-bata. Sungguh berita gembira dari Rasulullah, “Orang yang mahir berinteraksi dengan Alquran akan bersama para malaikat yang mulia dan taat, sedangkan yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata dan ia merasa sulit, ia mendapatkan dua pahala” (HR. Muslim). Allahuma ya Allah rahmatilah hidup kami dengan Alquran, dan jadikanlah Alquran itu imam, cahaya, hidayah, dan rahmat untuk kami dan keluarga kami…aamiin.

Oleh: KH Muhammad Arifin Ilham

Ini Figur Muslim yang Cerdas Menurut Rasulullah

kematian-ilustrasi-_140518234229-612Rasanya terlalu cepat ketika kematian datang tiba-tiba kepada anak, istri, orang tua, dan keluarga. Tak ada yang pernah menginginkannya. Kalau mungkin meminta, nanti sajalah ketika semua nafsu duniawi telah terpenuhi. Begitulah keinginan manusia, namun dapat berbeda dengan ketetapan Sang Pencipta. Dalam Alquran surah Ali Imran ayat 145, Allah SWT berfirman, “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya.” Dengan demikian, kehidupan dan kematian telah ditetapkan oleh-Nya. Hanya saja apabila kelahiran selalu dirayakan dengan penuh kebahagiaan, kematian selalu diiringi tangis kesedihan. Bukan sehari dua hari, berbulan, atau bahkan bertahun-tahun. Pada 18 Januari 2015 lalu, penulis merasakan kepedihan itu ketika anak laki-laki pertama yang berusia sembilan tahun dipanggil terlebih dahulu oleh pemilik sejatinya. Sudah dua minggu lebih sedih itu masih menggelayuti jiwa. Jangankan kita manusia biasa, Rasulullah SAW sempat menitikkan air mata saat istri tercinta, Siti Khodijah, meninggal. Ketika paman terkasih yang melindunginya, Abu Tholib, meninggal saat perjuangan menegakkan Islam masih berat, Baginda Rasul pun sangat bersedih. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW, bersedih itu boleh, tapi sewajarnya saja. Jangan meratapi terus-menerus sehingga semangat hidup hilang dan berputus asa. Ingatlah, bukan hanya harus beriman kepada Allah, malaikat, kitab, Rasul, dan hari pembalasan, melainkan kita juga harus beriman kepada ketetapan untuk setiap makhluk-Nya (qada/ qadar). Kekuatan imanlah yang menguatkan dan mengingatkan bahwa semua yang ada dalam kehidupan dunia ini hanyalah titipan. Amanah Tuhan, yang kapan saja bila Dia berkehendak, akan diambilnya. Keikhlasan dan kesabaran menjalaninya sebagai obat terbaik. Kemarahan, mencari-cari alasan, berandai-andai kita bisa menyelamatkan diri dari kematian, hanyalah pintu setan untuk menanggalkan iman.
Ini soal antrean saja, bisa lebih dahulu anak, istri, suami, orang tua, dan orang terkasih kita lainnya. “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS an-Nisa [4]:78). Kematian sangatlah menakutkan bagi mereka yang banyak dosa. Dalam Alquran surah al-Jumu’ah ayat 7 dinyatakan, “Mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim.” Tapi bagi orang beriman, kematian sangatlah membahagiakan karena pintu terbuka untuk bertemu Yang Maha Penyayang. Bagi yang ditinggalkan terlalu banyak hikmah dan hidayah dari-Nya apabila kita sanggup menangkapnya. Ketika ikhlas menghiasi jiwa, petunjuk Tuhan akan dengan mudah diterima. Kekuatan jiwa untuk menerima ujian semakin meningkat dan kualitas ibadah akan semakin baik. Berserah diri kepada Allah dan jadilah manusia cerdas sebagaimana diingatkan oleh Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas ra, “Bahwa malaikat maut memperhatikan wajah manusia di muka bumi ini 70 kali dalam sehari. Ketika Izrail datang memperhatikan wajah manusia, didapati orang tersebut sedang bergelak tawa. Maka berkata Izrail, ‘Alangkah herannya aku melihat orang ini, padahal aku diutus oleh Allah SWT untuk mencabut nyawanya kapan saja, tetapi dia masih terlihat bodoh dan bergelak tawa.” Seorang sahabat pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling cerdas?” Rasulullah lalu menjawab, “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian, itulah orang yang paling cerdas (HR Ibnu Majah, Thabrani dan Al Haitsami). Wallahu’alam.

Oleh: Iu Rusliana

Apa Makna Nur yang Dibahas Alquran?

141003171954-615Nur yang dalam bahasa Arab diartikan dengan cahaya dan disebut dalam Alquran sebanyak 43 kali. Bahkan, surah ke-24 juga diberi nama dengan an-Nur. Begitu banyaknya Alquran membahas tentang eksistensi nur. Lantas sedalam apakah makna nur yang dibahas Alquran? Eksistensi dan urgensi kalimat nur tentu tak hanya sebatas didefenisikan dengan cahaya saja. Secara etimologis, cahaya adalah sesuatu yang menyinari suatu objek sehingga objek tersebut menjadi jelas dan terang. Menurut pakar tata bahasa Arab Ibrahim Anis dalam al-Mujam al-Wasth, nur adalah cahaya yang menyebabkan mata dapat melihat. Sementara itu, Muhammad Mahmud Hijazi, seorang ahli tasawuf mengatakan, nur adalah cahaya yang tertangkap oleh indra dan dengannya mata dapat melihat sesuatu. Selanjutnya pengertian ini berkembang dengan makna petunjuk dan nalar. Penulis Tafsir al-Mizan as-Sayyid Muhammad Husein at-Tabataba’i menjelaskan, pengertian awal dari kata nur adalah sesuatu yang tampak dengan sendirinya. Selanjutnya, hal ini juga menyebabkan hal lainnya yang bersifat sensual (naluriah, implisit) menjadi tampak. Definisi ini berkembang lebih luas, yaitu setiap alat indera dipandang sebagai nur atau mempunyai nur, dan dengannya hal-hal yang sensual dapat terlihat. Selanjutnya, pengertian ini berkembang lagi hingga mencakup yang nonsensual, termasuk akal juga dikatakan sebagai nur karena ia dapat menyingkap hal-hal yang abstrak. Ibnu Sina (980-1037) pernah ditanya tentang pengertian nur pada surah an-Nur ayat 35. Ia menjawab, kata nur mengandung dua makna, yaitu esensial dan metaforis. Adapun yang esensial berarti kesempurnaan keheningan karena nur itu pada dirinya bersifat bening. Sedangkan makna metaforis harus dipahami dengan dua cara, yaitu sebagai sesuatu yang bersifat baik atau sebagai sebab yang mengarahkan kepada yang baik. Sedangkan, pakar tafsir al-Isfahani membagi pengertian nur ke dalam arti material (duniawi) dan arti spiritual (ukhrawi). Nur dalam arti material adalah cahaya yang dapat dilihat dan ditangkap di dunia. Arti material ini dibedakan lagi menjadi dua, yaitu arti abstrak dan arti konkret. Arti abstrak berarti cahaya yang hanya dapat ditangkap oleh mata hati (basirah). Kedua, arti konkret atau sensual (makhsus) merupakan cahaya yang dapat ditanggap oleh mata kepala. Sedangkan nur dalam arti spiritual ialah cahaya yang akan dilihat di akhirat kelak. Dalam Alquran, kata nur paling tidak memiliki arti dalam tiga kemungkinan.

Pertama, cahaya itu sendiri. Hal ini seperti terdapat dalam surah Yunus ayat 5, “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan memiliki nur (bercahaya). Dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya”.

Kedua, bermakna petunjuk. Hal ini seperti yang terdapat dalam surah al-Hadid ayat 9, “Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Alquran) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada nur (cahaya)”.

Ketiga, bermakna Alquran. Hal ini seperti yang terdapat dalam surah at-Tagabun ayat 8, “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Alquran) yang telah Kami turunkan”. Makna dasar kata nur sebenarnya adalah petunjuk karena nur dalam arti cahaya itu sendiri petunjuk. Sedangkan Alquran berfungsi sebagai petunjuk bagi orang yang tersesat atau orang yang sedang mencari kebenaran. Nabi Muhammad SAW disebut juga nur karena Beliau diyakini sebagai orang yang membawa petunjuk atau menunjukkan jalan yang benar. Al-Gazali dalam kitabnya Misykat al-Anwar mengatakan, kedudukan Alquran bagi mata akal sama seperti kedudukan cahaya matahari bagi mata lahiriah. Sebab, hanya dengan itulah sempurna penglihatan. Dengan itu pula Alquran lebih patut menyandang nama nur sebagaimana sinar matahari biasa dinamakan cahaya. Menurut al-Gazali, hakikat nur yang sebenarnya hanyalah Allah SWT, sedangkan sebutan cahaya bagi selain Dia hanyalah kiasan, tak ada wujud sebenarnya. Karena itu, al-Gazali membedakan makna nur pada pengertian di kalangan orang awam dan kalangan orang khusus. Nur dalam pengertian orang awam merujuk kepada sesuatu yang tampak. Sedangkan ketampakan itu adalah sesuatu yang nisbi. Adakalanya sesuatu tampak dengan pasti bagi suatu pandangan pada saat ia bersembunyi bagi pandangan lainnya. Cahaya adalah sebutan sesuatu yang tampak dengan sendirinya ataupun yang membuat tampak benda lainnya. Nur dalam pengertian orang khusus adalah jiwa yang melihat. Rahasia cahaya adalah kenampakannya bagi suatu daya cerap. Akan tetapi, pencerapan tidak hanya bergantung pada adanya cahaya, tetapi juga pada adanya mata yang memiliki daya lihat. Meskipun cahaya disebut sebagai sesuatu yang tampak dan menampakkan sesuatu, tidak ada suatu cahaya tidak ada suatu cahaya yang tampak dan menampakkan sesuatu bagi orang buta. Di kalangan kaum sufi istilah nur biasanya dinisbahkan dengan Muhammad SAW sehingga menjadi ungkapan Nur Muhammad atau Halaqah Muhammadiyah. Konsep Nur Muhammad pertama kali dibawakan oleh al-Hallaj (858-922). Teori tentang adanya nur atau Nur Muhammad ini berdalil dengan penafsiran surah an-Nur ayat 35 yang menyebutkan, “Allah adalah cahaya langit dan bumi”. Kata nur pada ayat ini ditafsirkan dengan Nur Muhammad. Allahu A’lam.

Oleh: Hafidz Muftisany

Bangun Malam

tahajjud-_120513203440-807Tatkala matahari terbenam, aku senang adanya kegelapan karena aku bisa bercinta dengan Tuhanku, dan tatkala ia terbit, aku sedih karena adanya manusia dalam kehidupanku.” Demikian penggalan kata dari imam Fudhail bin ‘Iyadh, seorang ahli ibadah yang mendapat julukan Abid Haramain” (seorang ahli ibadah di Makkah dan Madinah). Ia menuturkan kepada kita akan nikmatnya bangun malam. Bangun malam merupakan pengorbanan diri kita untuk bisa meninggalkan kepuasaan ragawi dari tidur; Panggilan hati untuk menghadap kepada Allah dengan ibadah dan zikir. Di dalamnya kita bisa berdialog dengan Tuhan tanpa batas penghalang. Dialog dapat terhubung dengan shalat Tahajud, doa, dan zikir, membaca Alquran, ataupun ibadah sunah yang lain. Bangun malam tak sepenuhnya kita harus terjaga sepanjang malam, tapi bisa di tengahnya atau sepertiganya, tergantung pada kemampuan dan kemauan. (QS Al-Muzzammil [73]: 2-4). Bangun malam adalah ibadah yang dianjurkan Allah SWT tanpa adanya pemaksaan dan pembebanan kewajiban di dalamnya. Ia murni panggilan hati. Rasulullah SAW memberikan teladan kepada kita untuk bisa bangun, bersujud, dan bermunajat kepada Allah SWT pada malam hari hingga tak terasa kedua lututnya membengkak. Melihat hal ini ‘Aisyah RA bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah kebiasaan ini tidak memberatkanmu, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan akan datang?” beliau menjawab, “Tidak pantaskah aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur?” Akan tetapi, kebiasaan bangun malam tak serta-merta terbangun dalam hidup kita sehari-hari sehingga perlu adanya latihan dan niat yang kuat. Ia bisa begitu berat bagi sebagian orang bisa pula sangat ringan bagi sebagian yang lain, bahkan ada perasaan sedih apabila terlewati. Adapun usaha yang dapat meringankan bangun malam, di antaranya tidak terlalu banyak makan. Dengan banyak makan tentu akan berimbang dengan banyak minum yang dapat menyebabkan kantuk berat dan sulit untuk bangun malam. Usaha yang lain juga dengan meluangkan sedikit waktu untuk istirahat siang karena akan meregangkan otot dan pikiran yang kaku sehingga tidak terlalu capek pada malam hari. Namun, semua usaha itu akan sia-sia apabila tidak adanya niat dan pengetahuan tentang hikmah di balik bangun malam. Allah SWT telah membentangkan hikmah bangun malam secara luas bagi kita yang mampu mendirikannya; bisa berupa rezeki (QS as-Sajadah [32]: 16); bisa ketenangan jiwa (QS al-Muzzammil [73]: 6); bisa pula martabat yang terpuji (QS al-Isra’ [17]: 79). Rasulullah SAW juga memaparkan pentingnya bangun malam, “Dua rakaat yang didirikan seorang hamba di tengah malam pahalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya.” [HR Muhammad bin Maruzi). Dan ia pula bersabda, “Tidaklah seorang hamba Muslim melewatkan waktu pada malam hari untuk memohon kebaikan kepada Allah, kecuali Dia pasti akan memberikan kebaikan itu kepadanya.” [HR Muslim]. Kenikmatan bangun malam tentu tak akan terasa bagi kita yang belum pernah mencicipinya. Ia tampak keras dan sukar saat pertama kali kita cicipi, namun akan ada rasa kecanduan apabila kita cicipi berulang-ulang kali. Wallahu a’lam.

Oleh: M Sinwani

Mengingat Kematian

kematian-ilustrasi-_140518234229-612Seseorang yang sibuk hanya mengurusi dunia dapat dipastikan dia tidak suka mendengar kata kematian karena takut kalau kesenangan yang dinikmatinya akan hilang tiba-tiba. Sekalipun mengingat mati, dia menganggap kematian itu hanya akan menyebabkan dirinya kehilangan kesenangan dan kenikmatan dunia sehingga dia pasti alergi membicarakan kematian. Kematian termasuk permasalahan yang sangat besar, namun manusia sekarang telah menganggapnya enteng, tak mau mengenalnya, tak acuh saja, bahkan menantang dengan menjadikannya berbagai tontonan dan tertawaan, seperti yang banyak kita lihat di televisi. Kematian terucap sebatas di bibir, dianggap tidak bermanfaat untuk direnungkan, padahal maut telah mempertontonkan aksinya melalui musibah beruntun, longsor, kecelakaan darat, laut dan udara, berbagai penyakit atau bahkan saat seseorang berada dalam istana yang tinggi dan gedung megah, kematian pasti datang dengan cara yang tak pernah ia duga. Jarak antara kehidupan dan kematian amatlah tipis, seseorang yang tampak sehat dan tertawa pada siang hari, malamnya mendadak meninggal dunia. Ini menunjukkan kematian menjemput tiba-tiba, bahkan saat seseorang tengah merencanakan pesta kegembiraan untuk bersenang-senang, tiada yang menyangka akan mengalami musibah. Tak ada seorang pun jika ditanya dia menginginkan kematian dengan cara dirampok seperti itu.

Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya maka sesungguhnya kematian itu akan menemuimu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS al-Jumu’ah [62]: (8).

Sesungguhnya manusia mesti dipaksa untuk selalu mengingat maut. Bagi mereka yang selalu mengingatnya, segala musibah dunia akan menjadi mudah, berkurang angan-angan akan harta.Selain itu, mengingat kematian membantunya mengumpulkan harta juga demi untuk akhirat, jujur bekerja, serta tidak menzalimi dan melanggar hak orang lain. Intinya mengingat maut sangat banyak manfaatnya, bahkan mendapatkan pahala, menjadikan orang beruntung karena bersiap menghadapi kematian yang bisa datang kapan saja, dan ikhlas karena telah bersiap menyambutnya Abu Hurarra berkata, “Suatu ketika kami bersama Rasulullah SAW mengantar jenazah. Setibanya di tanah pekuburan Rasulullah SAW duduk di dekat sebuah kubur, lalu berkata, ‘Tidak berlalu satu hari pun di dalam kubur kecuali kubur akan mengatakan dengan fasih dan jelas, ‘Wahai anak Adam, mengapa kamu melupakan aku, padahal aku adalah tempat kesunyian, aku adalah rumah pengasingan, aku adalah tempat yang penuh ulat dan cacing. Aku adalah tempat yang sangat sempit kecuali bagi orang yang dikehendaki-Nya maka da menjadi luas. Kubur merupakan sebuah taman surga atau sebuah lembah dari lembah neraka’.” Karena hidup di dunia singkat, sedangkan akhirat kekal maka barang siapa yang banyak mengingat kematian, dia akan mendapat banyak kemuliaan, hidayah untuk segera bertobat, merasa puas dengan apa yang ada, bersungguh-sungguh dan merasa senang dalam beribadah. Sedangkan siapa yang lalai akan maut sehingga membencinya, dia malas bertobat, selalu merasa pendapatannya kurang sehingga dia tak pernah puas dan terus merasa miskin, dirinya juga akan malas beribadah yang membuatnya celaka di akhirat. Perbanyaklah mengingat maut, sekiranya kamu tahu apa yang terjadi pada dirimu setelah kematian, niscaya kamu tidak berselera makan dan minum barang segelas air pun. Siapa yang banyak mengingat mati, hatinya akan hidup dan kematian menjadi mudah baginya, bahkan Rasululullah SAW bersabda, “Orang yang cerdas adalah mereka yang selalu banyak mengingat kematian.

Oleh: Ganda Pekasih

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.