Hakikat Rendah Hati dalam Kehidupan

piramida-giza-di-mesir-peninggalan-firaun-yang-binasa-akibat-_140102204550-438Subhanallah sahabat shalehku, memang rendah hati hormat kepada guru, orang tua, kakak, dan itu sebuah kewajaran dalam kebaikan akhlak. Tetapi hakikat rendah hati sebenarnya adalah takkala engkau sayang, akrab, duduk, makan bersama dengan orang orang yg papa, pembantu, tukang, supir, dan bersahabat tanpa jarak bersama mereka.

Dan boleh jadi mereka lebih mulia dari kita, boleh jadi yang mencium tangan lebih mulia dari yang dicium. ‘kan yang paling tahu siapa kita hanya Allah, begini begitu karena aib kita masih ditutupi Allah kan?! Coba kalau Allah buka, pasti hina semua kita.

Baca Kalam Allah, “Sesungguh yg paling mulia diantara kalian adalah siapa yang paling takwa di sisi Allah” (QS Al Hujarat 13). Rasulullah bersabda, “Siapa yang bersikap rendah hati, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya, dan siapa yang bersikap sombong, maka Allah akan merendahkan derajatnya hingga derajat yg paling hina” (HR Ibnu Majah).

Karena itu jangan sekali kali sombong, “Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dg sombong…” (QS Al Isra 37)”. Sungguh hamba Allah yang selalu menghinakan dirinya di penghujung malam dengan banyak dan lama sujud dihadapannya, pasti buahnya sangat rendah hati kepada mahluk Allah.

Allahumma ya Allah hiasilah diri hamba dengan kesenangan ibadah kepada-Mu dan sifat rendah hati pada mahluk-Mu

Oleh: KH. Muhammad Arifin Ilham

Lisan Orang Berakal di Belakang Hatinya

ilustrasi-hikmah-_140708092815-478Manusia mungkin cenderung lupa dan kerap mengabaikan apa yang sebenarnya penting. Masalah lisan (lidah), misalnya, tidak jarang di antara kaum Muslim yang menganggapnya sebagai perkara biasa sehingga tidak heran jika banyak yang menggunakan lisannya secara tidak hati-hati. Padahal, lisan ini karunia Allah yang sudah semestinya digunakan dengan sebaik-baiknya. Sebab, lisan juga bisa menjadi indikator sempurna tidaknya keimanan seorang Muslim. Rasulullah bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR Bukhari). Demikian pentingnya lisan ini, sampai urusan super penting pun, yakni urusan masuk surga atau neraka, juga ditentukan oleh bagaimana seorang Muslim menggunakan lisannya. Rasul SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh antara timur dan barat.” (HR Bukhari-Muslim). Penjelasan lebih lanjut makna hadis ini, Imam Nawawi menuliskan pendapat Imam Syafi’i dalam kitab Al-Adzkar, “Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya, maka berbicaralah, dan jika dia ragu, maka janganlah berbicara.” Sungguh menarik apa yang disampaikan Abu Hatim mengenai ini, “Lisan orang yang berakal di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat (maslahat) baginya, maka dia akan berbicara. Dan bila tidak ada (maslahat), dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya, dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”

Sudah semestinya kita benar-benar waspada terhadap penggunaan lisan kita. Kurangi berbicara yang tidak jelas maslahatnya. Hindari berbicara tentang keburukan orang lain, apalagi mencari-cari kesalahan orang lain. Sebab, itu semua tidak akan mendatangkan kecuali kerugian bagi diri sendiri. Terkait ini Rasulullah mengingatkan, “Wahai orang yang menyatakan beriman melalui lidahnya, tetapi keimanannya belum masuk ke dalam relung hatinya, janganlah kalian melakukan ghibah (menggunjing) terhadap kaum Muslimin dan jangan kalian mencari-cari kesalahan mereka. Sebab, barang siapa yang mencari-cari kesalahan mereka, maka Allah akan menyingkap keburukannya dan barang siapa yang disingkapkan Allah keburukannya, maka Allah akan mempermalukannya walaupun dia bersembunyi di dalam rumahnya.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi). Dengan demikian, mari sayangi diri kita, iman kita, ibadah kita, dan segala kebaikan yang telah kita upayakan sepanjang hidup ini dengan senantiasa waspada dalam berbicara. Sekiranya pun kita mengetahui keburukan orang lain, maka menutupinya jauh menyelamatkan daripada menyebarluaskannya. “Barang siapa menutupi kekurangan seorang Muslim, maka Allah akan menutupi kekurangannya di Hari Kiamat.” (HR Muslim).

Oleh: Imam Nawawi

Indahnya Kesempatan Bertaubat

kh-muhammad-arifin-ilham-ketika-berdzikir-bersama-komunitas-brigez-_150222181910-893Allahuakbar Wa Lillaahilham, hari Sabtu Dhuha ini gang motor terbesar, Brigez yg beranggota 30 ribu biker mengundang saya berzikir. Ketika Kiki, ketua lapangan Brigez datang ke rumah, Ia mengajak saya berzikir. “Bang, kami sudah cape maksiat mulu, bimbing kami hijrah, kami banyak berbuat dosa, terutama saya bang” tutur dan pinta Kiki ke saya. Saya pun sangat senang melihat semangat Kiki mengajak gangnya bertaubat. “Subhanallah Kiki, abang juga banyak dosa, ayo kita bersama-sama berhijrah” jawab abang.

Subhanallah jamaahnya yang ada hadir banyak remaja yang pakai anting, kalung, bertato, yang penting dan utama bagi saya, kita sama-sama berhijrah. Sungguh sahabatku, Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bertaubat (QS Al Baqoroh 222). Allah berfirman dalam hadist Qudsi, “Engkau hambaKu, takala engkau melakukan maksiat, engkau meninggalkan-Ku. Ketahuilah hamba-Ku, takala engkau sudah lelah dengan dosa maksiatmu, engkau sangat menyesal, lalu engkau bertaubat pulang kepada-Ku, sungguh engkau menjumpai-Ku sebagai Rab yang Maha Pengasih Penyayang yang mengampuni seluruh dosa dosamu”.

Allahu Akbar, karena itu tiada kesempatan terindah yang paling bersejarah dalam hidup di dunia sebentar ini selain kesempatan bertaubat. Selamat hijrah sahabat sahabatku Brigez, semoga Allah mengampuni semua dosa kita, dan menerima taubat kita…aamiin.

Oleh:KH Muhammad Arifin Ilham

Api Cinta

masjidil-haram-di-makkah-arab-saudi-_141003220725-249Ketika dakwah Islam masih dilakukan secara rahasia di Makkah, Abu Bakar meminta izin kepada Rasul untuk berdakwah secara terang-terangan. Nabi Muhammad SAW awalnya tidak setuju karena jumlah mereka masih sedikit. Abu Bakar terus meminta izin, akhirnya Rasul SAW mengizinkannya. Abu Bakar berkhotbah di Masjidil Haram agar masyarakat masuk Islam. Sekonyong-konyong kaum musyrikin mengeroyok Abu Bakar dan kaum Muslimin. Utbah bin Rabi’ah memukulnya dengan sandal dan tangan, ia juga menendang dan menginjak tubuh Abu Bakar. Wajah beliau pun bersimbah darah. Hampir-hampir hidung Abu Bakar rata dengan wajahnya. Beliau pun pingsan dan digotong pulang oleh kerabatnya. Abu Bakar dalam keadaan koma, para kerabatnya dari Bani Taim–meskipun belum masuk Islam—mereka marah. Mereka segera mendatangi Ka’bah dan mengumumkan, “Jika dalam peristiwa ini Abu Bakar meninggal maka kami akan membunuh Utbah bin Rabi’ah.”
Ibu dan anggota keluarganya cemas setelah sekian lama barulah Abu Bakar menyadarkan diri. Kata-kata pertama yang keluar dari lisannya, “Bagaimana keadaan Rasulullah SAW?” Ibu Abu Bakar cemas sekali kalau-kalau Abu Bakar meninggal. Abu Bakar bertanya lagi kepada sang ibu, “Bagaimana keadaan Rasulullah SAW?” Ibunya menjawab, “Ibu tidak tahu bagaimana keadaan temanmu itu.”
Abu bakar berkata, “Tolong ibu tanyakan kepada Fathimah binti Khaththab.” Ibunya segera pergi ke rumah Fathimah binti Khathab dan ia segera menjenguk Abu Bakar. Abu Bakar bertanya kepada Fathimah bagaimana keadaan Rasulullah SAW. Fathimah ragu menjawab karena ada ibu Abu Bakar di sampingnya yang belum masuk Islam. Abu Bakar mengatakan jangan khawatir karena beliau aman. Fathimah menjawab bahwa Rasul baik-baik saja. Abu Bakar bertanya lagi, “Di mana Beliau sekarang?” Umu Jamil menjawab, “Sekarang ada di Darul Arqam.” Abu Bakar ingin menemui Nabi SAW. Ibunya menginginkan Abu Bakar makan dan minum untuk menguatkan badannya dan agar sakitnya tidak semakin parah. Namun, Abu Bakar bersumpah tidak akan makan dan minum sampai berjumpa langsung dengan Rasulullah SAW. Ibunya menyerah melihat kemauan keras anaknya. Setelah keadaan sudah aman, akhirnya ibu Abu Bakar dan Fathimah mengantarkan Abu Bakar berjumpa Rasul di Darul Arqam. Abu Bakar gembira melihat Rasulullah SAW selamat dan segera menghampiri untuk memeluk Nabi. Nabi yang memandang Abu Bakar dengan sedih segera dihibur oleh Abu Bakar bahwa lukanya tidak parah. Abu Bakar tidak ingin Rasul cemas memikirkannya. Abu Bakar memohon kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, tolong dakwahi ibu saya, ia sangat baik kepada anaknya. Doakan ibu saya agar Allah mengaruniakannya hidayah dengan masuk Islam semoga bisa selamat dari azab api neraka.” Rasulullah SAW mendakwahi ibu Abu Bakar, Umul Khair, dan mendoakannya agar masuk Islam. Alhamdulillah, Allah lapangkan dada Umul Khair yang langsung mengikrarkan dua kalimat syahadat masuk Islam. Faidah dari kisah di atas, yakni likulli mihnatin minhatun (setiap musibah diakhiri dengan karunia). Ibu Abu Bakar akhirnya masuk Islam. Selain itu, karena peristiwa penyerangan kaum musyrikin terhadap kaum Muslimin di Masjidil Haram menyebabkan Hamzah paman Nabi masuk Islam. Beberapa hari setelah kejadian pemukulan terhadap Abu Bakar, Umar bin Khathab pun masuk Islam.

Oleh: Fariq Gasim Anuz

Hikmah Sudahkah Hari Ini Membaca Alquran ?

anak-anak-membaca-alquran-_140810122138-526

SubhanAllah walhamdulillah ketahuilah sahabatku bahwa :
setiap huruf Alquran itu mu’zijat,
setiap hurufnya ridha Allah,
setiap hurufnya rahmat Allah,
setiap hurufnya ampunan dosa,
setiap hurufnya dijaga Malaikat,
setiap hurufnya nur cahaya,
setiap hurufnya hidayah,
setiap hurufnya barkah Allah,
setiap hurufnya “syifaaun” obat penyakit jasmani,
setiap hurufnya obat penyakit rohani,
setiap hurufnya sepuluh kebaikan,
setiap hurufnya membuat doa mustajab,
setiap hurufnya penenang hati,
setiap hurufnya menjadi penerang kubur,
setiap hurufnya syafaat di akhirat kelak.

Sudahkah sahabatku hari ini membaca Alquran ? Alhamdulillah, Arifin membiasakan sejak diajarkan di pesantren membacanya waktu Fajar, setelah Magrib, dan nanti malam sebelum rehat. Sungguh tiada kebahagiaan hidup dunia sebentar ini kecuali selalu terus asyik berinteraksi dengan Alquran, seakan Allah bicara langsung membimbing kita. “Sungguh tiada yang merasakan indahnya, bahagianya hidup bersama Alqur’an kecuali mereka yang sudah tenggelam hanyut merasakannya krn membaca dan mengamalkannya” (Sayyid Qutub). Subahnallah sahabatku jangan sedih kalau membacanya masih terbata-bata. Sungguh berita gembira dari Rasulullah, “Orang yang mahir berinteraksi dengan Alquran akan bersama para malaikat yang mulia dan taat, sedangkan yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata dan ia merasa sulit, ia mendapatkan dua pahala” (HR. Muslim). Allahuma ya Allah rahmatilah hidup kami dengan Alquran, dan jadikanlah Alquran itu imam, cahaya, hidayah, dan rahmat untuk kami dan keluarga kami…aamiin.

Oleh: KH Muhammad Arifin Ilham

Ini Figur Muslim yang Cerdas Menurut Rasulullah

kematian-ilustrasi-_140518234229-612Rasanya terlalu cepat ketika kematian datang tiba-tiba kepada anak, istri, orang tua, dan keluarga. Tak ada yang pernah menginginkannya. Kalau mungkin meminta, nanti sajalah ketika semua nafsu duniawi telah terpenuhi. Begitulah keinginan manusia, namun dapat berbeda dengan ketetapan Sang Pencipta. Dalam Alquran surah Ali Imran ayat 145, Allah SWT berfirman, “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya.” Dengan demikian, kehidupan dan kematian telah ditetapkan oleh-Nya. Hanya saja apabila kelahiran selalu dirayakan dengan penuh kebahagiaan, kematian selalu diiringi tangis kesedihan. Bukan sehari dua hari, berbulan, atau bahkan bertahun-tahun. Pada 18 Januari 2015 lalu, penulis merasakan kepedihan itu ketika anak laki-laki pertama yang berusia sembilan tahun dipanggil terlebih dahulu oleh pemilik sejatinya. Sudah dua minggu lebih sedih itu masih menggelayuti jiwa. Jangankan kita manusia biasa, Rasulullah SAW sempat menitikkan air mata saat istri tercinta, Siti Khodijah, meninggal. Ketika paman terkasih yang melindunginya, Abu Tholib, meninggal saat perjuangan menegakkan Islam masih berat, Baginda Rasul pun sangat bersedih. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW, bersedih itu boleh, tapi sewajarnya saja. Jangan meratapi terus-menerus sehingga semangat hidup hilang dan berputus asa. Ingatlah, bukan hanya harus beriman kepada Allah, malaikat, kitab, Rasul, dan hari pembalasan, melainkan kita juga harus beriman kepada ketetapan untuk setiap makhluk-Nya (qada/ qadar). Kekuatan imanlah yang menguatkan dan mengingatkan bahwa semua yang ada dalam kehidupan dunia ini hanyalah titipan. Amanah Tuhan, yang kapan saja bila Dia berkehendak, akan diambilnya. Keikhlasan dan kesabaran menjalaninya sebagai obat terbaik. Kemarahan, mencari-cari alasan, berandai-andai kita bisa menyelamatkan diri dari kematian, hanyalah pintu setan untuk menanggalkan iman.
Ini soal antrean saja, bisa lebih dahulu anak, istri, suami, orang tua, dan orang terkasih kita lainnya. “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS an-Nisa [4]:78). Kematian sangatlah menakutkan bagi mereka yang banyak dosa. Dalam Alquran surah al-Jumu’ah ayat 7 dinyatakan, “Mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim.” Tapi bagi orang beriman, kematian sangatlah membahagiakan karena pintu terbuka untuk bertemu Yang Maha Penyayang. Bagi yang ditinggalkan terlalu banyak hikmah dan hidayah dari-Nya apabila kita sanggup menangkapnya. Ketika ikhlas menghiasi jiwa, petunjuk Tuhan akan dengan mudah diterima. Kekuatan jiwa untuk menerima ujian semakin meningkat dan kualitas ibadah akan semakin baik. Berserah diri kepada Allah dan jadilah manusia cerdas sebagaimana diingatkan oleh Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas ra, “Bahwa malaikat maut memperhatikan wajah manusia di muka bumi ini 70 kali dalam sehari. Ketika Izrail datang memperhatikan wajah manusia, didapati orang tersebut sedang bergelak tawa. Maka berkata Izrail, ‘Alangkah herannya aku melihat orang ini, padahal aku diutus oleh Allah SWT untuk mencabut nyawanya kapan saja, tetapi dia masih terlihat bodoh dan bergelak tawa.” Seorang sahabat pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling cerdas?” Rasulullah lalu menjawab, “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian, itulah orang yang paling cerdas (HR Ibnu Majah, Thabrani dan Al Haitsami). Wallahu’alam.

Oleh: Iu Rusliana

Apa Makna Nur yang Dibahas Alquran?

141003171954-615Nur yang dalam bahasa Arab diartikan dengan cahaya dan disebut dalam Alquran sebanyak 43 kali. Bahkan, surah ke-24 juga diberi nama dengan an-Nur. Begitu banyaknya Alquran membahas tentang eksistensi nur. Lantas sedalam apakah makna nur yang dibahas Alquran? Eksistensi dan urgensi kalimat nur tentu tak hanya sebatas didefenisikan dengan cahaya saja. Secara etimologis, cahaya adalah sesuatu yang menyinari suatu objek sehingga objek tersebut menjadi jelas dan terang. Menurut pakar tata bahasa Arab Ibrahim Anis dalam al-Mujam al-Wasth, nur adalah cahaya yang menyebabkan mata dapat melihat. Sementara itu, Muhammad Mahmud Hijazi, seorang ahli tasawuf mengatakan, nur adalah cahaya yang tertangkap oleh indra dan dengannya mata dapat melihat sesuatu. Selanjutnya pengertian ini berkembang dengan makna petunjuk dan nalar. Penulis Tafsir al-Mizan as-Sayyid Muhammad Husein at-Tabataba’i menjelaskan, pengertian awal dari kata nur adalah sesuatu yang tampak dengan sendirinya. Selanjutnya, hal ini juga menyebabkan hal lainnya yang bersifat sensual (naluriah, implisit) menjadi tampak. Definisi ini berkembang lebih luas, yaitu setiap alat indera dipandang sebagai nur atau mempunyai nur, dan dengannya hal-hal yang sensual dapat terlihat. Selanjutnya, pengertian ini berkembang lagi hingga mencakup yang nonsensual, termasuk akal juga dikatakan sebagai nur karena ia dapat menyingkap hal-hal yang abstrak. Ibnu Sina (980-1037) pernah ditanya tentang pengertian nur pada surah an-Nur ayat 35. Ia menjawab, kata nur mengandung dua makna, yaitu esensial dan metaforis. Adapun yang esensial berarti kesempurnaan keheningan karena nur itu pada dirinya bersifat bening. Sedangkan makna metaforis harus dipahami dengan dua cara, yaitu sebagai sesuatu yang bersifat baik atau sebagai sebab yang mengarahkan kepada yang baik. Sedangkan, pakar tafsir al-Isfahani membagi pengertian nur ke dalam arti material (duniawi) dan arti spiritual (ukhrawi). Nur dalam arti material adalah cahaya yang dapat dilihat dan ditangkap di dunia. Arti material ini dibedakan lagi menjadi dua, yaitu arti abstrak dan arti konkret. Arti abstrak berarti cahaya yang hanya dapat ditangkap oleh mata hati (basirah). Kedua, arti konkret atau sensual (makhsus) merupakan cahaya yang dapat ditanggap oleh mata kepala. Sedangkan nur dalam arti spiritual ialah cahaya yang akan dilihat di akhirat kelak. Dalam Alquran, kata nur paling tidak memiliki arti dalam tiga kemungkinan.

Pertama, cahaya itu sendiri. Hal ini seperti terdapat dalam surah Yunus ayat 5, “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan memiliki nur (bercahaya). Dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya”.

Kedua, bermakna petunjuk. Hal ini seperti yang terdapat dalam surah al-Hadid ayat 9, “Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Alquran) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada nur (cahaya)”.

Ketiga, bermakna Alquran. Hal ini seperti yang terdapat dalam surah at-Tagabun ayat 8, “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Alquran) yang telah Kami turunkan”. Makna dasar kata nur sebenarnya adalah petunjuk karena nur dalam arti cahaya itu sendiri petunjuk. Sedangkan Alquran berfungsi sebagai petunjuk bagi orang yang tersesat atau orang yang sedang mencari kebenaran. Nabi Muhammad SAW disebut juga nur karena Beliau diyakini sebagai orang yang membawa petunjuk atau menunjukkan jalan yang benar. Al-Gazali dalam kitabnya Misykat al-Anwar mengatakan, kedudukan Alquran bagi mata akal sama seperti kedudukan cahaya matahari bagi mata lahiriah. Sebab, hanya dengan itulah sempurna penglihatan. Dengan itu pula Alquran lebih patut menyandang nama nur sebagaimana sinar matahari biasa dinamakan cahaya. Menurut al-Gazali, hakikat nur yang sebenarnya hanyalah Allah SWT, sedangkan sebutan cahaya bagi selain Dia hanyalah kiasan, tak ada wujud sebenarnya. Karena itu, al-Gazali membedakan makna nur pada pengertian di kalangan orang awam dan kalangan orang khusus. Nur dalam pengertian orang awam merujuk kepada sesuatu yang tampak. Sedangkan ketampakan itu adalah sesuatu yang nisbi. Adakalanya sesuatu tampak dengan pasti bagi suatu pandangan pada saat ia bersembunyi bagi pandangan lainnya. Cahaya adalah sebutan sesuatu yang tampak dengan sendirinya ataupun yang membuat tampak benda lainnya. Nur dalam pengertian orang khusus adalah jiwa yang melihat. Rahasia cahaya adalah kenampakannya bagi suatu daya cerap. Akan tetapi, pencerapan tidak hanya bergantung pada adanya cahaya, tetapi juga pada adanya mata yang memiliki daya lihat. Meskipun cahaya disebut sebagai sesuatu yang tampak dan menampakkan sesuatu, tidak ada suatu cahaya tidak ada suatu cahaya yang tampak dan menampakkan sesuatu bagi orang buta. Di kalangan kaum sufi istilah nur biasanya dinisbahkan dengan Muhammad SAW sehingga menjadi ungkapan Nur Muhammad atau Halaqah Muhammadiyah. Konsep Nur Muhammad pertama kali dibawakan oleh al-Hallaj (858-922). Teori tentang adanya nur atau Nur Muhammad ini berdalil dengan penafsiran surah an-Nur ayat 35 yang menyebutkan, “Allah adalah cahaya langit dan bumi”. Kata nur pada ayat ini ditafsirkan dengan Nur Muhammad. Allahu A’lam.

Oleh: Hafidz Muftisany

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.