Kemuliaan Penuntut Ilmu

pemimpin-yang-berilmu-ilustrasi-_151214161912-903Dari Abu Hurairah RA, dia berkata: Rasulallah SAW bersabda, “Tidaklah orang yang meniti di jalan untuk menuntut ilmu kecuali Allah akan memudahkan jalannya menuju surga, sedangkan orang yang memperlambat dalam mengamalkannya, maka tidak akan cepat mendapatkan nasabnya (keberuntungan).” (HR Abu Daud).

Kemudian, dari Katsir bin Qaiz, Abu-Ad Darda lalu berkata, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa berjalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memperpanjangkannya di antara jalan-jalan yang ada di surga, sedangkan malaikat akan meletakkan sayapnya (memberikan doa) karena senang dengan para penuntut ilmu’.” Seluruh penghuni langit serta bumi dan ikan-ikan di dasar laut akan memintakan ampunan kepada orang yang mempunyai ilmu pengetahuan. Kelebihan dan keutamaan orang yang mempunyai ilmu pengetahuan atas ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan pada malam purnama atas bintang-bintang di sekitarnya. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi dan para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, tetapi mewariskan ilmu pengetahuan. Barang siapa mengambilnya berarti telah mengambil bagian yang banyak (HR Abu Daud). Hadis di atas menggambarkan terdapat keutamaan ahli ilmu (ulama).

Pertama, bermanfaat buat orang lain.
Seseorang yang mempunyai ilmu pengetahuan dapat membuat inovasi terbaru berupa karya. Sedangkan karya-karyanya berguna untuk kepentingan orang lain dan menyelesaikan masalah kehidupan. Misalkan, inovasi pertanian seperti perbenihan. Ahli ilmu yang bisa melakukan rekayasa terhadap genetik benih sehingga tanaman tidak mati terkena banjir dan kekeringan. Inovasi tersebut berguna untuk masyarakat secara luas. Sedangkan sebaikbaiknya umat adalah yang bermanfaat untuk orang lain.

Kedua, terhindar dari kebodohan. Mengurungkan niat untuk menuntut ilmu maka bersiap maraknya kebodohan. Islam menyuruh umatnya untuk menuntut ilmu agar meningkat pengetahuannya dan bisa mengarungi kehidupan di dunia, sehingga mudah mempertanggungjawabkan di akhirat.

Ketiga, ahli ibadah. Seseorang mempunyai ilmu pengetahuan termasuk ahli ibadah. Saat dia menyebarkan ilmu itu kepada orang lain dan terhindar dari kebodohan maka sudah mengalir pahala untuknya. Negeri ini pasti jaya dan sejahtera kalau benar seseorang yang sudah memiliki ilmu kemudian menerapkan ilmunya. Sedangkan, menyembunyikan ilmu dari orang lain padahal mengetahui, maka dia tidak akan mewariskan ilmu itu kepada orang lain. Jumlah orang pandai akhirnya tidak bertambah karena menyembunyikan ilmu.

Keempat, pejuang hebat. Ahli ilmu termasuk pejuang. Mempelajari sebuah ilmu butuh waktu, konsistensi, pengamatan dan analisis, serta sampai kepada percobaanpercobaan. Di samping itu, penuntut ilmu jangan menjadi pencuri ilmu pengetahuan. Sebutkanlah siapa pemilik asli dari ilmu itu. Ada nilai etika yang harus dipahami oleh orang yang sedang berjuang untuk mendapat ilmu.

Oleh: Bahagia

Menjilbabi Semua Bulan

Ramadhan aromanya sudah mulai tercium. Dan sebentar lagi kita akan disuguhkan pemandangan yang mendadak banyak berwajah soleh dan solehah. Kaum Adamnya berpeci dan berbaju takwa, sementara kaum Hawanya anggun berbungkus jilbab. Harapan kita semoga kesalehan itu terus terlestari seterusnya. Tidak hanya nanti di bulan Ramadhan, tapi juga dimulai sekarang dan berikutnya setelah Ramadhan. Terkhusus tentang jilbab, rasanya sudah banyak dalil-dalil disebutkan para ustaz kita. Tinggal kini cecapkan dengan iman, semua anjuran agama itu agar hidup dan menghidupkan dalam keseharian para Muslimah kita. Jangan lupa, tujuan seorang mukmin adalah keridhaan Allah, at-thoo’ah babur ridha. Sehingga rasanya tidak nyaman menyebut dirinya beriman kepada Allah, tapi tidak taat dengan perintah-Nya. Jilbab adalah perintah Allah. “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh  tubuh mereka.” (QS al-Ahzab [33]: 59).

Nabi SAW pernah menegur Asma binti Abu Bakar. “Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah haid tidak boleh baginya menampakkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja,” (Muttafaq ‘Alaih). Teguran hikmah ini tentu adalah juga sentilan untuk para akhwat kita yang sudah haid tapi masih membuka rambut dan hal lain selain tangan dan wajah. Hal yang pasti, kita semua ingin selamat di akhirat. Sungguh siksa pedih bagi mereka yang membuka auratnya. “… Para wanita yang berpakaian tapi telanjang (tipis atau tidak menutup seluruh aurat), berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya,” (HR Abu Daud). Rasanya kita tidak mau, atas semua amal ibadah yang kita lakukan ternyata saat dihisab semua menguap dan tidak berbekas. Amal ibadahnya tidak diterima. Mereka yang tidak menutup auratnya maka keadaan shalatnya tidak diterima oleh Allah SWT. Sayang dan tentu sangat disayangkan. “Tidak diterima shalat perempuan yang sudah haid (balighah) kecuali dengan menutup auratnya.” (HR Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majjah). Ala kulli hal, kita ingin semuanya terjaga. Bukankah kesalehan yang diteruskan dengan tidak mengenal waktu dan tempat akan menjadikan dirinya terselamatkan dari semua tipu daya setan dan tarikan dunia. Saat dirinya terus mengikatkan dengan syariat Allah maka saat itulah dirinya menjadi pembeda dari yang lain, yang masih setengah dalam keimanannya. Ada syiar kebaikan dan keterjagaan pada dirinya. (QS al-Ahzab [33]: 59). Biarkan auratmu hanya untuk yang Allah halalkan.

Oleh: Muhammad Arifin Ilham

Mengapa Tak Dilakukan?

shalat-tahajud-ilustrasi-_160401103957-433Kita sudah memahami betapa mulianya bangun di akhir malam untuk mendekat kepada-Nya, bermunajat dalam shalat Lail, mengiba memohon ampunan atas tak terhingganya maksiat yang kita lakukan, membaca kalam suci-Nya dengan penuh penghayatan, dan juga memohon segala kebaikan dari-Nya. Lantas, setelah mengetahui semua ini, mengapa tidak kita lakukan dengan rutin? Kita mengerti bahwa shalat 5 waktu, keutamaannya yang paling utama bagi laki-laki, terletak pada jamaah di masjid pada awal waktu. Mengapa shalat jamaah yang sangat banyak keutamaannya ini tidak selalu kita buru?

Kita mengetahui bahwa puasa memiliki keistimewaan derajat di sisi-Nya, sehingga Dia berfirman dalam hadis qudsi, “Puasa itu untuk-Ku, dan Akulah yang memberikan balasan puasa itu”. Lantas, mengapa tidak kita tambah keistimewaan itu di luar Ramadhan? Padahal Rasulullah mencontohkan dengan puasa senin kamisnya, dan hari-hari lainnya. Kita juga memiliki ilmu bahwa yang disesali para mayit di kuburnya adalah kurangnya sedekah, hingga mereka berandai, jika mendapatkan penundaan kematian beberapa waktu, niscaya akan bersedekah dan termasuk ke dalam orang-orang saleh. Lalu, apa yang menghalangi kita untuk memperbanyak sedekah kita? Mengapa tidak kita lakukan dengan penuh kesadaran dan kegembiraan? Kita pun tahu, bahwa bacaan Alquran itu, kelak menjadi syafaat kita di hadapan Allah Ta’ala. Mengapa tidak kita perbanyak tilawah kita? Mengapa pula tidak kita perbanyak hafalan kita, agar di dada ini semakin banyak tersimpan kalam suci-Nya? Mengapa pula telinga ini hanya sedikit mendengar lantunan keindahan bait-baitnya? Kita juga sudah mengetahui keutamaan menjaga amarah. Allah akan menahan siksa-Nya, bagi orang-orang yang mampu menahan amarahnya dan mengendalikan emosinya. Lantas, mengapa kita justru berbuat sebaliknya? Mengapa tidak kita paksa emosi ini agar mengarah kepada ridha-Nya? Setiap kita mendapat karunia 1.440 menit dalam sehari semalam. Berapa menitkah setiap harinya yang kita sia-siakan untuk perkara yang tidak bermanfaat? Mengapa tidak kita catat kekufuran kita setiap hari dalam menyia-nyiakan menit-menit itu? Menit menjadi jam, jam menjadi hari, hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan, dan bulan pun menjadi tahun. Jangan-jangan, sudah bertahun-tahun dari nikmat usia kita saat ini, jika diakumulasi, telah kita sia-siakan. Mengapa itu tidak kita mohonkan ampunan? Dan mengapa pula tidak segera kita ubah pola hidup yang menyia-nyiakan sebagian menit-menit kita itu?  Hidup adalah nikmat. Namun hidup adalah juga amanat. Belum tibakah saatnya bagi orang-orang yang beriman, untuk selalu tunduk dan patuh dalam totalitas penghambaan kepada-Nya? Ya Allah, sungguh kami ini lemah, maka kuatkanlah kami. Dan sungguh kami ini hina, maka muliakanlah kami. Amin.

Oleh: Abdul Rosyid

Puasa dan Kedermawanan

ramadhan-adalah-ajang-melatih-kedermawanan-_140618190750-350Anas bin Malik berkata, “Rasulullah SAW adalah orang yang paling baik, paling dermawan (murah tangan), dan paling pemberani.” (HR Ahmad). Puasa Ramadhan mendidik seseorang untuk menjadi pribadi yang dermawan atau murah tangan, suka bersedekah, memberikan sebagian harta yang dimiliki kepada orang lain yang membutuhkan. Rasulullah SAW, seperti dikatakan pada hadis di atas adalah seorang pribadi yang dermawan. Dalam hadis lain secara tegas dikatakan bahwa Rasulullah SAW adalah sosok paling dermawan terutama pada bulan Ramadan. Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah adalah orang yang paling dermawan dalam hal kebaikan. Beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan.” (HR Muslim). Lebih lanjut dikatakan dalam hadis tersebut, “Beliau adalah orang yang paling dermawan dalam hal kebaikan melebihi angin yang berembus.” (HR Muslim). Selain itu, orang yang dermawan, seperti dikatakan dalam Alquran, adalah salah satu dari tanda orang bertakwa yang mendapat petunjuk dari Allah dan akan memperoleh keberuntungan di akhirat kelak. Allah SWT berfirman,Alif Lam Mim. Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Alquran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Al-Baqarah [2]: 1-5).

Allah SWT sangat suka dengan orang yang dermawan dan dekat dengannya. Tidak hanya itu, orang dermawan juga dekat dengan orang-orang dan surga. Dalam hadis disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, “Maafkanlah kesalahan orang yang dermawan. Sesungguhnya Allah menuntun tangannya jika dia terpeleset (jatuh). Seorang pemurah hati dekat kepada Allah, dekat kepada manusia dan dekat kepada surga.” (HR Ath-Thabrani).
Lebih lanjut bahkan dikatakan bahwa Allah SWT lebih menyukai orang yang tidak pintar tetapi dermawan daripada orang pintar dan alim (rajin beribadah) tetapi kikir. Rasulullah bersabda, “Seorang yang bodoh tapi dermawan lebih disukai Allah daripada seorang alim (tekun beribadah) tapi kikir.” (HR. Ath-Thabrani). Bulan Ramadan adalah bulan mulia yang penuh berkah. Segala amal ibadah, baik yang sifatnya ritual seperti shalat, iktikaf, membaca Alquran, berdoa dan berzikir, maupun amal sosial seperti bersedekah, menolong dan membantu orang yang kesulitan, pahalanya akan dilipatandakan. Ibadah ritual sudah jelas, itulah bentuk pengabdian seseorang kepada Allah. Adapun ibadah sosial berkaitan dengan aspek dengan manusia lain di sekitar. Dengan menjadi pribadi yang dermawan seperti Rasulullah, terutama pada bulan Ramadhan, ia berarti tengah mendekatkan diri kepada Allah, kepada sesama manusia, dan ujungnya adalah mendapatkan surga. Wallahu a’lam.

Oleh: Nur Faridah

Keutamaan Memberi Makan

roti-bakar-_160215083319-409Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dalam sahihnya tentang kisah seorang ahli ibadah dari Bani Israil yang telah menghambakan dirinya kepada Allah selama 60 tahun lebih. Pada suatu hari, ahli ibadah itu keluar dari peribadatannya, secara tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang cantik jelita. Wanita itu merayunya sehingga ia lupa diri, lalu berzina dengannya. Setelah berzina, muncullah penyesalan mendalam pada diri sang ahli ibadah. Ia menangis hebat hingga akhirnya pingsan. Ketika sadar, ia masih juga menyesali perbuatannya. Di tengah tangis pilunya, datanglah seorang pengemis lapar meminta belas kasihan. Kebetulan, di tangannya ada dua potong roti, lalu disedekahkan kepada pengemis itu. Nafsu makan ahli ibadah itu hilang sama sekali dikalahkan penyesalannya yang mendalam. Di tengah kepiluan itu, akhirnya ia pun meninggal.

Di akhirat, ternyata amal ibadahnya selama 60 tahun masih lebih ringan dibanding dengan satu perbuatan keji yang telanjur dilakukannya. Kemudian, setelah kebaikannya berupa sedekah dua potong roti itu diikutsertakan, menjadi beratlah amal kebaikannya. Maka, dia pun diampuni. Saudaraku, demikianlah adanya. Ibadah demi ibadah kita tidak cukup untuk meraih surga-Nya Allah. Shalat, zikir, tilawah, puasa, bahkan haji sekalipun belum tentu menjamin keselamatan kita di akhirat nanti. Apalagi, maksiat demi maksiat kita tak kunjung berhenti. Jangan kira ibadah lahiriah kita sudah pasti memasukkan kita ke surga. Ibadah ritual kita yang sifatnya pribadi tidak lengkap tanpa diiringi dengan amal sosial kita. Seperti kisah di atas, tabungan beribadah 60 tahun saja masih kalah dibanding satu perbuatan khilaf. Mengapa? Karena, perbuatan itu adalah zina. Zina adalah dosa besar. Untung saja, sebelum nyawa berpisah dengan raganya, sang ahli ibadah masih sempat memberi dua potong roti kepada seorang pengemis. Dengan itu, dia diampuni.
Memberi makan orang lain adalah amal sosial yang mulia. Mengenyangkan orang lain merupakan amal yang sangat dianjurkan Islam.  “Siapa pun mukmin memberi makan mukmin yang kelaparan, pada hari Kiamat nanti Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan surga. Siapa pun mukmin yang memberi minum mukmin yang kehausan, pada hari kiamat nanti Allah akan memberinya minum dari minuman surga. Siapa pun mukmin yang memberi pakaian mukmin lainnya supaya tidak telanjang, pada hari kiamat nanti Allah akan memberinya pakaian dari perhiasan surga.” (HR Tirmizi). Dalam hadis lain diriwayatkan bahwa orang yang gemar memberi makan orang lain disediakan baginya pintu khusus di surga yang tidak ada yang boleh memasukinya selain dirinya dan semisal dengannya (HR Thabrani). Gemar memberi makan orang lain kelak akan memperoleh naungan pada hari perhitungan. “Tiga pekara siapa pun yang ada padanya, kelak akan dinaungi oleh Allah di bawah arsy-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Yaitu, berwudhu pada waktu cuaca dingin, mendatangi masjid meskipun gelap, dan memberi makan orang yang kelaparan.” (HR Abu Muslim al-Ashbahani). Memberi makanorang yang kelaparan termasuk amalan yang dapat menghapus dosa-dosa, mengundang turunnya rahmat, dan menyebabkan diterimanya tobat. Mencukupkan diri dengan ritual-ritual yang bersifat individual belum cukup. Orang yang beriman harus melengkapi dirinya dengan amal-amal sosial. Nabi SAW bersabda, “Tidak (sempurna) iman orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan.” (HR al-Baihaqi). Alangkah indahnya jika kita memahami ajaran Islam ini secara utuh. Bahwa Islam bukan ajaran individualis, melainkan ajaran yang mengedepankan distribusi kebaikan kepada orang banyak. Orang yang beriman harus hadir membantu saudaranya yang kesulitan. Bukan semata atas dasar kemanusiaan, melainkan itulah tuntutan keimanan.

Oleh: TGH Habib Ziadi

Sabda Rasulullah Soal Usia ke-40

buang-waktu-ilustrasi-_150312215228-633Ali bin Ali Thalib berkata, ”Alangkah cepatnya jam demi jam dalam satu hari, alangkah cepatnya hari demi hari dalam satu bulan, alangkah cepatnya bulan demi bulan dalam setahun, alangkah cepatnya tahun demi tahun dalam umur manusia.” Dalam hidup manusia terdapat tonggak-tonggak umur yang sangat penting, di antaranya umur empat puluh tahun sebagaimana tertera dalam Alquran (Al-Ahqaf: 15–16). Nabi Muhammad SAW juga mengilustrasikan dalam sebuah hadisnya, ”Bila seseorang sudah mencapai usia empat puluh tahun, lalu kebaikannya tidak mengatasi kejelekannya, setan mencium di antara kedua matanya dan berkata, ‘inilah manusia yang tidak beruntung’. ” Dalam riwayat lain, Nabi bersabda, ”Barang siapa umurnya sudah melebihi empat puluh tahun sedang kebaikannya tidak lebih banyak dari kejelekannya, hendaklah ia mempersiapkan keberangkatannya ke neraka.” Dari dua hadis tersebut di atas, Nabi SAW menganjurkan umatnya untuk memeriksa amal perbuatannya setiap kali menyadari umurnya kian bertambah. Dengan demikian, umur merupakan aset sekaligus pertanggungjawaban. Kita bisa beruntung dan celaka dengan umur panjang kita. Semuanya bergantung pada amal yang kita perbuat. Syahdan, menurut beberapa riwayat, sebelum Rasulullah SAW mengembuskan nafas terakhirnya, beliau mengatakan, ”Ummati, ummati, ummati,” dengan lirih dan sendu. Kata ummati yang diungkapkan beliau itu sinonim dari kata komunitas atau masyarakat yang menurut Chairil Anwar dalam salah satu puisinya adalah laksana lautan, terkadang bergelombang dan bergolak yang melambangkan keteguhan dan keperkasaan seakan siap menelan dan menghantam semua yang dihadapi. Di lain waktu, ia laksana hamparan biru permadani yang menggambarkan ketenangan dan kedamaian. Namun, laut juga bisa diibaratkan sebagai “tong sampah”, tempat pembuangan segala macam kotoran, sampah, limbah, dan sebagainya. Konteks yang diungkap Rasulullah tersebut merupakan refleksi dari pertanyaan siapakah di antara kita yang semangat imannya terus bergelombang seiring dengan pertambahan umurnya? Siapa pula yang tetap tenang dan tenteram meski cobaan datang bertubi-tubi? Siapakah di antara kita yang justru tidak memanfaatkan sisa umur ini dalam kebaikan dan keimanan? Orang semacam inilah bak tong sampah, tempat pembuangan kotoran sosial maupun kultural. Toh, umur ditentukan oleh mutunya, bukan panjangnya. Rasulullah menyimpulkannya dalam dua kalimat, ”Manusia paling baik ialah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya. Manusia paling buruk ialah yang panjang umurnya dan buruk amalnya.”

Oleh: Ahmad Fatoni

Manusia Pengembara

rezeki-ilustrasi-_140430165546-136Suatu hari, Rasulallah SAW memegang pundak Abdullah bin Umar. Rasulullah SAW kemudian berpesan, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pengembara.”  Rupanya, putra Umar bin Khattab itu sangat terkesan dengan ucapan singkat Rasulallah SAW hingga dia berkata, antara lain, “Jaga nikmat hidupmu sebelum ajal menjemputmu.” Demikian pula seharusnya kita. Bukankah setiap capaian dunia hanyalah halte demi halte untuk sampai pada terminal akhir kehidupan yaitu kematian. Pada hakikatnya, manusia memang hanya musafir, hingga Ibnul Qayyim, ulama besar abad ke-12 Masehi berkata, “Manusia sejak tercipta dilahirkan untuk menjadi pengembara.” Sifat pengembara dalam diri manusia merupakan sebuah keniscayaan kehidupan sebagaimana diungkap Imam Syafii, “Bahkan seekor singa tidak akan pandai memangsa jika tidak hidup di hamparan bumi yang luas, dan anak panah tak akan menemui sasarannya bila tak pernah dilepaskan dari busurnya.” Sayangnya, sifat pengembaraan manusia sering membuatnya alfa dalam pengembaraannya di padang safana kehidupan. Manusia menjadi rakus dalam berburu rezeki. Manusia berpikir, rezeki adalah uang. Padahal, sebuah cinta dari seorang istri pun adalah rezeki. Bukankah Rasulallah SAW menyebut cinta Khadijah dengan berkata, “Aku telah diberi rezeki dengan cintanya.”  Seringkali manusia tak pandai bersyukur atas karunia rezeki yang melimpah. Padahal, Allah SWT berjanji untuk memberi lebih jika seorang hamba pandai bersyukur.

Karena itulah, Ibnul Qayyim berkata, “Andai seorang hamba mendapat rezeki dunia dan seluruh isinya, kemudian dia bekata, “alhamdulillah,” niscaya pemberian Allah padanya dengan ucapan hamdallah itu akan lebih besar dari seluruh dunia dan seisinya. Mengapa? Sebab, segala kenikmatan dunia akan berakhir sementara pahala atas ucapan tahmid itu kekal hingga hari akhir. Manusia memang sering mengalami krisis keyakinan soal rezeki. Krisis itulah yang menghantarkan manusia menjadi serakah, korup, manipulatif dan merampas hak-hak orang lain. Ulama mengatakan ada tiga konsep rezeki. Rezki yang telah dijamin (rizqul makful), rezeki yang dibagikan (rizqul maqsum) dan rezeki yang dijanjikan (rizqul maw’ud). Konsep rezeki pertama seperti udara yang kita hirup, angin yang berhembus, dan kenikmatan lainnya yang Allah SWT berikan tanpa usaha manusia. Pada dua konsep rezeki lainnya, manusia harus berusaha, tentu dengan cara yang halal. Itulah sebabnya Rasulallah SAW berkata, “Mencari rezeki yang halal adalah (bersifat) wajib setelah kewajiban agama (seperti shalat dan puasa).” Setelah segala kenikmatan rezeki diperoleh, manusia seharusnya berbagi. Nasihat ringkas Ibnul Qayyim menarik untuk dikutip. Ia berkata, “Boleh jadi saat kau tertidur lelap, pintu-pintu langit tengah diketuk puluhan doa; dari orang miskin yang kau tolong; dari orang lapar yang kau beri makan; dari orang yang sedih dan telah kau hidupi, dari orang yang berjumpa denganmu dan kau berikan senyum. Karena itu jangan pernah meremehkan amal-amal kebaikan”. Wallahu a’lam.

Oleh: Inayatullah Hasyim