Archive for Tanya Jawab

Tawaf Wada

umat-islam-saat-melaksanakan-tawaf-di-masjidil-haram-makkah-_121023164734-255Pertanyaan:

Ustaz, mohon penjelasannya tentang tawaf wada.
Udin di Tangerang
Wassalamualaikum wr. wb

Ada satu ibadah yang tidak bisa dilakukan di masjid manapun selain Masjidil Haram. Ibadah itu adalah ibadah tawaf. Sedangkan, tawaf itu sendiri ada berbagai macam dan ragamnya.

1) Tawaf qudum, yaitu tawaf yang diperintahkan bagi orang yang tiba di Kota Makkah dan mengerjakan haji ifrad.

2) Tawaf ifadah, yaitu tawaf yang menjadi salah satu rukun haji. Siapa yang tidak mengerjakannya maka hajinya batal.

3) Tawaf umrah adalah tawaf yang dikerjakan saat seseorang mengerjakan umrah, baik umrah yang mustaqil (independen) maupun umrah yang dikerjakan saat berhaji.

4) Tawaf sunah adalah tawaf yang bisa dikerjakan kapan pun di dalam Masjidil Haram. Ia menjadi pengganti tahiyatul masjid bagi Masjidil Haram. Terakhir adalah tawaf wada atau tawaf perpisahan.

Setiap orang yang melakukan ibadah haji dan umrah diwajibkan bagi mereka untuk melakukan tawaf wada. Tawaf wada ini adalah sebuah kewajiban bagi setiap jamaah haji dan umrah saat mereka hendak meninggalkan Kota Suci Makkah.

Tawaf wada hukumnya wajib dalam mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hambali, kecuali wanita yang haid dan penduduk Makkah.

Wajibnya tawaf wada ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA yang berkata, “Setiap manusia diperintahkan untuk menjadikan saat terakhirnya di Kota Makkah di sisi Baitullah (Ka’bah), hanya perintah ini tidak ditujukan bagi wanita haid.” (HR Bukhari & Muslim).

Tawaf wada ini adalah sebuah momen yang paling berat dirasakan oleh setiap jamaah. Momen perpisahan dengan Baitullah ini membuat mereka larut dalam suasana sedih bercampur haru dengan penuh harap dan doa semoga Allah SWT memberi kesempatan bagi mereka untuk dapat datang lagi suatu saat ke Baitullah, baik untuk berhaji maupun umrah.

Seperti tawaf yang lain, tawaf wada terdiri atas tujuh putaran yang dilakukan mengelilingi Ka’bah ke arah kiri. Diawali dan disudahi di rukun Hajar Aswad.

Namun, perbedaannya adalah bahwa dalam tawaf wada tidak disunahkan melakukan shalat sunah tawaf. Seusai mengerjakan tawaf wada, setiap jamaah haji diizinkan untuk meninggalkan Baitullah dengan cara yang wajar tanpa harus berjalan mundur atau sambil menunduk.

Siapa yang tidak menjalani tawaf wada, ia wajib membayar dam sebesar satu ekor kambing, baik disengaja maupun bila terlupa. Kambing tersebut disembelih di mana saja dan dibagikan kepada kaum fakir yang membutuhkan.

Tawaf wada ini hanya diwajibkan bagi jamaah haji yang tinggal di luar Kota Makkah. Adapun jamaah haji yang tinggal di Kota Makkah, mereka tidak berkewajiban melakukan tawaf wada dan tiada kewajiban bagi mereka untuk membayar dam bila mereka tidak mengerjakannya. Wallahu a’lam.

Ustaz Bobby Herwibowo

Puasa untuk Allah

kata-allah-ilustrasi-_130118190125-533Ustaz, mengapa dalam hadis disebutkan Allah SWT menegaskan bahwa ibadah puasa untuk-Nya dan hanya Dia sendiri yang membalasnya? Bukankah semua amal ibadah kita itu untuk Allah dan Allah jugalah yang membalas semua amal ibadah kita?

Imakya di Jakarta

Waalaikumussalam wr wb.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda, ‘Setiap amalan kebaikan yang dilakukan manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat. Allah SWT berfirman, ‘Kecuali, amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. (HR Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim). Hadis di atas menjelaskan keutamaan dan kelebihan ibadah puasa dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya. Ada beberapa penjelasan ulama tentang maksud dari hadis di atas. Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari menyebutkan penjelasan ulama tentang makna hadis dan mengapa puasa diberi keutamaan ini.Di antara alasan yang paling kuat,

Pertama, ibadah puasa itu tidak terkena riya sebagaimana ibadah lainnya berpotensi terkena riya. Al-Qurtubi berkata, Ketika amalan-amalan yang lain dapat terserang penyakit riya, puasa tidak ada yang dapat mengetahui amalan tersebut, kecuali Allah, maka Allah sandarkan ibadah puasa itu kepada Diri-Nya. Karena itu, dikatakan dalam hadis, ‘Ia meninggalkan syahwatnya karena diri-Ku.’ Ibnu Al-Jauzi berkata, ‘‘Semua ibadah terlihat amalannya. Dan, sedikit sekali yang selamat dari godaan, yakni terkadang bercampur dengan sedikit riya, berbeda dengan ibadah puasa.

Kedua, maksud ungkapan Aku yang akan membalasnya, adalah bahwa pengetahuan tentang kadar pahala dan pelipatan kebaikannya hanya Allah yang mengetahuinya. Al-Qurtuby berkata, Artinya amalan ibadah lainnya telah terlihat kadar pahalanya untuk manusia. Bahwa, dia akan dilipatgandakan dari sepuluh sampai 700 kali sampai sekehendak Allah, kecuali puasa, Allah sendiri yang akan memberi pahalanya tanpa batasan.

Ketiga, makna Puasa untuk-Ku, maksudnya adalah bahwa dia termasuk ibadah yang paling Allah cintai dan paling mulia di sisi-Nya. Ibnu Abdul Bar berkata, Cukuplah ungkapan ‘puasa untuk-Ku’ menunjukkan keutamaannya dibandingkan ibadah-ibadah lainnya. Keempat, penyandaran di sini adalah penyandaran kemuliaan dan keagungan. Sebagaimana ungkapan Baitullah (rumah Allah) meskipun semua rumah milik Allah. Az-Zain bin Munayyir berkata, Pengkhususan pada teks keumuman seperti ini tidak dapat dipahami melainkan untuk pengagungan dan pemuliaan. Kemudian, Ibnu Hajar menjelaskan, makna yang paling kuat adalah makna yang pertama. Sedangkan, Ibnu Abdil Barr menjelaskan, makna ungkapan puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya adalah bahwa ibadah puasa seseorang itu tidak terlihat melalui perkataan ataupun perbuatannya karena dia merupakan amalan hati yang tidak diketahui, kecuali oleh Allah. Puasa bukan sesuatu yang terlihat sehingga bisa ditulis oleh malaikat pencatat sebagaimana ibadah-ibadah lain, seperti dzikir, shalat, sedekah, dan ibadah lainnya. Hal itu karena puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga saja tanpa adanya niat melakukannya karena Allah SWT. Dengan demikian, siapa yang tidak berniat menahan lapar dan dahaga karena Allah  maka dia bukanlah orang yang berpuasa. Hal tersebut ditegaskan dalam hadis Nabi. Puasa haruslah dilakukan dengan penuh keimanan dan hanya mengharap balasan dari Allah SWT. Karena itu, seharusnya ibadah puasa kita adalah amalan yang  paling jauh dari segala unsur riya dan pamer karena hanya Allah yang mengetahui puasa kita. Ini mendidik kita memurnikan keikhlasan hanya untuk Allah. Wallahu a’lam bish shawab.

Ustaz Bachtiar Nasir

Mengapa Warisan Untuk Anak Laki-Laki Lebih Banyak?

harta-warisan-ilustrasi-_120726203811-127Pertanyaan: Mohon penjelasannya, mengapa hak waris anak laki-laki sebesar dua kali hak waris anak perempuan? Apabila ibu kandung masih ada, sebaiknya harta waris dibagi ½ untuk ibu kandung atau sebaiknya 1/8 dari harta waris? Selain ibu kandung dan adanya anak kandung laki-laki dan perempuan, apakah masih ada ahli warisnya? Sekadar tambahan, nilai harta waris Rp 250 juta, jumlah anak laki-laki enam orang dan anak perempuan tiga orang. Hamba Allah

Jawaban:

Waalaikumussalam wr wb. Bukti keislaman seorang hamba dapat dilihat dari sejauh mana ketaatannya dalam menjalankan syariat Islam. Allah SWT telah menyeru hamba-hamba yang beriman untuk menjalankan syariat Islam secara total. “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS al- Baqarah: 208). Semua yang Allah perintahkan atau larang adalah ujian bagi hambahamba- Nya, apakah taat kepada-Nya ataukah kufur. Begitu juga konsekuensi dari taatnya seorang ham ba kepada-Nya adalah dengan meng imani seluruh ayat yang Allah firmankan dan apa yang Rasulullah SAW sabdakan, dengan tidak mengimani sebagian ayat dan mengufuri sebagian yang lain. Allah SWT berfirman, “Apakah kamu beriman kepada sebagian Alkitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS al-Baqarah [2]: 85). Terlebih khusus dalam mengimani ayat-ayat waris, di antaranya firman Allah SWT, “Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan.” (QS an-Nisa [4]: 11). Allah SWT telah menjadikan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian anak perempuan, karena tanggung jawab anak laki-laki lebih banyak daripada anak perempuan, seperti menafkahi dirinya, anakanaknya, istrinya, dan kerabat yang berada di bawah tanggungannya. Sedangkan anak perempuan tidak demikian. Sesungguhnya agama Islam telah memuliakan hak perempuan, yaitu dengan memberinya bagian dalam kewarisan. Padahal, pada masa jahiliyah, perempuan tidak mendapatkan hak waris. (Tafsir al- Washit, Dr Muhammad Sayyid Thonthowi, vol:3, hal: 65-66): Pada surat yang sama, di ayat 13 dan 14, Allah SWT memberikan penghargaan kepada hamba yang taat pada hukum waris Islam dan mengancamnya dengan neraka bagi orang yang tidak menjalankan syari’at waris (QS an-Nisa [4]: 13-14). Dalam kasus ini, ibu kandung Anda, yaitu istrinya almarhum ayah Anda, memiliki hak dari harta bersama (gono-gini). Jika ada, maka nilainya disesuaikan dengan kadar peran dan kontribusi istri dalam harta bersama tersebut. Tidak harus fifty-fifty (50% 50%), ini adalah salah satu pilihan kesepakatan semua ahli waris. Yang berikutnya, ibu kandung Anda (istri almarhum) mendapatkan 1/8 bagian karena pewaris (almar hum) meninggalkan keturunan (QS an-Nisa [4]: 12). Selain istri dan anakanak, yang mungkin mendapatkan hak waris adalah orang tua (ayah/ibu) pewaris, atau kakek dari jalur ayah, atau nenek dari jalur ayah atau jalur ibu. Jika ada saudara atau keponakan, atau paman, atau se pupu, maka mereka akan terhijab oleh anak laki-laki, atau ayah dan atau kakek (ada perbedaan pendapat). Tetapi, sebagaimana dijelaskan dalam pertanyaan, bahwa pewaris wafat meninggalkan istri, enam anak laki-laki dan tiga anak perempuan saja. Harta waris yang disebutkan, tidak dijelaskan kategori yang mana, apakah harta bersama atau harta bawaan, atau harta dapatan. Jika harta bersama (antara suami istri), maka istri mendapatkan hak dari harta bersama itu. Namun, jika yang dimaksud adalah harta bawaan, atau harta dapatan pewaris, maka istri hanya mendapatkan 1/8 bagian, sisanya untuk anak-anak. Adapun rinciannya: Wallahu a’lam bish shawwab.

Ahli waris Bagian Jumlah
pembagi (8) 120 Keterangn
Istri 1/8 1 15 15/120 x 250 juta = 31.250.000
Anak lk (2 bagian) Ashabah
Bilghair (2:1) 7 14 14/120 x 250 juta = 29.166.666
Anak lk (2 bagian) 14 14/120 x 250 juta = 29.166.666
Anak lk (2 bagian) 14 14/120 x 250 juta = 29.166.666
Anak lk (2 bagian) 14 14/120 x 250 juta = 29.166.666
Anak lk (2 bagian) 14 14/120 x 250 juta = 29.166.666
Anak lk (2 bagian) 14 14/120 x 250 juta = 29.166.666
Anak pr (1 bagian) 7 7/120 x 250 juta = 14.583.333
Anak pr (1 bagian) 7 7/120 x 250 juta = 14.583.333
Anak pr (1 bagian) 7 7/120 x 250 juta = 14.583.333
15* jumlah bagian anak laki-laki dan anak perempuan.

Oleh: Ustadz Bachtiar Nasir

Wudhu Batin

Isam bin Yusuf adalah seorang ahli ibadah yang terkenal wara’ (hati-hati), tawadhu’ (rendah hati), taat beribadah, dan senantiasa khusyuk dalam shalatnya. Karena kehati-hatiannya, ia selalu khawatir bila ibadahnya tidak diterima oleh Allah SWT. Karenanya, Isam senantiasa menjaga dirinya dari hal-hal yang menyebabkan ibadahnya tertolak. Sebab, akan sia-sialah apa yang dikerjakannya, bila ibadahnya tidak diterima Allah SWT. Suatu hari, Isam menghadiri pengajian yang diajarkan sufi ternama, Hatim al-Asham. Kesempatan ini digunakannya untuk menggali ilmu dari Hatim. “Wahai Abu Abdurrahman, bagaimanakah cara Anda shalat?” Hatim menjawab, “Apabila waktu shalat telah tiba, maka aku berwudhu secara lahir dan batin.” Isam bertanya lagi. “Bagaimanakah wudhu batin itu?” “Wudhu lahir adalah membersihkan anggota wudhu sebagaimana yang diajarkan Alquran dan hadis Nabi SAW.” Sedangkan wudhu batin itu, kata Hatim, membasuh anggota badan dengan tujuh cara, yakni

(1) senantiasa bertobat kepada Allah atas segala dosa;

(2) kemudian menyesali segala dosa-dosa yang dikerjakan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

(3) Membersihkan diri dari cinta dunia (hubbuddunya);

(4) menghindarkan diri dari segala pujian manusia;

(5) meninggalkan sifat bermegah-megahan;

(6) tidak berkhianat dan menipu;

(7) serta menjauhi perbuatan iri dengki. “Kemudian, aku pergi ke masjid, lalu kuhadapkan wajahku ke arah kiblat dan hatiku kepada Allah. Selanjutnya, aku berdiri dengan penuh rasa malu di hadapan Allah. Aku bayangkan bahwa Allah ada di hadapanku dan sedang mengawasiku. Sementara surga ada di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut di belakangku. Dan aku membayangkan pula, seolah-olah aku berada di atas jembatan Shirat al-Mustaqim. Dan aku anggap shalat yang akan aku kerjakan adalah shalat terakhir bagiku.” “Kemudian aku bertakbir, dan setiap bacaan dalam shalat, senantiasa aku pahami maknanya. Aku juga rukuk dan sujud dengan menganggap diriku sebagai makhluk yang paling kecil dan tak punya kemampuan apa pun di hadapan Allah. Selanjutnya aku akhiri dengan tasyahud (tahiyat) dengan penuh penghambaan dan pengharapan kepada Allah, lalu aku memberi salam. Demikianlah shalatku selama 30 tahun terakhir ini,” ujar Hatim. Mendengar penjelasan Hatim ini, Isam bin Yusuf pun tertunduk lesu dan menangis. Ia membayangkan bahwa ibadahnya selama ini masih belum seberapa dibandingkan dengan ibadah yang dikerjakan Hatim al-Asham. Segala sesuatunya dilaksanakan dengan penuh pengharapan dan ridha Allah, serta selalu diawali dengan kesucian lahir batin. Wudhu merupakan pintu masuk menuju ibadah yang terbaik, yakni shalat dan berdialog dengan Allah SWT. Sebab, wudhu merupakan bentuk kesucian lahir. Tanpa kesucian lahir, mustahil pula akan tercapai kesucian batin. “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS al-Kahfi [18]: 110). Wallahu a’lam.

Oleh Syahruddin El-Fikri

Efek Samping Bertunangan

Pertanyaan:
Assalamualaikum wr.wb
Pak Ustadz saya mau bertanya…Apa hukumya bertunangan dalam islam…??? Apakah diperbolehkan…?? mengingat saat ini banyak umat islam yg telah bertunagan. Apakah bertunangan sama saja dengan berpacaran tapi hanya ‘labelnya’ saja yg berbeda..??? dan bisa menyebabkan zina hati.. Mohon penjelasannya Pak Ustadz.
Jazaakumullah Lhairon katsiron.

Fasa, Bogor

Jawaban:
Waalaikumussalam Wr Wb
Saudara Fasa yang dimuliakan Allah swt. Bertunangan didalam bahasa arab dikenal dengan nama khitbah yang berarti ajakan untuk menikah. Khitbah ini pada umumnya merupakan sarana untuk melangsungkan pernikahan dan pada umumnya pernikahan itu tidaklah lepas dari khitbah ini meskipun khitbah ini bukanlah suatu syarat didalam sahnya pernikahan dan pernikahan tetap dianggap sah meskipun tanpa khitbah sehingga hukum khitbah ini adalah mubah (boleh) menurut jumhur ulama. Sedangkan menurut para ulama madzhab Sayfi’i bahwa khitbah adalah disunnahkan berdasarkan perbuatan Nabi saw yang meminang Aisyah binti Abi Bakar dan beliau saw juga meminang Hafsah binti Umar. Khitbah bukanlah pernikahan, ia hanyalah permulaan untuk melangsungkan pernikahan sehingga hubungan diantara laki-laki yang meminang dengan wanita yang dipinang tetaplah sebagai orang asing antara satu dengan yang lainnya. Yang boleh dilakukan seorang laki- laki yang datang meminang terhadap wanita yang dipinangnya saat khitbah hanyalah memandang wajah dan kedua telapak tangannya saja menurut pendapat yang paling tepat para ahli ilmu karena kedua bagian tersebut sudah cukup mewakili seluruh anggota tubuhnya untuk bisa mendorongnya untuk menikahinya. Dari Jabir bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Apabila seorang dari kalian meminang seorang wanita maka jika dirinya bisa melihat bagian-bagian yang mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan oleh Hakim) Dari Abu Hurairoh berkata,”Aku berada disisi Nabi saw lalu datanglah seorang laki-laki dab memberitahukan bahwa dia telah meminang seorang wanita dari Anshor. Nabi bertanya,’Apakah engkau telah melihatnya?’ orang itu berkata,’belum.’ Beliau saw bersabda,’Pergi dan lihatlah dia. Sesunguhnya di mata orang-orang Anshor ada sesuatu (berwarna biru).” (HR. Muslim). Begitu pula sebaliknya maka dianjurkan bagi seorang wanita yang dipinang untuk melihat lelaki yang datang meminangnya. Tidak dibolehkan bagi mereka berdua melakukan khalwat (berdua-duaan) baik saat meminang maupun setelahnya tanpa disertai mahramnya karena yang ketiganya adalah setan, sebagaimana larangan didalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi,”Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan.” Dengan demikian apabila yang dimaksud dengan pacaran adalah seperti yang banyak difahami masyarakat yaitu berjalan-jalan, duduk-duduk, makan berdua-duaan antara dua orang asing tersebut baik di rumah maupun di tempat-tempat umum maka jelas ini berbeda dengan khitbah, sebagaimana dijelaskan diatas. Perbuatan (baca : pacaran) bisa termasuk kedalam perbuatan zina mata atau mungkin juga zina anggota tubuh lainnya dan tidak jarang dari perbuatan ini menjerumuskan orang-orang yang melakukannya kepada perbuatan zina yang sesungguhnya, sebagaimana firman Allah swt :

وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً

Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Israa : 32)

Wallahu A’lam
Oleh:Ustadz Sigit Pranowo, Lc.

Penggunaan Kopiah Dalam Shalat

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Pertanyaan:
ustadz ana punya teman baru yang sama2 suka pergi ke mesjid bila waktu shalat wajib datang namun ana termasuk orang yang kurang suka menggunakan kopiah karena panas sementara dia gak ada cape2nya tuk mengingatkan ana tuk mengenakan kopiah ana sangat mengharapkan ustadz tuk membahas hukum / tingkat hukumnya penggunaan kopiah dalam shalat karena dari pemahaman ana sih yang penting aurat telah tertutup..sangat ditunggu jawabannya ustadz syukran katsir.
umar abdussyakir

Jawaban:
Waalaikumussalam Wr Wb
Saudara Umar yang dimuliakan Allah dibolehkan bagi seorang yang melaksanakan shalat untuk mengenakan peci atau kopiah selama peci atau kopiah itu bukan yang biasa dikenakan oleh orang-orang musyrik atau kafir atau yang sudah menjadi ciri khas mereka, berdasarkan sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, ”Bedakanlah kalian dari orang-orang musyrik.” atau yang diriwayatkan oleh Abu Daud didalam sunannya dan Ahmad didalam musnadnya dari Abdullah bin Umar bahwa Nabi saw bersabda,”Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum maka dia termasuk dari mereka.” Pengenaan peci atau kopiah tersebut disaat shalat bukanlah suatu kewajiban sehingga seolah berdosa bagi orang-orang yang tidak mengenakannya atau tidak sah shalatnya karena kepala tidak termasuk aurat yang harus ditutupi, baik didalam shalat-shalat wajib atau sunnah, baik ketika shalat sendirian atau berjamaah, baik dirinya sebagai makmum atau imam. Namun demikian pengenaan peci atau kopiah saat shalat adalah lebih afdhol apabila hal itu dapat menambah indah penampilan dirinya, sebagaimana firman Allah swt :
Artinya : “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid.” (QS. Al Araf : 31)
Waalahu A’lam
Oleh:Ustadz Sigit Pranowo, Lc.

Makna dari Sijjin

Assalamualikum Ustadz..
Saya mau bertanya apakah yang dimaksud dengan Sijjin itu?
Dedy

Jawaban
Saudara Ded yang dimuliakan Allah swt
Tentang Sijjin ini terdapat didalam firman Allah di Surat Al Muthaffifin :

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ ﴿٧﴾
وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌ ﴿٨﴾

Artinya : “Sekali-kali jangan curang, Karena Sesungguhnya Kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu? Sijjin.” (QS. Al Muthaffifin : 7 – 8 )

Yaitu bahwa ia menggabungkan antara sempit dan rendah, sebagaimana firman-Nya :

وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا

Artinya : “Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.” (QS. Al Furqon : 13) – (Tafsir Al Qur’an Al Azhim juz VII hal 349)

Ibnu katsir menyebutkan bahwa Allah swt telah berfirman : إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ artinya bahwa tempat kembali mereka adalah di sijjin. Sijjin merupakan bentuk fiil dari as sajnu yang berarti sempit, sebagaimana perkataan : fissiiq, syirriib, khimmiir, sikkiir dan yang lainnya. Karena hal ini termasuk perkara besar maka Allah swt berfirman : وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌ artinya ia adalah perkara besar, penjara tempatnya dan adzab yang pedih.
Lalu ada yang mengatakan bahwa ia berada di bawah bumi ketujuh. Didalam hadits Al Barroo’ bin ‘Azib yang panjang disebutkan bahwa Allah azza wa jalla berfirman terhadap ruh orang kafir,”Tulislah kitabnya di sijjin.”
Dan sijjiin berada dibawah bumi ketujuh. Ada yang mengatakan bahwa sijjiin adalah padang hijau yang berada di bawah (bumi) ketujuh. Ada pula yang mengatakan bahwa sijjiin adalah sumur di neraka jahanam.
Sedangkan yang benar—menurut Ibnu Katsir—bahwa sijjiin berasal dari kata “as sajnu yang berarti sempit. Sesungguhnya setiap makhluk semakin ia dibawah maka ia akan semakin sempit dan semakin ke atas maka dia akan semakin luas. Sesungguhnya langit-langit ini ada tujuh dan setiap darinya lebih luas dan lebih tinggi dari yang lainnya. Demikian pula dengan bumi-buminya setiap darinya lebih luas dari yang lainnya hingga berakhir di bumi yang paling rendah dan paling sempit yang berada di tengah-tengah bumi ketujuh. Dan tempat kembali orang-orang yang curang adalah jahanam tempat yang paling bawah, sebagaimana firman Allah swt :
Artinya : “Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At Tiin : 5 – 6)

Wallahu A’lam
Oleh:Ustadz Sigit Pranowo, Lc.