Archive for May, 2014

Bersyukur Tanpa Syarat

doa-adalah-salah-satu-cara-mengungkapkan-syukur-_140527191911-396Cinta tanpa syarat. Begitulah harapan para pecinta untuk dapat mencintai sosok yang ia. Harapan itu sebagai bukti bahwa dia benar-benar mencintai sepenuh hati, apa adanya, tanpa syarat barang satu pun. Jika cinta saja bisa tanpa syarat, sepatutnya, sebagai Muslim kita juga patut menjaga syukur tanpa syarat kepada Sang Pemberi Nikmat. Allah SWT dalam beberapa ayat Alquran banyak mengajak para hamba-Nya untuk mudah bersyukur. Bukan karena Dia membutuhkan rasa terimakasih dari manusia. Bersyukur ialah sebuah kebutuhan ruhani, baik diucapkan melalui lisan dengan ‘Alhamdulillah’, juga berupa perbuatan dengan memberdayakan apa yang kita dapatkan untuk kemaslahatan manusia. Bersyukur juga sebagai bukti kelemahan bahwa kita sama sekali tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat bagi diri sendiri, terlebih kepada orang lain. Karena ketidakmampuan itulah, manusia dianjurkan untuk mensyukuri apa yang ia peroleh, baik itu rezeki, kesehatan, ketentraman hidup, kebersamaan bersama orang-orang terkasih, dan masih banyak lagi nikmat-nikmat nan terhingga yang tak kuasa menyebutkannya. Itu semua Allah limpahkan kepada manusia karena Allah bersifat Wahhab. Wahhab berarti Maha Memberi segala sesuatu baik yang dipinta ataupun tidak dipinta hamba-Nya. Imam Ghazali menyebutkan bahwa pemberian Allah bersifat terus-menerus, tiada henti, berkesinambungan, dunia maupun akhirat, kepada siapa pun. Terlepas si hamba mensyukurinya atau tidak, karena memang pada hakikatnya Allah tidak membutuhkan apa pun dari hamba-Nya. Pemberi tanpa pamrih.

“… jika engkau bersyukur, maka akan Kutambah nikmat-Ku untukmu. Namun, jika kamu kufur (enggan bersyukur), sungguh adzab-Ku amat pedih.” (QS Ibrahim: 7) Dalam perjalanan hidup, manusia tergolong menjadi dua: golongan syukur dan golongan kufur. Oleh karenanya, tercermin dari surah di atas bahwa janji Allah terlimpah untuk dua golongan manusia, baik yang syukur maupun yang kufur. Jika kita mensyukuri nikmat Allah apa pun bentuknya, seberapa pun banyaknya, maka nikmat itu akan bertambah. Sebagai manusia biasa, terkadang kita alpa. Kita hanya sibuk mensyukuri pemberian-Nya yang enak dan tampak. Namun, lupa untuk bersyukur saat memeroleh musibah. Saat musibah datang, yang meluncur dalam doa-doa ialah keluhan dan kesedihan hingga penantian kapan musibah itu hilang. Padahal, dalam terhimpit musibah sekalipun kita dianjurkan untuk tetap bersyukur, sebagai bukti bahwa itu adalah bentuk perhatian dan kasih sayang Allah.
Dalam sebuah Hadis Qudsi disebutkan, “Wahai malaikat Jibril, datanglah kepada hamba-Ku dan kirimkanlah ia sebuah musibah, karena Aku rindu akan rintihannya.” (HR Muslim). Hadis ini mengisyaratkan bahwa diuji dengan masalah ialah bukti bahwa Allah merindu rintihan dari para hamba-Nya. Tak inginkah kita dirindu? Akhirnya, hakikat bersyukur tanpa syarat ialah kita tidak perlu menunggu datangnya nikmat  lantas bersyukur. Tapi, bersyukur sebenarnya ialah senantiasa menjaga ungkapan terima kasih pada Sang Maha Kasih atas segala nikmat yang telah, sedang dan akan kita dapatkan. Wallahu a’lam.

Oleh: Ina Salma Febriany

Kontinuitas Beramal

tahajjud-_120513203440-807Diriwayatkan dari Siti Aisyah, Nabi SAW masuk ke tempatnya dan di sisinya ada seorang perempuan dari Bani Asad. Lalu,  Nabi SAW bertanya, “Siapakah ini?“ Aisyah menjawab, “Si Fulanah (ia tidak pernah tidur malam), ia menceritakan shalatnya. Nabi SAW bersabda, “Lakukanlah (amalan) menurut kemampuanmu. Demi Allah, Dia tidak merasa bosan sehingga kamu sendiri yang bosan. Amalan agama yang paling disukai Allah SWT adalah yang dilakukan oleh pelakunya secara kontinu.’’ (HR Bukhari). Dalam hadis di atas, Rasulullah SAW mengingatkan amalan paling baik dan disukai Allah SWT adalah amalan yang dilakukan secara kontinu. Bukan amalan yang besar atau yang kecil. Amalan kecil bila kontinu lebih baik daripada amalan besar namun dilakukan hanya sekali. Amalan kecil dilakukan secara terus-menerus maka dalam pandangan Allah SWT amalan itu menjadi besar. Sebaliknya, kesalahan (maksiat) yang kecil dilakukan secara terus-menerus, lambat laun menjadi besar sehingga menumpuklah dosa kita. Rasulullah SAW bersabda, ’’Tidak ada dosa kecil apabila dilakukan secara terus-menerus.” Artinya dosa kecil yang kontinu akan menjadi dosa besar. Karena itu, melakukan shalat Dhuha dua rakaat setiap pagi lebih baik daripada 12 rakaat cuma sekali. Menunaikan Tahajud dua rakaat setiap malam lebih baik daripada 13 rakaat beserta witirnya namun cuma sekali. Begitu pun membaca Alquran satu ayat setiap hari lebih baik daripada membaca beberapa ayat tapi cuma sekali (hal ini biasanya dilakukan hanya di bulan Ramadhan). Bersedekah Rp 1.000 setiap hari lebih baik dibandingkan bersedekah Rp 100 ribu tetapi hanya sekali. Rasulullah SAW tidak menekankan jumlah rakaat, berapa ayat, dan berapa rupiah melainkan kontinuitas beramal yang baginda inginkan. Dalam beribadah, Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya agar melakukannya sekuat tenaga dan semampu kita. Dalam hal ini Allah SWT berfirman, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.’’ (QS Al-Baqarah:286). Dan Nabi SAW bersabda, ’’Kerjakan amal perbuatan sekuat tenagamu, Allah tidak jemu menerima dan memberi sehingga kamu jemu beramal, dan shalat yang disukai adalah yang dikerjakan terus-menerus meskipun sedikit.’’ (HR Bukhari-Muslim). Untuk menjalankan suatu amalan, harus didasari kesabaran dan keyakinan. Tanpa hal tersebut, sulit untuk membiasakan amalan (ibadah). Sebab kesabaran dan keyakinan melahirkan semangat sehingga dalam keadaan apapun kita terus beribadah.

Oleh: Pudji Dwi Setiawati

Jejak Said bin Amir

umar-bin-khattab-_130626105615-607Ketika khalifah Umar bin Khatthab memecat Muawiyah dari jabatannya sebagai gubernur Suriah, ia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari seseorang yang akan menjadi penggantinya. Tiba-tiba Umar berseru, “Saya telah menemukannya! Bawa ke sini Said bin Amir!” Tak lama kemudian datang Said menemui sang Amirul Mukminin yang menawarkan jabatan sebagai wali kota Homs. Said menolak, “Janganlah saya dihadapkan kepada fitnah.” Dengan nada keras Umar menjawab, “Demi Allah, saya tak hendak melepaskan Anda! Apakah tuan-tuan hendak membebankan amanat dan khilafah di atas pundakku lalu tuan-tuan meninggalkan daku.” Semua terdiam. Senyap. Sejenak, Said dapat diyakinkan. Said dan istrinya yang pengantin baru itu pun berangkat ke Homs. Suatu ketika, tatkala Khalifah Umar berkunjung ke Homs, beliau mendapat keluhan dari rakyat Homs tentang Said bin Amir. Mereka mengadukan empat hal.

Pertama,Said baru keluar menemui kami setelah matahari tinggi.

Kedua, ia tidak mau melayani seseorang di malam hari.

Ketiga, setiap bulan ada dua hari di mana ia tak mau keluar menemui kami.

Keempat,  sewaktu-waktu ia bisa jatuh pingsan.

Umar tertunduk dan memohon ampun kepada Allah, kemudian mempersilahkan Said membela diri. Said berkata, “Wahai Khalifah, mengenai tuduhan mereka bahwa saya tak hendak keluar sebelum matahari tinggi, demi Allah, sebetulnya saya tak hendak menyebutkannya. Tapi, karena ini bagian dari pertanggungjawaban saya kepada rakyat yang aku pimpin, maka aku akan menjelaskannya. Keluarga kami tak punya pembantu, maka sayalah yang mengaduk tepung dan membiarkannya sampai mengeram, lalu saya membuat roti dan kemudian wudlu untuk shalat dluha. Setelah itu barulah saya keluar menemui mereka.’’ ‘’Tuduhan bahwa saya tak mau melayani mereka di waktu malam, maka, demi Allah, saya benci menyebutkan sebabnya. Seharian saya sediakan waktu bagi mereka, dan malam harinya saya ingin peruntukkan kepada Allah. Sedang ucapan mereka bahwa dua hari setiap bulan di mana saya tidak menemui mereka, maka sebagaimana saya katakan tadi, saya tak punya banyak pakaian untuk dipergantikan, maka terpaksalah saya mencucinya dan menunggu sampai kering, hingga baru dapat keluar di waktu petang.” Said kemudian melanjutkan penjelasannya.’’Mengenai keluhan, saya sewaktu-waktu jatuh pingsan, karena ketika di Makkah dulu saya telah menyaksikan jatuh tersungkurnya Khubaib Al-Anshari yang tubuhnya dipotong-potong oleh orang Quraisy. Lalu, mereka membawanya dengan tandu sambil menanyakan kepadanya, “Maukah tempatmu ini diisi oleh Muhammad sebagai gantimu, sedang kamu berada dalam keadaan sehat walafiat?” Dalam deraan siksaan yang keji, Khubaib menjawab, “Demi Allah, saya tak ingin berada dalam lingkungan anak istriku diliputi keselamatan dan kesenangan dunia, sementara Rasulullah SAW ditimpa bencana, walau oleh hanya tusukan duri sekalipun.” Menurut Said, setiap terkenang peristiwa itu, tubuhnya gemetar karena takut akan siksa Allah, hingga ditimpa penyakit yang mereka katakan. Mendengar jawaban itu,  Umar terharu dan meneteskan air mata, lalu dirangkul dan dipeluknya Said, serta diciumlah keningnya. Subhanallah. Dari kisah ini orang mungkin akan bertanya, masih adakah pejabat dan pemangku kekuasaan seperti Said bin Amir? Di tengah realitas politik-kekuasaan negeri ini yang cenderung negatif, sosok keteladanan Said menjadi penting untuk direnungkan. Bagai oase di tengah padang pasir, nilai-nilai kesederhanaan dan dedikasi kerakyatan bisa menjadi penyejuk. Sekaligus kritik atas situasi politik dan pejabat yang hedonis. Kisah Said hendak mengingatkan kembali betapa kekuasaan hanyalah salah satu jalan untuk beribadah. Dimensi ruhaniah kekuasaan, kata Cak Nurcholis Madjid (1998), tidak senantiasa sejajar, apalagi identik, dengan bentuk-bentuk pemenuhan persyaratan lahiriah. Hal mana membuatnya semakin sulit dilihat dan diukur dari luar. Karenanya, banyak penampilan lahiriah atau formal-simbolik yang bahkan mengecoh banyak orang. Sampai akhirnya terbukti tidak memiliki arti apa-apa dan semuanya menjadi kecewa. Semoga kita menemukan pemimpin yang memiliki ruhaniah kekuasaan. Amien.

Oleh: Bahrus Surur-Iyunk

Balas Dendam

sabar-ilustrasi-_140110094004-421Dilatarbelakangi kekalahan mereka dari kaum muslimin pada peperangan di Lembah Badar (17 Ramadhan 1 H), kaum Quraisy (Makkah) bersepakat membalas dendam.
Lalu, mereka menyiapkan pasukan berkekuatan sekitar 3.000 prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb. Pasukan sebesar itu ternyata merupakan gabungan dari kaum Quraisy, sejumlah warga Habsyah dan warga Arab dari Bani Kinanah dan Bani Tihamah. Setelah informasi tersebut diketahui Rasulullah SAW, tanpa membuang-buang waktu beliau berkonsolidasi dengan para sahabat untuk mencari jalan ke luar terbaik. Setelah perdebatan panjang, kaum muslimin bersepakat menghadang mereka di luar Kota Madinah yakni di Gunung Uhud. Dengan kekuatan sekitar 1.000 prajurit, Rasul berangkat ke Gunung Uhud menghadang musuh (pertengahan Syaban 2 H) . Maka berkecamuklah peperangan itu. Berbeda dengan peperangan di Lembah Badar tahun sebelumnya, peperangan di Gunung Uhud berakhir dengan kemenangan pihak musuh.

Kekalahan tersebut terasa sangat menyakitkan. Bukan saja karena banyaknya korban di kalangan kaum muslimin namun karena ketidakdisiplinan prajurit Islam sendiri. Konon, prajurit pemanah yang berjaga di punggung gunung sekonyong-konyong meninggalkan pos mereka. Mereka tergiur harta benda yang ditinggalkan begitu saja oleh pihak musuh. Dengan begitu, ketika prajurit Islam yang serakah tersebut sedang mengambil harta benda di kaki Gunung Uhud seketika itu pula disergap musuh. Maka terjadilah malapetaka yang sangat menyakitkan itu. Hamzah bin Abdul Muthalib, panglima perang sekaligus paman Rasulullah SAW terbunuh ditombak dari belakang oleh Wahsyi,  budak milik  Muth’im bin Jubair. Dalam suatu riwayat dikemukakan, pada peperangan di Gunung Uhud itu, gugur 64 orang dari kalangan Anshar dan enam orang dari kalangan Muhajirin termasuk Hamzah. Semua prajurit Islam itu anggota tubuhnya dikoyak-koyak dengan kejam. Bahkan, ketika Hindun bin Uthbah (istri Abu Sufyan bin Harb) melihat jasad Hamzah yang sudah tidak bernyawa, dihampirinya dengan penuh kebencian. Lalu, dia belah dadanya. Dia keluarkan jantungnya. Dia mengunyahnya, dan menelannya. Biadab!
Maka berkatalah kaum Anshar, “Jika kami mendapat kemenangan, kami akan berbuat lebih dari apa yang mereka lakukan.” (HR At-Tirmidzi dari Ubay bin Ka’ab). Dalam riwayat lain, ketika Rasulullah berdiri SAW di hadapan jenazah Hamzah beliau berkata, “Aku akan bunuh 70 orang dari mereka sebagaimana mereka lakukan terhadap dirimu.” (HR Al-Hakim dan Al-Baihaqi dalam Kitab Ad-Dalail dan Al-Bazzar dari Abu Hurairah). Apa yang diungkapkan kaum Anshar dan Rasulullah SAW menyiratkan keinginan membalas dendam. Mereka saat itu beranggapan, yang dilakukan musuh telah melampaui batas peri kemanusiaan. Maka menurut mereka sepantasnya dibalas dengan balasan yang setimpal. Allah SWT berfirman, Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS An-Nahl [16] : 126 -128). Menurut Ibnu Hishar ayat-ayat tersebut diturunkan hingga tiga kali. Mula-mula diturunkan di Makkah, lalu di Gunung Uhud, selanjutnya saat Fathu Makkah. Kandungan ayat itu juga sangat menarik. Dalam keadaan sesulit apapun, kaum muslimin diajarkan untuk bersabar. Dalam situasi seperti itu, bersabar akan terasa sangat berat. Namun, Allah SWT menjanjikan pertolongan. Dalam ayat lain ditegaskan pertolongan Allah itu dekat. Karena itu, tidak perlu bersedih hati dan tidak perlu bersempit dada.

Oleh: Mahmud Yunus

Pesan Rahasia Muadz bin Jabal

jabalSuatu hari, Muadz bin Jabal diboncengi keledai yang dikendarai Rasulullah SAW. Di atas keledai, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Muadz, tahukah engkau hal apa yang patut engkau penuhi terhadap Allah dan satu hal lain yang pasti akan Allah penuhi terhadapmu?” Muadz terdiam lalu menjawab, “Allah SWT dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui, Ya Rasul.” Kemudian Rasulullah menjawab, “Bahwasannya satu hal yang patut engkau penuhi terhadap Allah ialah bahwa engkau berjanji sepenuh hati bahwa engkau tidak akan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun (syirik). Dan satu hal yang pasti Allah tunaikan hak-Nya untukmu ialah bahwa Dia takkan pernah menyiksa para hamba-Nya yang tidak pernah melakukan syirik.” Muadz tercengang. Dengan penuh semangat ia menjawab, “Ya Rasul, dapatkah saya sampaikan ini kepada orang-orang?” Rasulullah SAW pun menjawab, “Tahanlah. Aku khawatir orang-orang akan lengah sehingga mereka terlalu berharap keluasan rahmat Allah, kemudian malas beribadah.” (HR Bukhari) Sabda Nabi SAW mengingatkan kita kembali perihal hak dan kewajiban yang semestinya kita penuhi baik sebagai makhluk sekaligus hamba Allah SWT. Karena status kita sebagai hamba, maka sedari proses penciptaannya pun Allah telah berikrar, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah padaku.“ (QS adz-Dzariyat: 56)

Begitu tinggi esensi peribadatan kepada Allah selaku Khalik dan kita yang hanya sebagai makhluk. Tentiu saja beribadah kepada-Nya harus dilandasi dengan ilmu dan tauhid (pengesaan Allah). Dalam surah lain, menjadi jelas bahwa Allah juga ‘menegur’ kita untuk tidak masuk ke dalam jurang syirik. “Dan janganlah kamu menjadikan sesembahan (tuhan) yang lain selain Allah maka kamu akan dicela dan terhina.” (QS al-Isra: 22) Pesan ini bergandengan dengan perintah untuk taat pada orangtua, anjuran bersedekah, tidak mubazir, tidak terlalu pelit dan berlebihan, larangan membunuh anak karena takut miskin, larangan zina, larangan membunuh sesama, larangan memakan harta anak yatim dengan jalan yang batil, memenuhi takaran (timbangan) dengan adil, dan ditutup dengan larangan untuk tidak mengikuti apa-apa yang tidak kita ketahui (taklid buta). Syirik dan taklid buta menjadi sejajar manakala syirik dilakukan karena manusia mengikuti tanpa ilmu dan tanpa dalil terhadap sesuatu yang dilakukan oleh orang lain. Sabda Rasulullah SAW di atas ditutup dengan anjuran kepada Muadz untuk tidak langsung menyampaikan sabda itu kepada khalayak karena khawatir orang-orang terlalu bergantung pada keluasan rahmat Allah. Sehingga mereka malas berusaha karena tahu bahwa Allah akan mengganjar mereka dengan ‘bebas siksa’ ketika mereka cukup dengan ‘tidak syirik’. Ini akan membuka peluang kemalasan dalam meningkatkan kualitas ibadah. Oleh karenanya, Muadz baru menyampaikan sabda berharga ini di detik-detik kewafatannya. Sehingga orang-orang sezamannya tidak ada yang tahu. Sebuah pesan rahasia, penyelamat dari segala siksa untuk semua manusia. Wallahu a’lam.

Oleh: Ina Salma Febriany

Memiliki Kekayaan

harta-warisan-ilustrasi-_120726203811-127Kekayaan bagi sebagian umat Islam dipandang sebagai sesuatu yang kurang penting bahkan buruk. Hal ini wajar jika yang dilihat dalam konteks tersebut adalah sosok Qarun dan Tsa’labah. Mereka memang kufur dan sombong serta menolak menaati perintah Allah Ta’ala. Tetapi, kalau kita mengacu pada dua sahabat Nabi Muhammad, yakni Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf, kekayaan menjadi penting bahkan sangat dibutuhkan. Dua sahabat Nabi itu tercatat paling banyak membantu memenuhi kebutuhan umat Islam di Madinah. Hanya saja kekayaan yang perlu diraih umat Islam harus ditempuh dengan cara yang benar-benar halal. Selain itu, diniatkan untuk ibadah dan jihad dengan memajukan harkat dan martabat umat. Bukan memperkaya diri, lalu berbagga-banggaan dan bermegah-megahan. Sebab jika diperhatikan, perintah jihad di jalan Allah dimulai dengan harta baru jiwa. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS al-Mumtahanah [61]: 10-11). Artinya, dengan harta atau dengan kekayaan, umat Islam bisa berjihad dan karena itu  mendapat perniagaan yang dapat menyelamatkan dirinya dari siksa api neraka. Jika umat Islam tidak memiliki harta maka jihad harta tidak bisa dilakukan. Dengan demikian, harta atau kekayaan itu sangat penting untuk kelangsungan ibadah, bahkan jihad umat Islam itu sendiri. Seperti yang dicontohkan Utsman bin Affan yang menyedekahkan kekayaannya dalam jumlah cukup besar kepada umat Islam. Demikian juga dengan Abdurrahman bin Auf yang juga seolah berlomba menyedekahkan harta yang dimilikinya. Bahkan, istri Nabi Muhammad, Sayyidah Khadijah, merelakan seluruh harta kekayaannya digunakan untuk perjuangan dakwah Islam. Karena itu, umat Islam harus memiliki etos kerja yang bagus dalam mencari karunia-Nya berupa harta kekayaan. Apalagi, dua dari lima rukun Islam, yakni zakat dan haji, hanya bisa dilakukan kalau umat Islam memiliki harta. Begitu pula dengan bidang keilmuan. Orang bisa sekolah atau belajar mengelola harta. Lebih-lebih dalam gerakan dakwah, mutlak harta sangat diperlukan. Dengan demikian, umat Islam jangan sampai salah paham terhadap konsep kekayaan. Kaya itu baik selama memang niat kita ibadah dan jihad di jalan-Nya. Bahkan sekiranya umat Islam menguasai peredaran uang dengan niat ibadah dan jihad, tentu bangsa dan negara ini akan menjadi lebih  baik. Seperti Abdurrahman bin Auf yang berhasil menguasai pasar di Madinah. Hanya saja tetap harus dipahami, yang terbaik di sisi Allah bukanlah orang kaya atau miskin melainkan yang bertakwa (QS al-Hujuraat [49]: 13), kemudian mereka yang terbaik amalannya (QS al-Mulk [67]: 2). Dengan demikian, milikilah harta atas dasar takwa dan berorientasi pada terwujudnya //ahsanu amala// atau amalan yang baik di dunia yang fana ini.

Oleh: Imam Nawawi

Istighfar

istighfar-ilustrasi-_140213172301-355Diceritakan oleh Imam Al-Quthubi dari Ar-Rabi’ bin Shabih, empat orang pernah datang kepada Hasan Bashri mengadukan masalah yang berbeda-beda. Orang pertama mengadukan tanahnya yang tandus dan gersang, orang kedua mengadukan rizkinya yang sempit, orang ketiga mengadukan telah lama tidak memiliki anak, dan orang keempat mengadukan tanamannya yang tidak berbuah. Kepada keempat orang itu, Hasan Bashri hanya berkata singkat, Beristigfarlah! Ibnu Shabih merasa heran. Bertanyalah ia kepada Hasan Bashri, “Wahai Hasan, empat orang mengadukan permasalahan berbeda, kenapa engkau menyuruh semuanya beristigfar?” Hasan Bashri menjawab, “Apa yang aku katakan kepada mereka bukanlah dariku, tapi dari Allah SWT dalam QS Nuh [71]: 10-12.” Dalam surah tersebut disebutkan, ’’Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Istighfar, memohon ampunan kepada Allah dengan mengucapkan kalimat astaghrifullaah, adalah amalan agung yang menjadi kebiasaan para nabi, ulama, dan orang-orang saleh. Ketika Nabi Ibrahim mengajak ayahnya meninggalkan penyembahan berhala, beliau berkata, Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu. Aku akan memintakan ampun (beristighfar) bagimu kepada Tuhanku, sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (QS Maryam [19]: 47). Rasulullah SAW juga selalu membiasakan istighfar. Dalam satu majelis, beliau bisa beristighfar 70 sampai 100 kali. “Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar dan taubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR Bukhari). Selain mendapatkan ampunan Allah, istighfar mempunyai banyak  manfaat.

Pertama, orang yang memperbanyak istighfar terutama di waktu pagi sebelum Subuh, mendapatkan sanjungan Allah dan disediakan baginya surga dengan segala kenikmatannya. (QS Ali Imran [3]: 15-17).

Kedua, istighfar adalah pintu untuk membuka kenikmatan-kenikmatan baik yang disediakan oleh Allah.Dan hendaklah kamu meminta ampun (beristighfar) kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS Hud [11]: 3).

Ketiga, istighfar bisa menghindarkan kita dari bencana. “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun (beristigfar).” (QS Al-Anfal [8]: 33). Dalam memahami ayat ini, Abu Musa Al-Asy’ari pernah berkata, “Dulu kami mempunyai dua penjaga (dari bencana) di dunia ini. Satunya telah pergi dan tersisa satu lagi. Yang pergi adalah Rasulullah, yang yang masih tersisa adalah istighfar. Jika yang satu ini hilang, maka celakalah kami semua.” Wallau a’lam.

Oleh: Jauhar Ridloni Marzuq