Biar Saya Yang Bayar

sajadah-_110726103353-653Setelah selesai shalat ‘Isya dan sunnah ba’diyah, sebagian besar jamaah Masjidil Haram berbondong-bondong ke luar. Ada yang langsung pulang ke pondokan dan ada juga yang mampir dulu di pusat-pusat perbelanjaan di sekitar masjid. Pengunjung  pusat-pusat perbelanjaan masih tetap ramai, walaupun sebagian jamaah haji sudah pergi meninggalkan Makkah, pulang ke Tanah Air masing-masing atau ziarah ke Madinah. Di antara kerumuman para pembeli di salah satu pusat perbelanjaan itu terdapat Pak Muhsin dari Indonesia. Dari tadi dia sudah beberapa kali membolak balik sebuah sajadah buatan Suriah.
Dia sangat menyenanginya, tetapi sayang uangnya tidak cukup. Ini malam terakhir dia di Makkah, karena besok siang kloternya akan ke Jeddah untuk selanjutnya terbang kembali ke Tanah Air. Sajadah buatan Suriah itu sangat bagus, tetapi sayang sekali uangnya tidak cukup. Dengan berat hati dia pergi meninggalkan toko sajadah itu. Walaupun Pak Muhsin sudah menjauh dari toko tersebut, tetapi pikirannya kembali melayang ke sana.  Setelah memutari lantai dasar pusat perbelanjaan itu satu putaran, langkah kakinya kembali menuju toko sajadah itu. Tangannya kembali memegangi sajadah itu sambil memegang uangnya yang tidak cukup itu. Tanpa disadarinya seorang Arab yang juga sedang memilih-milih sajadah di toko itu memperhatikannya. Begitu sajadah itu dia letakkan, tiba-tiba saja orang Arab itu mengambil sajadah pilihan Pak Muhsin, lalu membayarnya dan  menyerahkannya kepada Pak Muhsin sambil berkata: “Hadiah, hadiah…tafadhdhal!”. Pak Muhsin sangat senang sekaligus terharu.
Sampai di Tanah Air, peristiwa itu selalu dia kenang, apalagi setiap dia melihat sajadah hadiah dari orang Arab yang tidak dia kenal itu. Dia ingin melakukan hal yang sama. Dia ingin membahagiakan orang-orang yang sangat menginginkan suatu barang, tetapi tidak sanggup membayarnya. Tentu saja bukan barang-barang yang mahal harganya. Demikianlah, pada suatu hari,  setelah melaksanakan shalat Zhuhur berjamaah di sebuah masjid, dia mampir ke toko buku kecil di samping masjid langganannya. Pada saat dia sedang melihat-lihat buku tentang Islam terbitan terbaru, tiba-tiba matanya tertuju kepada seorang paroh baya yang sedang memegang-megang sebuah buku tanya jawab agama. Buku itu semua enam jilid.
“Pak, apakah nanti ba’da Maghrib masih buka?” tanyanya kepada penjual buku. Penjual buku menjelaskan pukul 16.00 tokonya akan tutup. “Bapak kembali besok pagi saja.” Kata penjual buku itu. “Wah sayang sekali besok pagi saya sudah kembali ke daerah”, kata calon pembeli buku itu sambil beranjak pergi pelan-pelan. Pak Muhsin kembali ingat peristiwa di Mekkah tempo hari. Segera saja dia bilang sama penjual buku: “Panggil Bapak itu kembali, dan serahkan buku itu sebagai hadiah. Biar saya yang bayar”. Bapak dari daerah itu kaget dan senang, tidak dia duga ada yang berbaik hati mau membayarkan  enam jilid buku yang diinginkannya. Buku tanya jawab agama ini sangat dia perlukan dalam berdakwah di daerah. Pak Muhsin dapat merasakan kebahagiaan bapak yang tidak dia kenal itu, seperti kebahagiaanya waktu di Makkah dulu.

Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: