Ghurur, Terperdaya oleh Diri Sendiri Bag(III)

Bagian Ketiga adalah ahli tasawuf.

Ghurur dari golongan ini banyak pula macamnya, terutama ahli tasawuf di masa kini, kecuali yang dipelihara oleh Allah SWT, antara lain, orang yang merasa dirinya memiliki ilmu makrifat dan telah mampu melihat Tuhan dengan hatinya, telah melalui beberapa tingkatan ahwal dan menggunakan istilah yang berlainan dengan ilmu tasawuf. Mereka menganggap dirinya dekat dengan Allah, padahal mereka hanya mengetahui namaNya, yang mereka dengan dari lafal-lafal yang dapat menjadikan sesat dan keliru.

Dengan semua itu mereka menganggap memiliki ilmu tertinggi dari umat sejak awal hingga akhir. Mereka memandang rendah dan hina para ahli fiqih, ahli tafsir, ahli hadis dan ulama, lebih-lebih kepada orang awam. Manusia awam dipandangnya sebagai hewan piaraan. Disebabkan Ghururnya itulah mengakibatkan petani awam meninggalkan sawahnya, penenun meninggalkan garapannya. Setiap hari mereka hanya bergaul dengan para ahli tasawuf palsu itu dan mendengarkan ucapan-ucapannya ang tidak ada artinya sama sekali. Kata-kata itu seolah-olah wahyu dari langit; rahasia-rahasia yang tersembunyi. Ucapannya pun merendahkan para ahli ibadah dan ahli ilmu.

Terhadap ahli ibadah, ia mengatakan bahwa mengerjakan ibadah hanya membuat tubuh kepayahan. Terhadap ahli ilmu, ia mengatakan bahwa orang-orang yang memperbincangkan ilmu adalah orang-orang yang tertutup dari Allah.

Selanjutnya, mereka mengaku, hanya merekalah yang telah sampai kepada Allah dengan mencapai tingkatan muqarrabin. Sedangkan sesungguhnya Allah memandang mereka sebagai golongan orang fasik dan munafik. Dan bagi orang-orang yang bersih hatinya dan pandai, mereka dipandang sebagai manusia dungu, tidak waras, tertipu. Sama sekali tidak memiliki ilmu tauhid, fiqih dan tasawuf yang benar. Mereka benar-benar tidak memiliki didikan untuk bermujahadah dan tidak beramal mencari keridhaan Allah serta melupakan zikir, yang membuatnya selalu menuruti keinginan nafsu syahwat dan menerima ucapan-ucapan yang tidak berarti.

Terdapat pula golongan yang menghabiskan waktunya untuk mengajar akhlak dan membersihkan diri dar segala macam celaan. Akan tetapi terlalu berlebihan sehingga secara terus-menerus mereka mencari keaiban dirinya dan mengkaji tipu dayanya, sehinga menjadi pekerjaan rutin. Segalanya untuk hal-hal seperti itu, sama halnya dengan orang yang selalu membayangkan dan menghitung bahaya-bahaya dalam menunaikan ibadah haji, yang kemudian ia tidak jadi melaksanakannya.

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: