Ini Rezeki Yang Dijamin

hormon-kebahagiaan-yang-muncul-setelah-berbagi-rezeki-sanggup-menekan-_140910150020-286Hampir setiap manusia menginginkan rezeki melimpah ruah. Kalau perlu, dapat diwariskan untuk tujuh turunan. Sifat tamak, serakah, berfoya-foya dan kikir ikut menyertainya. Padahal, harta hanyalah titipan, alat untuk menjalankan tugas kekhalifahan, memakmurkan bumi, dan beribadah kepada-Nya. Janganlah mencari harta membuat kita lalai dari kewajiban beribadah. Karena, Allah Yang Maha Rahman dan Rahim menciptakan makhluk disertai dengan rezekinya masing-masing. Dalam Alquran surah Hud ayat 6 disebutkan, “Dan tidak ada binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberikan rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Lauhul Mahfuzh.” Seperti kisah mashur seorang sufi bernama Abul Hasan al-Mishri yang menjalani hidup zuhud. Pada usia senjanya, meninggalkan jabatan di pemerintahan dengan gaji 50 dinar per bulan. Beliau beruzlah di menara Masjid Jami’ Amr bin al-Ash sampai akhir hayatnya.

Konon, Al-Mishri memilih hidup zuhud karena seekor kucing yang selalu datang ke rumahnya setiap pagi menunggu untuk diberikan makanan. Ketika diberi, kucing itu tidak langsung memakannya, tapi membawanya pergi. Karena penasaran, Al-Mishri membuntuti kucing itu. Ternyata, makanan itu dibawanya ke suatu gubuk. Di sana terdapat kucing lain yang buta. Makanan itu ia letakkan dihadapan kucing yang buta tersebut. Rupanya, dari situlah kucing buta tersebut mendapatkan makanannya sehari-hari. Al-Mishri terkesima melihat pemandangan yang tak biasa tersebut dan ia bergumam, “Zat yang telah menjadikan kucing ini sebagai pelayan bagi kucing buta yang melarat itu sangat bisa membuatku tidak butuh kepada dunia ini.” Dari kisah di atas, dapat diambil pelajaran bahwa dari kehidupan binatang pun manusia dapat belajar, tersadar dari kelalaiannya kepada Allah SWT. Kita sering kali sombong terhadap apa yang telah dimiliki, lupa bahwa apa yang diperoleh, selain merupakan usaha, juga ada campur tangan Allah sang pemberi rezeki. Rasulullah SAW menegaskan, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sesungguhnya, niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung berangkat pada pagi hari dengan perut kosong dan pulang dengan perut yang penuh.” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Hakim dari Umar bin al-Khatthab). Hanya saja, mesti disadari, sudah menjadi sunnatullah ada yang mendapat kelebihan rezeki, tapi ada pula yang hanya dipenuhi kebutuhan primernya atau disempitkan. Hal ini ditegaskan Allah dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 212, “…Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendakinya tanpa batas.” Dalam makna yang sama, Allah menyampaikan bahwa akan ada orang-orang yang diberikan rezeki melimpah, sebagaimana tertera dalam surah Ali Imran ayat 27 dan 37. Bahkan, ditegaskan pula, bila Allah SWT menghendaki, mungkin saja ada yang diluaskan rezekinya atau disempitkan. Seperti yang disampaikannya dalam surah ar-Ra’d ayat 26, “Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.” Kepada mereka yang berlebih, hendaknya selalu bersyukur dan membantu yang kekurangan. Sementara, bagi mereka yang kekurangan, hendaknya bersabar, terus berusaha, tetap bersyukur atas karunia yang diberikan oleh-Nya, dan menjaga iman. Karena, kefakiran cenderung mendorong manusia kepada kekafiran. Keyakinan bahwa rezeki dijamin Allah SWT tidak berarti hidup yang dijalani tidak produktif. Bekerja keraslah sekuat tenaga agar kita tidak meninggalkan keluarga dan keturunan dalam kefakiran. Menjadi kewajiban kita untuk berusaha sekuat tenaga agar selain mampu memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga, juga membantu orang lain. Ingatlah, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Wallahu’alam.

Oleh: Iu Rusliana

Laknat Rasulullah Untuk Praktik Gratifikasi

gratifikasi-ilustrasi-_130613131052-209Perilaku gratifikasi pernah terjadi di zaman Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Al-Lutaibah yang diberi tugas sebagai pengelola zakat, lantas ia menyalahgunakan tugasnya (jabatan) untuk memperkaya diri. Suatu hari, Ibnu Al-Lutaibah seorang petugas zakat datang menghadap Rasulullah SAW untuk melaporkan dan menyerahkan hasil penarikan zakat dengan mengatakan: “Ini untukmu, dan yang ini telah dihadiahkan kepadaku!” Rasulullah SAW seketika tersentak mendengar laporan keuangan zakat dari amil beliau yang berasal dari suku Uzdi. Dengan geram dan heran Rasulullah SAW berdiri di atas mimbar seraya mengatakan: “Ada apa gerangan seorang petugas yang kami utus untuk menjalankan suatu tugas lalu mengatakan: “Ini untukmu (Wahai Rasulullah), dan yang ini telah dihadiahkan untukku!” Kenapa ia tidak duduk saja di rumah bapak dan ibunya, lalu ia melihat apakah ia diberi hadiah atau tidak?” Lanjutnya, “Demi Tuhan yang jiwa kalian berada di tangan-Nya, bahwa tiada yang membawa sesuatupun dari hadiah-hadiah tersebut kecuali ia akan membawanya sebagai beban tengkuknya pada hari kiamat.” (HR Imam Ahmad). Melalui kisah di atas Rasulullah SAW menegaskan tentang larangan (haramnya) bagi pejabat atau pegawai di lingkungan manapun menyalahgunakan jabatannya untuk memperkaya diri dengan menerima gratifikasi di luar hak yang telah ditentukan untuknya.

Menurut UU No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto UU No. 20/2001 bab penjelasan Pasal 12B ayat (1), gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma dan fasilitas lainnya. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mengungkapkan, sesuai Pasal 12B UU No. 20/2001, setiap gratifikasi pada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap sebagai pemberian suap, bila berhubungan dengan jabatan dan berlawanan dengan kewajibannya. Dalam Islam, seorang pegawai atau pejabat dianggap sebagai pengkhianat negara jika ia menerima gratifikasi terkait tugasnya. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda, “Gratifikasi untuk pegawai atau pejabat adalah khianat” (HR Ahmad dan Baihaqi). Islam telah melarang dengan tegas memakan harta dengan cara yang tidak dibenarkan, termasuk harta dari hasil gratifikasi (QS al-Baqarah [2]: 188). Di kalangan masyarakat gratifikasi biasa disebut dengan banyak istilah, seperti money politics, uang sogok, uang kompromi, dan sejenisnya, tetapi esensinya adalah suap. Terkait suap, Rasulullah SAW melaknat penyuap dan orang yang menerima suap (HR Abu Daud). Dalam hadits yang lain, Rasul SAW pun melaknat penghubung antara penyuap dan yang disuap (HR Hakim). Wallahu a’lam.

Oleh Imam Nur Suharno

Kapan Adil Berbuah Ketenangan

pemimpin-yang-mendapat-kepercayaan-rakyat-harus-mengedepankan-prinsip-keadilan-_140614174902-911Pada suatu ketika, Kaisar Romawi mengirim utusan kepada Khalifah Umar bin Khaththab ra. Dia berniat melihat dari dekat kondisinya dan aktivitas amirul mukminin. Ketika utusan Romawi tersebut telah tiba di Madinah, ia bertanya tentang Umar bin Khaththab RA kepada penduduk Madinah. “Mana raja kalian?” Penduduk Madinah menjawab, “Kami tidak mempunyai raja. Kami hanya mempunyai pemimpin yang telah pergi keluar Madinah.” Utusan Kaisar Romawi tersebut segera keluar dari Madinah untuk mencari Umar bin Khaththab ra dan menemukannya tidur di atas tanah dengan berbantalkan tongkat kecilnya yang ia biasa bawa untuk mengubah kemungkaran. Ketika utusan Kaisar Romawi melihat Umar dalam keadaan seperti itu, ia merasakan ke tenangan di hatinya dan berkata, “Orang yang ditakuti oleh semua raja karena kewibawaannya kok keadaannya seperti ini? Na mun, hai Umar, engkau berbuat adil, dan engkau pun bisa tidur. Sedangkan, raja kami zalim, maka tidak heran kalau ia tidak bisa tidur dan selalu diliputi ketakutan.”

Kisah yang terdapat di dalam kitab Minhajul Muslim karya Abu Bakr Jabir Al-Jazairi ini memberikan pelajaran berharga mengenai buah dari ha sil memutuskan hukum dengan adil. Salah satunya adalah tersebarnya ketenangan di dalam hati. Ketenangan di dalam hati seseorang yang memutuskan hukum dengan adil karena dia tidak memutuskan suatu hukum dengan hawa nafsunya dan tidak menzalimi hak-hak pemiliknya. Dia memberikan keputusan hukum kepada manusia dengan memberikan hak kepada pemiliknya. Sikap inilah yang menjadikan sang pemimpin mendapatkan cinta Allah, keridhaan-Nya, kemulian-Nya, dan nikmat-Nya. Salah satu bentuk ke cin taan Allah, keridhaan, kemuliaan, dan nikmat- Nya itu adalah dengan memberikan ketenangan di dalam diri orang yang berbuat adil dalam memutuskan hukum. Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk bersikap adil dalam hukum. Perintah Allah SWT ini termaktub di dalam Alquran surah an-Nisa (4) ayat 58, “Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya, Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya, Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Wallahu a’lam.

Oleh: Moch Hisyam

Doa Anda ingin Dijawab

sejumlah-umat-islam-berdoa-di-multazam-masjidil-haram-makkah-_141006135501-514Seperti biasa, usai presentasi saya berikan kesempatan siswa-siswa saya untuk bertanya. “Kalau-kalau masih ada yang kurang jelas, silakan ditanyakan. Saya sediakan waktu kurang lebih 10 menit”, kata saya. Lima menit pertama telah berlalu, namun tak seorang pun bertanya. Lima menit kedua, ternyata seorang di antara mereka ada yang mengacungkan tangannya. “Maaf. Saya boleh bertanya sesuatu di luar topik yang sedang dibahas hari ini?” kata dia. Saya jawab, “Boleh. Silakan”. Lalu, dia bertanya tentang doa. Pada intinya, dia bertanya tentang doanya di Multazam dan di Raudhah yang belum terjawab. “Soalnya, menurut guru (ngaji) saya tempat-tempat tersebut termasuk tempat-tempat yang mustajabah,” terang dia. Kendati pertanyaan itu di luar topik, saya jawab pertanyaan dia dengan sebuah pertanyaan. “Kamu, sudah pernah berdoa di sana?”. Jawab dia, “Sudah. Alhamdulilah saya pernah berdoa di tempat-tempat tersebut ketika umrah”. Komentar saya, “Alhamdulillah”.

Berdoa hakikatnya melaksanakan perintah Allah. Allah berfirman, “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah (kalian) kepada-Ku niscaya akan Aku perkenankan’” (QS Ghafir [40] : 60). Ayat ini menjelaskan tentang kewajiban kita berdoa, dan tentang hak Allah mengabulkan doa hamba-Nya. Sudah barang tentu, kita seharusnya melaksanakan kewajiban kita dengan sebaik-baiknya. Sedangkan perkara hak Allah, yakni apakah akan mengabulkan doa kita atau tidak, sebaiknya kita serahkan sepenuhnya kepada-Nya. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tidaklah seorang Muslim berdoa, (sepanjang) tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahim, niscaya Allah akan mengabulkan doanya itu dengan tiga kemungkinan. Dikabulkan-Nya di dunia, dikabulkan-Nya di akhirat, dan dihindarkan-Nya keburukan darinya sesuai dengan doanya. Seorang sahabat bertanya, “Kalau begitu, kita harus memperbanyak doa? Rasulullah menjawab, “Allahu Akbar/Allah Maha Besar”  (HR Bukhari dalam Adab al-Mufrad). Oleh sebab itu, yang terpenting bagi kita adalah mengetahui definisi doa, syarat-syarat berdoa, dan adab-adabnya dengan sebaik-baiknya. Doa yaitu menampakkan kerendahan diri kepada Allah seraya mengajukan permohonan, mengharap kebaikan yang ada di sisi-Nya, mengharap terkabulnya keinginan, dan selamat dari hal-hal yang mengkhawatirkan. Ibnu Qayyim menjelaskan, “doa termasuk obat yang paling mujarab karena doa musuh bala bencana, mengadangnya dan mengobatinya, menghalangi turunnya dan menghilangkannya atau meringankannya, dan doa adalah senjata orang yang beriman.” Doa Anda ingin dijawab? Berdoalah kepada Allah semata-mata. Janganlah sekali-kali berdoa kepada selain Allah. Bertawasullah kepada-Nya dengan tawasul yang sesuai syariat. Berbaik sangkalah kepada-Nya. Janganlah tergesa-gesa ingin dikabulkan. Selain itu, makanlah makanan (juga minumlah minuman) yang halal dan baik. Tak kalah penting; berdoalah sambil bersimpuh, mulailah dengan memuji-Nya, bershalawatlah kepada nabi dan rasul-Nya, bersucilah dari hadas dan najis, menghadaplah ke arah kiblat, angkatlah kedua tanganmu, rendahkanlah suaramu, dan seterusnya. Wallahu a’lam.

Oleh: Mahmud Yunus

Jangan Remehkan Ayat Alquran Ini

mushaf-alquran-_140821172834-386Jika ada yang berani tidak sependapat dengan kalimat pada judul di atas, berarti ia tidak yakin dengan takdir Allah SWT. Judul di atas adalah firman Allah SWT. Dalam surah al-Insyirah (Alam Nasyrah) ayat kelima dan keenam. “Karena, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS al-Insyirah: 5-6). Kalimat itu diulang sampai dua kali secara berurutan. Memang, tidak ada yang mesti diragukan dari firman Allah SWT. Dalam Alquran (La raiba fih), dengan demikian, jika suatu kalimat diulang sampai dua kali, itu berarti penegasan yang kuat dan sangat meyakinkan. Dalam realitanya, banyak orang di banyak kesempatan menganggap kesulitan dan kesusahan seakan tak pernah hilang dan sirna. Padahal, jika dipahami dari tekstual ayat di atas, kesulitan akan selalu beriringan dengan kemudahan. Juga, sebaliknya, kemudahan pasti selalu menyertai kesulitan. Dua variabel ini dinilai tidak akan pernah tidak bersama. Karena, secara bahasa dan pemahaman bahwa kemudahan antonim dari kesulitan. Dalam suatu kondisi sulit yang dihadapi seseorang, sejatinya terdapat kemudahan dalam kesempatan yang sama. Hal itu bisa dipahami dari perenungan sembari selalu mengingat kebesaran dan ketentuan Allah SWT. Bahwa, Gusti Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-hamba-Nya. Jika ternyata kezaliman itu benar-benar wujud, berarti hamba itulah yang menzalimi dirinya sendiri (QS Yunus: 44).

Setiap kesulitan pasti disertai dengan kemudahan. Jika itu diyakini sudah pasti bertemu kemudahan yang dimaksud. Katakanlah, seseorang sedang menghadapi masalah ekonomi alias kesulitan uang. Andai saja ia merenung dan mengingat nikmat Allah SWT, selain uang yang menjadi masalahnya, sudah pasti ia akan terus mengucapkan alhamdulillah di setiap saat sebagai rasa syukur kehadirat Allah SWT yang nikmatnya tidak akan pernah terkira dan terhingga (QS an-Nahl: 18). Dengan apa ia hidup? Bukankah ia masih bisa bernapas dan bergerak secara dinamis dan teratur disebabkan nikmat Allah SWT yang tak terhingga nilainya jika diuangkan itu? Maukah ia membandingkan harga segala curahan nikmat itu dengan uang yang dibutuhkan saat ia memerlukan? Sanggupkah ia membayarnya kepada si-Empunya segala nikmat tersebut? Berapakah harganya? Niscaya, ia tidak akan dapat membayarnya! Bersyukur dan bersabar sudah pasti akan mendatangkan fadilah (keutamaan) dalam hidup dan diyakini sebagai usaha menjemput ridha Allah SWT. Bagaiman nasib kita di dunia dan di akhirat jika Allah SWT tidak ridha dengan kita? Mana yang lebih menjadi masalah jika dibandingkan dengan tidak punya uang? Itu pun, mungkin hanya sekejap. Karena, pertolongan Allah SWT pasti akan datang. Sekali lagi, Allah SWT sama sekali tidak akan pernah menzalimi hamba-hamba-Nya. Wallahu’alam.

Oleh: Saiful Bahri

Allah Pun Tertawa

mengganti-kentang-tumbuk-dengan-kembang-kol-akan-membuat-kalori-_140916154511-521Suatu waktu, Rasulullah SAW kedatangan tamu orang yang sangat tidak mampu (miskin), Rasulullah mengajak tamu tersebut ke rumah salah seorang istri beliau agar bisa dijamu selayaknya. Namun, istri Rasulullah hanya memiliki air putih dan tidak bisa menghidangkan makanan yang lain. Rasulullah SAW kemudian membawa tamunya kepada para sahabatnya, seraya menawarkan, “Siapa saja yang memuliakan tamuku ini, akan mendapat surga.” Salah seorang sahabat yang bernama Abu Thalhah spontan menjawab, “Saya Rasulullah!”  Ia belum sempat berpikir, apakah di rumah ada makanan atau tidak? Yang terpenting, dia  bisa menolong orang lain dan mendapatkan surga sebagaimana ditawarkan Rasulullah SAW. Selanjutnya, tamu Rasulullah itu pun diajak ke rumahnya. Sampai di rumah, ia berkata kepada istrinya, “Muliakanlah tamu Rasulullah ini!” Istrinya menjawab, “Kita tidak punya persediaan makanan, kecuali untuk si kecil anak kita!” Tanpa berpikir panjang, Abu Thalhah langsung mengutarakan idenya, “Siapkan makanan itu, lalu pura-puralah memperbaiki lampu penerang yang ada di rumah, dan tidurkanlah anak kita!” Ketika hari sudah gelap, tamu Rasulullah itu diajak ke tempat makan. Istri Abu Thalhah sibuk mempersiapkan hidangan seakan-akan untuk seluruh anggota keluarganya ditambah tamu Rasulullah. Setelah makanan dihidangkan, istri sahabat itu mendekati lampu penerang rumahnya, berpura-pura memperbaikinya, dan kemudian memadamkannya. Tujuannya tidak lain, agar sang tamu merasa nyaman menikmati hidangan itu sendirian. Sebab, porsi makanan yang ada hanya cukup untuk satu orang. Tamu itu menikmati hidangan yang ada dengan lahap, tanpa merasa ada yang janggal dalam jamuan makan malam itu. Dia mengira tuan rumah juga ikut makan bersamanya. Keesokan harinya, Abu Thalhah menghadap Rasulullah SAW, ia disambut dengan senyuman, lalu beliau bersabda, “Allah tertawa (rida) dengan yang kalian lakukan berdua tadi malam.” Hasilnya, Rasulullah rida dengan simbol berupa senyuman ketika bertemu Abu Thalhah, dan menyampaikan kabar gembira bahwa Allah pun rida dengan apa yang mereka berdua lakukan. Setidaknya ada tiga hikmah yang bisa kita petik dari kisah yang menjadi sebab turunnya Surah al-Hasyr ayat 9 ini.

Pertama, betapa Rasulullah SAW dan Abu Thalhah sahabatnya memiliki jiwa penolong yang sangat mengagumkan sehingga dengan jiwa tersebut, keduanya tidak sempat berpikir apakah di rumahnya ada makanan yang bisa disuguhkan pada tamunya atau tidak? Yang penting memberi!

Kedua, ketika kedermawanan sudah mendarah daging dalam diri seseorang, berbagai cara bisa ia lakukan untuk tetap bisa memberi kepada orang lain, betapapun sulitnya kondisi yang sedang ia alami.

Ketiga, orang yang dermawan tidak pernah memikirkan tentang dirinya saat hendak memberi, apa yang akan ia makan? Bagaimana nasibnya nanti ketika ia memberi apa yang dibutuhkannya kepada orang lain? Bahkan, orang yang dermawan mungkin saja menomorduakan kebutuhan keluarganya ketika ada orang yang lebih membutuhkan.
Maka pantas jika kemudian orang yang memiliki jiwa seperti ini akan mendapat rida Allah SWT. Dan di akhirat akan dimasukkan ke surga-Nya. Sebab, orang yang seperti ini lebih mengutamakan orang lain, atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr [59]: 9).

Oleh: Abdul Syukur

Qishasul Anbiya

muhammad-kaligrafi-_120802162117-546Istilah qishashul anbiya adalah merujuk pada kisah para nabi dan rasul. Tatabu’ al-akhbar, kabar yang diikuti kabar. Insya Allah, hikmah edisi kali ini akan mengunjungi situs hidup dan sirah para nabi dan rasul. Kata nabi berasal dari kata naba yang salah satu artinya adalah dari tempat yang tinggi. Karena itu orang yang di tempat tinggi semestinya punya penglihatan ke tempat yang jauh (memperhitungkan dan menebak masa depan) yang disebut nubuwwah. Nabi adalah seorang laki-laki yang diberi wahyu oleh Allah SWT, tetapi tidak punya kewajiban untuk menyampaikannya kepada umat tertentu. Sementara, kata rasul berasal dari kata risala yang berarti penyampaian. Karena itu, para rasul, setelah lebih dulu diangkat sebagai nabi, bertugas menyampaikan wahyu dengan kewajiban atas suatu umat atau wilayah tertentu.

Jadi, rasul adalah seorang laki-laki yang mendapat wahyu dari Allah SWT dengan suatu syari’at dan ia diperintahkan untuk menyampaikannya dan mengamalkannya. Dalam hadits riwayat Imam at-Turmudzi disebutkan jumlah nabi ada 124.000 orang, sedangkan jumlah Rasul ada 312 orang. Dari Abi Zar ra, Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi, “(Jumlah para nabi itu) adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi.”  “Lalu berapa jumlah Rasul di antara mereka?” Beliau
menjawab, “Tiga ratus dua belas (312).” [Hadits Riwayat At-Turmuzy] Al-Qur’an menyebut beberapa orang sebagai nabi. Nabi pertama adalah Adam as. Nabi sekaligus rasul terakhir ialah Muhammad SAW yang ditugaskan untuk menyampaikan risalah Islam dan peraturan penting kepada manusia di zamannya hingga hari kiamat. Isa as yang lahir dari gadis Maryam binti Imran juga merupakan seorang nabi dan rasul. Selain ke-25 nabi sekaligus rasul, ada juga nabi lainnya seperti dalam kisah Khidir bersama Musa yang tertulis dalam Surah Al-Kahf ayat 66-82. Terdapat juga kisah Uzayr dan Syamuil. Juga nabi-nabi yang tertulis di Hadits dan Al-Qur’an, seperti Yusya’ bin Nun, Zulqarnain, Iys, dan Syits. Sedangkan orang suci yang masih menjadi perdebatan sebagai seorang Nabi atau hanya wali adalah Luqman al-Hakim dalam Surah Luqman. Para nabi dan rasul adalah manusia-manusia terbaik pilihan Allah SWT. Mereka Allah pilih sebagai penyambung antara Allah dan para hamba-Nya di muka bumi ini. Para nabi dan rasul ini juga memiliki keistimewaan tertentu. Yang perlu kita ingat adalah, setiap Allah memuliakan para nabi dan rasul, berarti kewajiban bersyariat mereka lebih banyak atau lebih besar dari manusia biasa. Demikianlah adanya, ketika kemuliaan bertambah maka tugas dan kewajiban bersyariat semakin besar. Sebagai contoh, seorang laki-laki secara umum tidak sama dengan wanita, maka kewajiban bersyariat untuk laki-laki lebih besar dibanding wanita (baca QS. An Nisa: 34). Wallahu A’lam.

Oleh: Ustaz Abi Makki

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.