Kelakar Rasulullah

banyak-hadis-shahih-yang-meriwayatkan-keutamaan-mimpi-berjumpa-rasulullah-saw-_141023170243-351Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib merupakan Rasulullah yang terakhir. Beliau selalu berbicara dengan penuh makna, dengan fasihah, dengan tenang, dengan penuh wibawa, dan dengan senyum. Meski demikian, beliau kadang-kadang juga berkelakar dengan sahabat-sahabatnya. Tak lain tujuannya untuk membuat suasana akrab, hangat, dan segar. Beliau tak segan-segan melakukannya sepanjang tak mengabaikan hal-hal yang mendasar. Oleh karena itu, perlu diketahui bahwa kelakar beliau bukanlah kelakar kosong. Seperti halnya dalam pembicaraan lainnya, kelakar beliau pun mengandung “hikmah” positif bagi sahabat-sahabatnya. Suatu ketika, salah seorang sahabat beliau bertanya, “Wahai Rasulullah. (Maaf) apakah Anda bergurau?” Spontan beliau menjawab, “Aku memang bergurau, akan tetapi apa yang aku ucapkan itu benar adanya” (Syamail al-Tirmidzi). Dikisahkan, seorang pria datang kepada Rasulullah untuk meminta tunggangan. Kata beliau, “Aku akan membawakan untuk kamu seekor anak unta.” Pria tersebut mengira Rasulullah akan memberinya seekor anak unta yang kecil dan lemah. Dia pun berujar, “//Kok//, anak unta? Apa yang bisa kulakukan dengan anak unta yang kecil dan lemah?” Sambil tersenyum, Rasulullah bertanya, “Memangnya ada unta yang tidak ada induknya?” Lalu, dia berpikir, benar juga. Unta dewasa pun sejatinya anak dari induknya. Maka, dia pun tersipu.

Kisah lainnya dikabarkan seorang pria badui yang tak rupawan bernama Zahir rajin berjualan. Suatu hari, ketika dia tengah berjualan, seseorang mendekapnya dari belakang. “Lepaskan aku! Siapa ini?” kata Zahir sambil menoleh. Mengetahui yang mencandainya Rasulullah, dia pun berusaha menempelkan punggungnya ke dada beliau. Rasulullah berkata, “Siapa yang hendak membeli budak?” “Kalau begitu, aku tidak laku //dong//, wahai Rasulullah?” Kata beliau, “Bukan begitu. Kamu laku di sisi Allah.” Alkisah, suatu ketika seorang wanita mendatangi Rasulullah. Dia berkata, “Suamiku mengundang engkau, wahai Rasulullah.” Kata beliau, “Siapa namanya? Apakah, dia yang di kedua matanya ada putihnya?” Maka, respons Rasulullah tersebut sempat mengejutkan si wanita, “Apakah engkau pernah melihat suamiku?” tanyanya polos. Lalu dengan enteng Rasulullah mengatakan, “Memang ada mata yang tidak ada putihnya?” Rasulullah juga dikabarkan pernah mencandai Anas RA dengan panggilan, “Hai, orang yang punya dua telinga!” Beliau juga kerap mencandai anak-anak. Di antara caranya dengan memegangnya dari belakang. Hal tersebut dilakukan karena beliau mencintai dan menyayangi anak-anak. Rasulullah suka bergurau dan melucu dengan para bocah. Apa yang Rasul perbuat terhadap al-Hasan dan al-Husain sudah dikenal luas. Terhadap dua bocah tersebut beliau junjung, beliau cium, dan beliau biarkan menaiki punggungnya saat shalat. Beliau juga sering melucu dengan Aisyah RA, istrinya, bahkan suatu saat beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya. Maka, bila Anda hendak berkelakar, berkelakarlah secara wajar dan cerdas. Jangan berkelakar secara berlebihan. Apalagi, bertolakbe lakang dengan tuntunan al-Islam.

Oleh Mahmud Yunus

Napas Waktu Subuh

100324190322Dalam Alquran Allah SWT sering bersumpah dengan waktu, dari waktu fajar (subuh), dhuha, siang hari, sore, dan senja (ashar), hingga malam hari. Menurut para pakar tafsir, setiap benda atau sesuatu yang dijadikan objek sumpah oleh Allah terkandung di dalamnya dua makna. Pertama, menunjukkan sesuatu itu penting atau terkandung kebaikan di dalamnya. Kedua, ia menjadi tanda atau penunjuk jalan bagi kekuasaan dan kebesaran Allah SWT yang mesti dipahami. Dalam surah at-Takwir, Allah bersumpah dengan waktu subuh. Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS at-Takwir [81]: 18). Sumpah ini menarik. Dalam Alquran tidak ada benda tidak bernyawa dinyatakan “bernapas” (hidup), kecuali waktu subuh. Apa maknanya? Mutawalli Sya’rawi memahami ayat ini sebagai tasybih, yakni analogi kedatangan agama Islam dengan waktu subuh. Subuh merupakan permulaan hari ketika cahaya [fajar] mulai bersinar. Subuh juga menyemburkan udara segar yang sangat berguna bagi kesehatan manusia. Seperti waktu subuh, kedatangan agama Islam memulai kehidupan baru, menyibak kegelapan kelam jahiliyah. Dengan Islam, kehidupan bisa dimulai kembali dan manusia bisa bernapas lega dengan bimbingan dan petunjuk Alquran. Karena bercahaya dan mengeluarkan udara segar, waktu subuh dipandang sebagai makhluk hidup, bernapas (bernyawa). Kalau pada malam hari pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan mengeluarkan racun (karbon dioksida), saat subuh (pagi hari), pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan mengeluarkan oksigen alias udara pagi yang bersih dan sejuk. Napas waktu subuh itu berkah bagi manusia. Nabi Muhammad SAW pernah berdoa, “Allahumma barik li-ummati fi bukuriha” (Ya, Allah berikan keberkahan bagi umatku pada permulaan harinya.) (HR Abu Daud dan Thirmidzi). Keberkahan waktu subuh itu berdimensi fisik dan nonfisik (spiritual). Dari sisi spiritual, dua rakaat shalat (sunah) fajar disebut oleh Nabi SAW, “lebih baik dari dunia dan segala isinya.” (HR Muslim). Orang-orang terbaik dari generasi sahabat dan tabi’in (al-salaf al-shalih) tidak pernah tidur lagi setelah melakukan shalat Subuh. Mereka berzikir dan membaca wirid-wirid hingga matahari terbit. Tak lama setelah itu, mereka melaksanakan shalat Dhuha, kemudian mereka memulai kerja dan aktivitas. Dari sisi fisik (duniawi), keberkahan (napas) waktu subuh itu dikaitkan dengan kesehatan, kemajuan ekonomi, dan kesuksesan dalam hidup. Rasulullah SAW pernah mengingatkan Fatimah al-Zahra, putrinya, agar tidak tidur lagi setelah shalat Subuh. (HR Baihaqi). Pada kesempatan lain, Rasul juga mengingatkannya agar bangun pagi dan giat mencari rezeki. Sebagaimana sabdanya, “Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya, pada pagi hari terdapat berkah dan keberuntungan.” (HR Thabrani dan Al-Bazzar). Dalam banyak penelitian diketahui, orang yang rajin bangun pagi, beribadah, dan berolahraga, ia lebih sehat (bugar), lebih produktif, dan memiliki peluang lebih besar meraih kesuksesan. Bagi orang-orang yang tinggal di perkotaan, keberkahan waktu subuh itu sangat nyata. Tidak bangun pagi, berarti petaka. Telat pergi ke kantor, stres di jalan karena macet, dan banyak energi terbuang percuma. Wallahu a’lam.

Oleh: A Ilyas Ismail

Sedekah itu Gampang

Assalamualaikum Wr.Wb

PT PLN sebagai penyedia layanan listrik telah berdiri puluhan tahun yang lalu bahkan esok akan menginjak umur yang ke 69. Kalau boleh dibilang PLN sebagai perusahaan yang jarang mendapat pujian tapi banyak kritik pedas disaat ada gangguan listrik seperti pemadaman listrik, tegangan yang kurang stabil yang akibatnya telah banyak memakan korban bagi peralatan elektronik rumah tangga, perkantoran dan industri, seperti halnya tv, kulkas, komputer dan masih banyak lainya. Memang miris mendengar berita baik di media cetak maupun online bahwa PLN banyak mengalami kerugian terlepas benar atau tidaknya hal tersebut, bagi masyarakat awam tidak peduli yang mereka tahu bayar tagihan listrik tiap bulan dan tidak ada gangguan listrik padam, bahkan sudah menjadi momok yang horor bagi masyarakat, saya menyoroti dari pengguna sektor perumahan terutama ibu2 rumah tangga yang mempunyai balita dirumah, jadi serba salah akibat ketergantungan kebutuhan mereka terhadap listrik begitu besar seperti pompa air yang tidak tidak bisa dinyalakan karena padamnya listrik yang mengakibatkan kurangnya persedian air, cucian baju menumpuk , bahan makanan di kulkas jadi bau dan tentu masih banyak lagi. Kami sebagai pengguna jasa listrik PLN banyak berharap ada perubahan yang signifikan khususnya pelayanan yang baik dimulai dari level paling bawah yaitu rumah tangga, kami tidak minta yang banyak, kami sadar tugas berat PLN dalam mendistribusikan listrik keseluruh pelosok indonesia tidak segampang membalik tangan. Bagi saya sudah ada listrik di negeri ini sudah bersyukur sehingga dunia makin terang. Untuk itu dihari PLN yang ke 69 saya ingin memberikan ide sederhana melalui tulisan di blog yang mungkin sepele tapi bagi kami merasa dipedulikan, dihargai sebagai pemakai jasa listrik saya berharap dengan prinsip sedekah itu gampang yaitu PLN menggunakan sebagian dananya untuk melakukan brodcast sms resmi dari pihak PLN per wilayah setempat dimana listrik akan dipadamkan atau mengalami gangguan. Isi format dalam sms tersebut berisikan pengumuman akan ada pemadaman listrik diwilayah tertentu baik hari dan waktunya tercantum jelas. Menurut saya itu mudah dan tidak perlu bangun system komputerisasi yang mahal serta perlu kerjasama yang baik dengan menggandeng pihak operator seluler. Dari segi database pelanggan sudah terekam karena setiap pelanggan PLN yang akan mendaftar untuk mendapatkan pelayanan listrik selalu dicatat data pribadinya seperti halnya nomer handphone, karena handphone sudah menjadi barang yang umum bisa terjangkau tidak perlu canggih asal bisa terima sms sudah cukup. Dimana broadcast sms didesain agar tidak menerima umpan balik dari setiap pelanggan karena akan membebani trafik server sms. Apalah arti teknologi yang tinggi dan canggih tapi dari sisi pelayanan ke pelanggan diabaikan, ingat!! PLN dan pelanggan adalah mitra sejati.Tanpa sadar PLN sudah menerapkan prinsip sedekah itu gampang, karena Allah sangat menyukai hambanya yang suka bersedekah dan berbagi dalam hal ini berbagi informasi yang sangat berguna bagi pelangganya. Karena dengan sms tadi pelanggan merasa dipedulikan dari hal kecil sehingga pelanggan lebih siap bila ada pemadaman seperti menyediakan lilin, senter, petromax  atau diesel bagi industri menengah keatas  dengan demikian dampak kerusakan akibat listrik padam dapat diminimalisasi oleh pelanggan, dengan pemberitahuan tadi masyarakat indonesia akan berdoa tanpa dikomando agar PLN cepat tumbuh dan berkembang lebih jaya lagi dan menurut saya lebih efisien dan mengena dibanding menaruh pengumuman di media online karena tidak semua pelanggan memantau terus. Demikian ide saya semoga dengan dimulainya dari hal kecil PLN bisa terhindar dari masalah yang sering menimpanya. Sekali lagi selamat ulang tahun PLN yang ke 69 dan terimakasih bagi blog detik yang telah memfasilitasi lomba ini.

Wassalammuallaikum wr.wb

Pakaian Malu

para-jamaah-sufi-berdoa-agar-allah-menyelamatkan-dokter-nasrani-_140813190326-650Menurut fitrahnya, manusia mempunyai sifat malu, tetapi tergerus akibat godaan syaitan, seperti peristiwa merujuk kepada peristiwa Adam dan Hawa yang diceritakan dalam Alquran saat mereka masih tinggal di surga. Allah SWT berfirman, “Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya sudah merasai buah itu,tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun. Kemudian, Tuhan mereka menyeru mereka, ‘Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu, ‘Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS Al-‘Araaf [7]:22).

Aspek iman tidak boleh dipisahkan dengan sifat malu karena malu itu merupakan cabang iman. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sifat malu adalah satu cabang daripada cabang iman.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim). Pada kesempatan lain, Rasulullah bersabda, “Malu itu sebagian dari iman. Dan iman tempatnya di surga, sedangkan ucapan keji termasuk sebagian tabiat kasar dan tabiat kasar itu tempatnya di neraka”. (Hadis riwayat al-Tirmizi). Malu termasuk sifat mulia. Sifat ini perlu diwujudkan dalam setiap individu Muslim. Adanya malu akan mencegah seseorang melakukan kemungkaran dan perbuatan keji yang dilarang agama. Oleh sebab itu, perasaan malu akan menjadi pakaian iman bagi seseorang Muslim. Dalam diri orang yang beriman akan muncul perasaan malu untuk melakukan dosa. Namun,  jika keimanan nipis dan dikuasai nafsu serta godaan syaitan, ia tidak akan malu melanggar perintah Allah. Malah tanpa rasa malu itu ada yang sanggup bermegah mencanangkan perbuatan kejinya. Allah SWT berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang yang beriman, hendaklah mereka senantiasa merendahkan pandangan dan memelihara kehormatan mereka.” (QS an-Nuur [24] ayat 30). Malu bukan saja boleh mengawal perlakuan, melainkan juga emosi dan tingkah laku. Seseorang yang malu mengeluarkan kata-kata kasar apabila marah merupakan hasil kemampuan diri mengawal perasaannya. Jika dilihat konteks malu dalam Islam dan kaitannya dengan masyarakat Islam, banyaknya kemungkaran saat ini karena berkurangnya sifat malu. Sekaligus memperlihatkan kerapuhan iman dalam kalangan generasi muda. Kebebasan tidak pernah dihalangi, tetapi perlu melihat pada batasan. Ini karena kebebasan mutlak akan menghancurkan fitrah malu yang ada dalam diri hingga perbuatan dan tindakan yang sepatutnya memalukan sudah tidak lagi dianggap sebagai memalukan. Oleh karena itu, malu sebagai benteng kepada kekukuhan iman perlu ditanam dalam diri anak kecil, remaja, dewasa, hingga orang tua supaya hanya contoh terbaik dapat dilihat serta diamalkan dalam kehidupan. Biarlah jadi pemalu daripada dikatakan tidak tahu malu. Dari Abu Mas’ûd ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshârî al-Badri RA ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu,berbuatlah sesukamu.”

Oleh: Aji Setiawan 

Meraih Kemulian

ilmu-itu-lebih-berharga-dari-harta-_140806144542-372Meraih Kemuliaan Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS Al-Mujadilah: 11) Allah SWT telah menjanjikan setiap orang yang mempunyai ilmu akan ditinggikan derajatnya di atas manusia yang lain. Ditinggikan derajatnya bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat nanti. Ini menunjukkan tingginya kedudukan ilmu di sisi Allah Azza Wa Jalla. Ilmu menjadi mulia di sisi Allah karena ilmu akan menjadi alat yang akan membimbing seseorang menuju kebaikan hidup, kesempurnaan iman, dan selanjutnya akan menuju ma’rifatullah, sebuah tingkat pengenalan manusia akan perintah-perintah Allah. Ilmu yang dimiliki seseorang bisa menjadi alat untuk mengenal, mendekatkan diri pada Tuhannya, dan akan menjadi panduan bagi seseorang untuk hidup di dunia, menjauhi larangan-Nya dan menjadi panduan akan apa yang harus dilalui di dunia yang fana ini sesuai ketentuan-Nya.

Dengan ilmu ini, maka muncullah sikap takwa, takut kepada Allah, taat pada hukum dan aturan serta akan hidup yang baik dan memberikan kontribusi positif bagi diri, keluarga, dan lingkungannya. Mencari ilmu adalah sebuah kewajiban bagi Muslimin dan Muslimat, sejak lahir hingga akhir hayat. Dalam sebuah hadis di sebutkan, “Utlubul `Ilma minal mahdi ilal lahdi (Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga liang lahat).” Bahkan, dalam Islam juga diperintahkan untuk menuntut ilmu walaupun sumber ilmunya jauh di seberang lautan: “Utlubul `ilma walau bissiin (Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina).” Hal itu menunjukkan bahwa mencari imu harus dilakukan ke manapun dan kapan pun. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa ilmu adalah sesuatu yang utama sebagaimana kata ilmu disebut dalam Alquran sebanyak 780 kali. Realitas menunjukkan, seseorang bisa diangkat derajatnya, misalnya, dari kalangan miskin menjadi kalangan menengah atau kaya, hanya bisa dilakukan melalui pendidikan/mencari imu. Karena dengan ilmu yang dimiliki, maka ia akan memiliki kualitas, pengetahuan, dan keterampilan dalam mengerjakan sebuah pekerjaan dan jabatannya. Realitas kekinian juga menunjukkan bahwa sumber daya alam (SDA) yang dimiliki oleh sebuah bangsa dan negara bukanlah syarat utama sebuah bangsa maju dan sejahtera. Namun, yang paling penting adalah keterampilan dan kemampuan teknologi yang dimiliki oleh penduduknya yang bisa mengolah SDA itu untuk menjadi sebuah bangsa menjadi maju dan sejahtera. Sesungguhnya yang akan berpeluang besar menjadi alat untuk kemajuan seseorang adalah kemampuan ilmu yang dimlikinya. Semakin tinggi ilmu yang dimiliki oleh seseorang, maka akan semakin baik jabatan dan pekerjaan yang dianugerahkan oleh Allah dibanding orang yang tidak berilmu. Melihat hal tersebut, hendaknya bagi kaum Muslimin, terutama bagi kalangan pelajar, untuk tidak silau dengan indahnya usia dan dunia, serta tetap fokus mencari ilmu, di manapun dan kapan pun. Masa muda hendaknya diisi dengan mengasah dan me ngeruk sedalamda lamnya bahtera ilmu.

Oleh Farida Farichah

Pakain Taqwa

takwa-ilustrasi-_120508200427-645Imam Hasan al-Bashri bertutur bahwa pada suatu hari Khalifah Utsman ra berpidato di atas mimbar. Dia menyampaikan apa yang pernah didengarnya dari Rasulullah SAW. Katanya, “Wahai sekalian manusia, tak seorang pun dari kalian yang melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi kecuali Allah SWT akan menampakkan padahari kiamat melalui selendang [pakaian] yang akan dikenakan kepadanya. Apabila perbuatanya bagus maka selendang yang dikenakan bagus dan apabila perbuatannya buruk maka selendang yang dikenakannya buruk pula.” Lalu, Khalifah Utsman membacakan kepada hadirin ayat ini, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Mudah-mudahan, mereka selalu ingat.” (QS al-A’raf [7]: 26). Pakaian atau sandang dalam ayat di atas dikemukakan dengan kata libas dan risy. Menurut para pakar bahasa Alquran, libas semakna dengan kata tsaub atau tsiyab (QS al-Muddatstsir [74]: 4 ), yaitu sesuatu yang dipergunakan untuk menutup [sebagian] anggota badan. Sebagai contoh, gamis (qamish) adalah pakian; sarung (al-ditsar) juga pakaian; serban (`imamah) begitu juga. Sementara, kata risy atau riyasy secara harfiah berarti bulu burung yang halus dan indah. Risy menunjuk pada pakaian yang dikenakan untuk memperindah atau mempercantik diri (ma yatajammalu bihi al-insan). Selain dua kata (libas dan risy) ini, ayat di atas memperkenalkan pakaian lain yang disebutnya lebih baik, yaitu pakaian takwa (libas al-taqwa). Terdapat lima fungsi pakaian bila merujuk pada ayat di atas dan beberapa ayat lain yang semakna, yaitu menutup aurat, memperindah dan mempercantik diri, membangun identitas [menunjukkan kelas], menjaga dan melindungi diri dari bahaya perang, dan terakhir memperkuat moral dan spiritual untuk kemuliaan diri lahir batin, dunia dan akhirat. Yang terakhir ini merupakan fungsi dari pakaian takwa. Dalam suatu hadis diterangkan bahwa iman itu telanjang (al-iman `uryanun), pakaiannya adalah takwa (wa libasuhu al-taqwa), dan hiasannya adalah rasa malu (wa zinatuhu al-haya’). (Lihat, Qut al-Ulub fi Mu`amalat al-Mahbub: 1/139). Lantas, apa yang dimaksud pakaian takwa itu? Zaid bin Ali berpendapat, pakaian takwa itu adalah agama Islam itu sendiri. Menurut Ibn Abbas ra ia adalah iman dan amal shalih (huwa al-iman wa  al-`amal al-shalih). Pendapat lain menyatakan bahwa pakaian takwa adalah moralitas dan keluhuran budi pekerti. (Tafsir al-Manar: 8/320).Jadi, pakaian takwa adalah ketakwaan itu sendiri, yaitu sikap tunduk dan patuh kepada Allah dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Wallahu alam!!

Oleh: A Ilyas Ismail

Melemahkan Setan

kelugasan-ibrahim-dan-keluarganya-menolak-pengaruh-setan-itulah-_140920173549-947Setan adalah musuh kita. Dia akan berupaya terus menyesatkan dan membinasakan manusia. Tidak ada kata menyerah baginya untuk mencelakakan kita. Sepanjang kita hidup, setan tidak akan pernah berhenti menggoda dan membiarkan kita selamat. Oleh karena itu, Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya untuk hati-hati terhadap setan. Tuhan pun memerintahkan kita untuk menjadikan setan sebagai musuh serta mengumumkan kepada kita tentang peperangan melawan setan sebagaima firman Allah SWT  QS Fatir ayat 6, “Sesungguhnya, setan itu adalah musuh bagimu maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” Untuk itu, hendaknya kita mencari cara melemahkan dan melumpuhkan setan agar bisa selamat dari bujuk rayunya. Caranya, dengan rajin membaca dan memaknai kalimat basmalah dan takbir. Dengan membaca basmalah akan membuat setan menjadi kecil dan tak berdaya. Sebagaimana diungkapkan Imam Ahmad bin Hambal dalam musnadnya meriwayatkan dari seseorang yang dibonceng oleh Nabi SAW. Dia berkata, “Tunggangan Nabi SAW tergelincir maka aku katakan: Celaka setan.” Nabi SAW bersabda, “Jangan engkau mengucapkan‘celaka setan’. Karena, jika engkau mengucapkannya maka setan akan membesar dan berkata: Dengan kekuatanku, aku jatuhkan dia. Jika engkau mengucapkan bismillah maka ia akan menjadi kecil hingga seperti seekor lalat.” (Hadis Riwayat Ahmad dan Abu Dawud).

Begitu pula dengan kalimat takbir yang akan menjadikan setan semakin kecil.  Zat Yang Mahabesar itu hanyalah Allah SWT dan selain-Nya adalah kecil. Berkaitan dengan kalimat takbir ini pula, Umar bin Khaththab pernah mengatakan, “Seorang hamba yang mengatakan Allahu Akbar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” Namun, harus diingat, bacaan itu bukan sekadar ucapan yang keluar dari lisan, melainkan untuk dimaknai dan direalisasikan. Tidak sedikit orang yang mengucapkan kalimat ini, tapi perbuatannya menyimpang dari makna yang diucapkan. Lafaz bismillah mengandung pengertian aku memulai pekerjaanku dengan menyebut nama Allah atau aku mulai melakukan sesuatu dengan menyebut nama Allah. Realisasi dari basmalah ini hendaknya menjadikan segenap aktivitas yang dilakukan dilandasi niat karena Allah SWT menjadikan kita sebagai pribadi yang bertanggung jawab dan amanah dalam mengemban amanat Allah SWT. Sedangkan, realisasi dari kalimat takbir ini hendaknya menjadikan kita menjadi orang yang selalu mengagungkan, membesarkan, dan mengutamakan seruan-Nya di atas seruan selain-Nya. Takbir seharusnya menghapus sifat takabur yang ada pada diri kita. Untuk itu, bacalah “bismilaahi Allahuakbar” saat kita digoda oleh setan dengan penuh penghayatan. Dengan seizin Allah SWT, setan pun menjadi lemah.

Oleh: Mochammad Hisyam

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.