Hikmah Kegagalan

takdir-ilustrasi-_130719141805-286.jpgKita pasti menginginkan agar cita-cita menjadi kenyataan. Hanya saja, tidak semua harapan selalu terpenuhi. Kerap ada kekurangan dalam kehidupan, sebuah fakta bahwa kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Ketika rencana dan harapan yang ditetapkan tidak tercapai, apakah itu kegagalan? Dalam sudut pandang sebagai manusia yang memiliki keinginan, mungkin ya. Sesal, kecewa, sedih, dan marah bercampur aduk. Sadari dan tanamkan dalam hati dan pikiran, di balik sesuatu yang dinilai gagal itu sesungguhnya ada hikmah. Bukankah yang terbaik selalu diminta kepada Allah Yang MahaRahman dan Rahim? Allah SWT selalu memberikan yang terbaik, bukan yang selalu diinginkan. Hanya saja, manusia dengan hawa nafsunya tidak dapat membedakan apakah yang dialaminya sebagai pelajaran, ujian, dan memberikan kebaikan. Tugas kita sebagai manusia untuk menangkap hikmah di balik setiap yang dialami. Teruslah berdoa meminta yang terbaik dalam kehidupan. Percayalah, doa akan selalu dikabulkan. Di sinilah maksud dari firman-Nya dalam QS al-Mu’’min [40]: 60, “Berdoalah kepada-Ku maka akan Aku menerima doa kalian.”

Allah SWT pasti akan memenuhi doa, baik langsung atau tidak langsung dan memberikan yang terbaik bagi makhluk-Nya,  bukan karena keinginan makhluk-Nya. Karena keinginan itu belum tentu sesuai dengan kadar, kemampuan, atau kondisi terbaik makhluk-Nya. Inilah yang dimaksud takdir. Secara etimologis, takdir (taqdir) berasal dari kata qaddara. Akar katan qaddara yang diartikan ukuran memberi kadar atau mengukur. Dengan demikian, sebagai pencipta (khaliq), Allah Yang Mahakuasa telah menetapkan ukuran, batas tertentu dalam ciptaan-Nya. Dalam Alquran al-Karim ada banyak ayat yang berbicara tentang takdir, antara lain, dalam QS al-Furqan [25]: 2,  Yaasin [36]: 38-39,  al-Shaffat [37]: 96, al-A’la [87]: 1-3, dan seterusnya. Dalam QS al-A’la [87] : 1-3 disebutkan, “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi; Yang menciptakan semua makhluk dan menyempurnakannya; Yang memberi takdir kemudian mengarahkannya.”  Keyakinan akan takdir bukan berarti membuat kita pasrah apalagi putus asa. Putus asa sangat dibenci Allah SWT. Allah Yang Mahakuasa hanya menetapkan batas kemampuan dan ukuran makhluknya saja. Berusaha keras sampai darah tinggal satu aliran, nafas satu helaan merupakan wajib hukumnya. Setelah seluruh daya upaya terbaik dilakukan, bertawakal dan memohonlah kepada Allah SWTyang terbaik. Terimalah dengan senyum apa pun hasilnya, berusaha keraslah untuk meraihnya kembali jika dianggap masih belum maksimal. Jangan-jangan karena strategi, situasi dan kondisi yang belum pas. Bukankah dalam banyak hal kita tidak tahu di mana batas kemampuan? Sedangkan, kemampuan itu tumbuh seiring dengan bertambahnya pengalaman, ilmu, dan kapasitas diri. Bila hari ini tidak mampu dilakukan, mungkin esok lusa bisa. Semuanya berproses, jadikan semuanya proses pembelajaran. Bersabar, pantang menyerah, dan tawakal atas semua proses yang dijalani. Inilah hidup maka berbuatlah yang terbaik dan bermanfaat bagi diri, manusia, dan lingkungan sekitar. Yakinlah, dengan berbagi dan bermanfaat bagi seluruh makhluk, Allah Yang Maharahman dan Rahim memberi kita yang terbaik. Wallahu’alam.

Oleh: Lu Rusliana

Impian

ustaz-yusuf-mansur-_140709201706-715Menjadi impian hampir semua muslim-muslimah untuk bisa ke Tanah Suci. Melihat langsung Ka’bah yang selama ini menjadi kiblat shalat. Menginjakkan kakinya di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dua masjid yang paling dirindukan. Menjadi impian hampir semua muslimin untuk bisa umrah dan berhaji. Menyempurnakan rukun Islam yang kelima. Dikatakan hampir, sebab masih ada yang dikasih segala kesempatan dan peluang, tapi ada ketakutan dan mungkin keengganan. Tapi jumlahnya insya Allah sangat kecil. Dengan sedikit nasihat dan motivasi yang pas, insya Allah bisa segera lompat dan berangkat. Kebahagiaan yang lain, adalah kebahagiaan kita. Terbayang oleh saya, sama saat saya dikasih izin Allah menatap cahaya Masjidil Haram dari jarak yang sudah dekat. “Dhuyuufurrahmaan, tamu-tamu Allah, lihat ke depan, masjid yang bermandikan cahaya, itulah Masjidil Haram…” Selanjutnya, saya sudah tidak lagi dapat mendengar ucapan muthowwif. Sudah tenggelam dalam kerinduan yang membuat jantung berdegup kencang. Tanpa terasa air mata menetes. Labbaik Allaahumma Labbaik… Yaa Allah, makasih Engkau sudah mengizinkanku memenuhi panggilan-Mu…

Ucapan ini pula yang insya Allah akan kita ucapkan, manakala Allah menyebut nama kita di hari akhir nanti… Labbaik yaa Allah… Labbaik Allaahumma Labbaik. Saya bisa merasakan kebahagiaan para jamaah haji yang hari ini insya Allah mulai terbang menuju Makkah dan Madinah. Aaahhh… Air mata ini sungguh menetes. Ya, saat menulis ini, saya mengenang kembali saat pertama dipastikan secara administratif berangkat ke Tanah Suci. Perasaan bahagia sudah duluan menyelimuti. Ga bisa tidur. Kelewat seneng. Dan air mata ini juga untuk segenap kawan-kawan saya se-Tanah Air dan sedunia, yang belum ke sana. Sungguh, Tanah Suci sejengkal buat mereka yang percaya dengan Kebesaran dan Kekuasaan Allah. Tanah Suci begitu dekat buat mereka yang tidak mengandalkan uang. Percayalah. Allah SWT pun merindukan kalian semua bertakbir, membesarkan Nama-Nya, bertahmid, memuji Nama-Nya, langsung di Rumah-Nya. Allah SWT Senang Menyenangkan Hamba-Hamba-Nya. Termasuk memberikan segala kejutan ketidakmungkinan berangkat menjadi mungkin. Di dunia ini, jutaan orang merasakan lembutnya Kasih Sayang dan Kemurahan Allah SWT. Hingga ia bisa menatap Ka’bah yang anggun berselimutkan Kiswah hitam. Air mata kekaguman, keharuan, kebahagiaan, kesedihan, harapan, campur aduk ga keruan. Selamat jalan Saudara-Saudaraku… Selamat jalan. Jangan lupa mendoakan Indonesia di tempat paling mustajab itu. Insya Allah haji kalian semua, mabruur. Doanya maqbuul. Badan dikasih sehat. Umur dikasih panjang. Hingga bisa kembali ke Tanah Air dan ke tempat masing-masing. Semoga yang belum berangkat, bisa diizinkan Allah berangkat. Dengan rizki yang halal, dengan pengetahuan yang cukup, dengan bekal iman taqwa yang bagus. Aamiin. Salam, dari Yusuf Mansur yang selalu merindukan Kota Makkah dan Madinah.

Oleh: Ustaz Yusuf Mansur

Taat Pada Suami

ketaatan-seorang-istri-kepada-suami-merupakan-bagian-penting-yang-_140821204931-541Seorang lelaki datang menghampiri Rasulullah SAW. Sekonyong-konyong, Muadz, nama lelaki itu, menghampiri kaki Baginda Nabi Muhammad dan bersujud di hadapannya. Maka, Rasulullah pun menegur Muadz. “Apa yang kau lakukan ini, wahai Muadz?” Dia lantas menjawab, “Aku mendatangi Syam, aku dapati mereka (penduduknya) sujud kepada uskup mereka. Maka aku berkeinginan dalam hatiku untuk melakukannya kepadamu, wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW pun melarang Muadz. “Jangan engkau lakukan hal itu karena sungguh andai aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah, niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang istri tidaklah menunaikan hak Rabb-nya sampai ia menunaikan hak suaminya. Seandainya suaminya meminta dirinya dalam keadaan ia berada di atas pelana (hewan tunggangan) maka ia tidak boleh menolaknya.” Hadis yang diriwayatkan dari sahih Ibnu Majah dan sahih Ibnu Hibban dari Abdullah Ibnu Abi Auf RA tersebut menggambarkan betapa seorang istri harus taat kepada suami. Islam meninggikan kedudukan seorang suami sebagai imam sehingga istri harus patuh. Ketaatan seorang istri kepada suami merupakan bagian penting yang harus diperhatikan oleh seorang istri.

Ketaatan kepada suami menunujukkan kesalehan seorang istri. Hal ini dapat kita pahami dari firman Allah SWT yang termaktub dalam Alquran surah an-Nisa (4) ayat 34. “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian, jika mereka menaatimu maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” Ketika seorang istri taat dan patuh kepada suaminya, akan menjadi sebab bagi sang istri mendapatkan surga. Sebaliknya, pembangkangan seorang istri terhadap suaminya akan berakibat mendapatkan laknat Allah dan di akhirat masuk neraka. Dalam saahih Ibnu Abi Hatim dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.” Dalam hadis lain, “Jika seorang suami mengajak istrinya berhubungan dan istri menolak, lalu suami marah kepadanya sepanjang malam, para malaikat melaknat istri itu sampai pagi.” (HR Bukhari dan Muslim) Dengan demikian, bisa dikatakan, bila surganya anak itu terletak pada telapak kaki (keridaan) ibu, surganya istri itu terletak pada telapak kaki (keridaan) suami. Dari Ummu Salamah ra. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Wanita (istri) mana saja yang meninggal dalam keadaan suaminya ridoa kepadanya niscaya ia akan masuk surga.”(HR Tirmidzi) Untuk itu, seorang istri yang ingin dimasukkan ke surga, hendaknya ia selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta mencari keridaan suami dengan cara taat dan patuh kepada suaminya. Ketaatan sepanjang suaminya itu tidak memerintahkan dan mengajak kepada kemaksiatan dan kemungkaran. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada khalik (Allah).” Wallahu’alam.

Oleh: Mochammad Hisyam

Sinyal-Sinyal Kematian

kematian-ilustrasi-_120509080818-218Suatu hari, Iyas bin Qatadah, pemimpin Bani Tamim, melihat bulu jenggotnya sudah putih. Ia pun berucap: “Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari perkara (petaka atau kematian) secara mendadak. Kulihat kematian sudah menuntutku dan aku tak bisa mengelak darinya.
Kemudian, ia pun keluar menemui masyarakatnya, seraya berseru: “Wahai kaum Bani Tamim, aku sungguh sudah memberikan masa mudaku untuk kalian maka hendaknya kalian memberikan untukku di masa tuaku. Mengapa kalian tak bisa memperlihatkan kepadaku perihal krusial dan mendesaknya kebutuhan; kematian ini begitu dekat denganku.” Kemudian, ia mengibaskan surbannya, menyendiri, lalu meminta izin kepada kaumnya untuk fokus beribadah kepada Rabb-nya, dan tidak melibatkan diri dalam percaturan kekuasaan, hingga meninggal. Sinyal-sinyal dari kerentaan usia, yang sekaligus merupakan salah satu indikasi dari dekatnya seseorang akan kematian, kerap hadir di hadapan kita. Misalnya, anak-cucu yang sudah beringsut dewasa, kulit yang sudah mengeriput, gigi yang sudah mulai tanggal satu demi satu, tulang mengalami osteoporosis yang selanjutnya mengakibatkan nyeri, menurunnya daya pendengaran, indra pengecap, dan daya ingat (memori). Demikian pula dengan tumbuhnya uban di bulu-bulu kita.

Melalui narasi di atas, bagaimana Iyas bin Qatadah, pemimpin Bani Tamim, begitu cerdas menangkap sinyal-sinyal kematian itu dengan hadirnya uban di jenggotnya. Maka, berbahagialah kita yang tersadarkan dengan segenap fase kehidupan yang mau tidak mau mesti kita jalani, sehingga babak kehidupan kita pun berakhir dengan indah. Sebaliknya, hati-hatilah, jika semua itu sama sekali tidak menorehkan keinsyapan pada kita, sehingga “makin tua justru makin jadi”. Allah berfirman: Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (ar-Rum: 54). Sedang, Nabi SAW bersabda: “Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. Siapa saja yang beruban dalam Islam, walaupun sehelai, maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat.” (HR Ibnu Hibban). Gemerlap jabatan dan kekuasaan (al-jah) memang acap kali meninabobokan manusia, sehingga dia bebal untuk mengingat kematian. Itulah sebabnya mengapa banyak guru spiritual mewanti-wanti agar seseorang tidak tersandung dalam jebakan ini. Bahwa, kekuasaan juga merupakan wahana bagi sang hamba untuk lebih banyak beramal saleh memang benar. Tapi, banyak tokoh politik dan pemimpin terkapar di dalamnya adalah fakta yang sulit dibantah, sehingga dia terpasung dalam janji-janji muluk yang diikrarkannya sendiri dan sifat amanah pun menjadi jauh sekali. Sosok Iyas bin Qatadah sebagai pemimpin, moga bisa menginspirasi para tokoh politik kita, sehingga akhir hidupnya sungguh memesona, ia sukses dalam menjalin hubungan dengan sesama dan Rabb-nya.

Oleh: Makmun Nawawi

Allah pun Suka

meminta-maaf-memang-terkadang-bukanlah-perkara-yang-mudah-namun-_140803115423-669“… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. 3:134). Hari Raya Idul Futri memiliki kesan tersendiri bagi setiap orang. Bagi Penulis, lebaran tahun ini begitu bermakna. Empat tahun tidak mudik ke kampung nun jauh, Patihe, Sei. Kanan, Labusel, Sumut. Perjalanan selama tiga hari tiga malam menelusuri jalan lintas timur Sumatera. Sebagian besar masjid nan megah di berbagai kota pun disinggahi, meski sulit menemukan masjid yang bersih. Menjadi Imam dan Khatib Shalat Ied di pinggiran tebing yang curam dikelililingi sungai yang bening. Lalu, ziarah ke kuburan kedua orang tua tercinta. Doa disertai derai air mata kerinduan pun dipanjatkan. Kiranya mereka dikumpulkan kelak bersama para Nabi, as-Shiddiqin, asy-Syuhada wa ash-Shalihin. Amin. Silaturrahim menjadi misi utama perjalanan ini. Menurut Pakar Tafsir, Tuan Guru Prof Dr M Quraish Shihab, dalam buku Membumikan Al-Qur’an, silaturrahim terambil dari kata shilat dan rahim. Shilat (washl) artinya menyambung dan menghimpun. Berarti hanya yang terputus dan terserak yang dituju kata shilat. Kata rahim pada mulanya berarti kasih sayang, kemudian berkembang menjadi peranakan (kandungan). Biasanya, anak yang dikandung selalu mendapatkan curahan kasih sayang. Silaturrahim berintikan rasa kasih sayang yang diwujudkan dengan pemberian atau hadiah yang tulus. Nabi SAW. pernah berpesan : Laysa al-muwashil bil mukafi’ wa lakin al-muwashil ‘an tashil man qatha’ak. Artinya, bukanlah bersilaturrahim orang yang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturrahim adalah yang menyambung apa yang terputus (HR. Bukhari). Demikian pula keuntungan silaturrahim akan menambah keberkahan umur dan rezki. (HR. Bukhari). Dalam hidup ini, Kita akan menghadapi sikap manusia yang buruk dan menyakitkan. Apalagi keburukan itu dari orang yang sepatutnya berbuat baik kepada kita atas segala kebaikan yang pernah diberikan. Air susu di balas air tuba, begitu kata pepatah. Nabi SAW. juga pernah merasakan sakit hati yang sangat, ketika Paman tercinta Hamzah ra, disayat-sayat hatinya lalu dikunyah oleh Hindun. Beliau pun bertekad untuk membalas lebih dari perlakukan itu. Tapi Allah SWT menegurnya agar bisa bersabar (QS.16:126).  Al-Qur’an memberi petunjuk, bagaimana sepatutnya menyikapi keburukan atau kesalahan orang lain. Mereka yang mampu melakukan akan termasuk orang yang disukai oleh Allah SWT dan patut diberi ganjaran surga (QS.3:133-136).
Dalam Tafsir Al-Misbah, M. Quraish Shihab menyebutnya sebagai kelas atau jenjang sikap manusia. Penulis rumuskan dengan empat  M. Tiga merujuk ke surah Ali Imran : 134 dan satu ke Surat an-Nuur : 22.

Pertama, Menahan amarah (al-kazhimin al-ghaidzo). Kata al-Kadzhimin menunjukkan makna penuh dan “menutupnya dengan rapat”, seperti wadah yang penuh air lalu ditutup rapat agar tidak tumpah. Artinya, perasaan tidak bersahabat masih memenuhi hati yang bersangkutan, pikiran masih menuntut balas. Tetapi ia tidak memperturutkan ajakan hati dan pikirannya. Dia menahan diri sehingga tidak mencetuskan kata-kata buruk atau perilaku negatif. Orang yang tidak mampu menahan amarah (emosi), akan membayarnya lebih mahal dari tindakannya.

Kedua, Memaafkan kesalahan (al-‘aafina ‘an an-naas). Kata maaf berasal dari al-afwu yang artinya menghapus. Karena yang memaafkan akan menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Bukanlah memaafkan jika masih ada tersisa bekas luka di dalam hati dan dendam yang membara. Pada hakikatnya, kita diperintahkan memberi bukan meminta maaf. Memberi maaf itu tindakan terpuji, dan meminta itu terhinakan. Karenanya, memberi maaf kepada orang yang melakukan kesalahan, sebelum ia meminta maaf adalah sikap terpuji. Bagi yang melakukan kesalahan, akuilah dengan jujur dan kembalikan apa yang pernah diambil darinya.

Ketiga, Melapangkan dada (al-shafhu). Sikap ini lebih tinggi dari memaafkan (al-afwu). Kedua kata ini disandingkan dalam satu ayat. Hendaklah kamu memaafkan dan melapangkan dada.” (QS.24:22). Al-shafhu berarti kelapangan. Dari kata ini pula muncul shafhat (lembaran atau halaman) dan mushafahat (berjabat tangan). Dengan demikian, orang yang melakukan al-shafhu dituntut untuk melapangkan dadanya, sehingga mampu menampung segala ketersinggungan dan dapat menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru.

Keempat, Melakukan kebaikan (ihsan). Inilah tingkat tertinggi dari sika-sikap terpuji terhadap kesalahan orang lain. Bukan hanya menahan amarah, memaafkan dan melapangkan dada, namun mampu berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk. Juga, menjalin silaturrahim dengan orang yang memutuskannya.  Kata yuhibbu (mencintai) sebanyak 18 kali dalam al-Qur’an dan lima kali ditujukan kepada al-muhsiniin (orang-orang baik). Yakni orang yang berbuat baik kepada orang bersalah atau berbuat lebih baik kepada orang yang telah berbuat baik. Keempat sikap terpuji di atas adalah karakteristik orang-orang bertakwa (al-muttaqin) sebagai tujuan akhir dari ibadah puasa (QS.2:183) dan seluruh ibadah dalam Islam. Oleh karena itu, sikap terpuji ini hanya mampu dilakukan oleh orang yang bertakwa kepada Allah SWT. Insya Allah, detak jantung akan normal, aliran darah lancar, nafas akan lega, pikiran jernih dan otot terasa rileks. Kinerja  meningkat, rezki bertambah dan umur jadi berkah. Allahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Ustaz Hasan Basri Tanjung MA

Kisah Akhir Pak Misrun

ust-arifin-ilham-_120720062708-553Sebut saja namanya Pak Misrun. Seorang mandor sebuah pengembang perumahan. Selama ini perusahaan yang mempekerjakannya selalu puas atas kinerjanya. Usianya sudah menginjak kepala enam. Fisiknya sudah terlihat rapuh. Pernah suatu waktu, Pak Misrun yang sadar fisiknya tidak seprima 20 tahun yang lalu menyampaikan untuk mengundurkan diri. Tapi selalu ditolak halus oleh pimpinannya. Sampai tibalah di hari itu, Pak Misrun ingin berpamit untuk berhenti kerja. Namun, kali ini sepertinya akan dikabulkan. Boleh, jika Pak Misrun ingin mengundurkan diri tapi mohon kerjakan satu proyek rumah untuk yang terakhir kali, ujar sang pimpinan. Pak Misrun sebenarnya sudah tidak bisa menikmati segala macam pekerjaannya ini. Sehingga, meski diterima, tapi tidak dengan semangat seperti awal-awal dia bekerja. Kali ini dia mengerjakannya asal-asalan, setengah hati, dan cenderung yang penting selesai, pilihan bahan-bahan bangunan dan furnitur pun tidak seperti biasa. Singkat cerita, selesai sudah proyek rumah besar tersebut. Dan Pak Misrun pun berniat menghadap sang pimpinan. Beberapa kunci rumah dan kamar di genggamnya. Namun, ketika hendak masuk ruangan si bos, sekretaris kantor memberi kabar si bos sedang mengerjakan umrah dan menitipkan dua amplop besar untuknya. Penasaran dengan isi dari dua amplop tersebut, Pak Misrun membukanya dengan seksama.

Amplop pertama berisi ucapan terima kasih perusahaan kepada beliau atas pengabdiannya selama ini. Sedangkan amplop kedua berisi Surat Sertifikat Tanah. Sedikit terkaget, ketika isi surat kepemilikan tanah tersebut ternyata mencantumkan nama beliau sebagai pemilik dari rumah yang baru saja diselesaikannya. Terselip secarik kertas kecil, tulisan tangan sang pimpinan, Dengan telah dibukanya kedua amplop ini saya mengucapkan untuk terakhir kalinya ucapan terima kasih atas pengabdian yang tulus dari Pak Misrun untuk perusahaan ini. Sebagai tanda mata kami, mohon berkenan menerima satu unit rumah dengan seluruh isi yang telah Pak Misrun siapkan. Kunci langsung saja dipegang untuk selamanya oleh Pak Misrun. Kontan, berbagai gejolak rasa menyergap hatinya. Di antara rupa-rupa rasa itu adalah penyesalan yang tak terhingga. Kenapa, untuk terakhir dia bekerja, dia tidak maksimal mengerjakan proyek yang sebenarnya direncanakan untuk sebuah hadiah atas pengabdiannya selama ini. Ikhwah, begitulah sebuah fragmen cerita untuk kita unduh hikmahnya. Ternyata atas semua pengabdian kita selama ini, pada titik tertentu pasti Allah akan memberi apresiasi yang tidak kita duga sebelumnya. Dan itu adalah haq. Apresiasi Allah terkadang sesuai dengan yang sudah kita kerjakan atau bahkan dilebihkan dari yang telah kita persembahkan (baca QS al-Muzamil, 20). Wallahu a’lam.

Oleh: Ustaz HM Arifin Ilham

Tiga warisan Ramadhan

Tiga Warisan Ramadhan

spirit-ramadhan-mesti-kita-jaga-dengan-sebaik-baiknya-_140807132451-584Tamu agung itu telah pergi. Kita tidak tahu apakah tahun depan masih dipertemukan kembali atau tidak. Ya, bulan suci Ramadhan telah berlalu. Kini Syawal telah tiba. Harapan apa yang hendak diraih di bulan Syawal hingga bulan-bulan selanjutnya setelah kita digodok sebulan penuh di bulan Ramadhan? Kita tidak ingin nuansa Ramadhan menjadi pudar. Untuk itu, spirit Ramadhan mesti kita jaga dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita terlena kembali oleh hiruk-pikuk dunia sehingga melupakan apa yang sudah kita bangun pada bulan Ramadhan. Kita masih ingat bagaimana menyambut Ramadhan dengan antusias. Pada siang hari menahan lapar dan haus  serta menjaga dari hal-hal buruk. Selama Ramadhan kita bersemangat ibadah Tarawih dan tadarus Alquran. Kita juga rela bangun pukul tiga dini hari untuk sahur. Apakah antusiasme dan keseriusan itu masih ada di bulan ini?
Bulan suci Ramadhan memberikan tiga warisan penting yang perlu kita pegang erat-erat dalam keseharian kita.

Pertama, Alquran. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran. Rasulullah SAW dan para sahabat memberikan teladannya. Mereka begitu rajin membaca Alquran hingga beberapa kali khatam. Kita juga di bulan Ramadhan melakukan tadarus setiap hari yang lain dari biasanya. Kebiasaan ini selayaknya dipertahankan di bulan-bulan selanjutnya. Sebagai petunjuk, Alquran tidak hanya dibaca tetap juga diamalkan segala perintah serta larangan yang tertera di dalamnya. Firman Allah: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) …” (QS al-Baqarah: 185).

Kedua, shalat. Pada bulan Ramadhan juga intensitas shalat begitu meningkat. Hal ini disebabkan semua amalan akan dilipatgandakan, sehingga memacu kita untuk melaksanakan shalat-shalat sunah. Paling tidak kita melaksanakan shalat sunah Tarawih sebelas rakaat ataupun 23 rakaat. Selayaknya amalan shalat sunah itu tetap dilakukan di bulan-bulan selanjutnya sebagai tanda keberhasilan kita di bulan Ramadhan.

Ketiga, infak. Pada bulan Ramadhan, kita juga dengan mudah memberi, mulai dari yang sunah seperti berinfak, menyantuni fakir-miskin, memberi iftar, hingga yang wajib, yaitu zakat fitrah dan zakat mal. Kebiasaan memberi ini sepatutnya dipertahankan dan terus dilestarikan di bulan-bulan berikutnya.

Ketiga hal di atas merupakan warisan berharga dari bulan Ramadhan yang mesti kita jaga dan amalkan terus-menerus dari bulan ke bulan hingga Ramadhan datang kembali di tahun berikutnya. Maka, dengan demikian,  kita bisa mencapai predikat manusia fitri, yang berhasil mengimplementasikan spirit Ramadhan di setiap bulannya.Bukan tidak mungkin apabila implementasi ini muncul dari kesadaran kolektif, kaum Muslim betul-betul mencapai umat terbaik (khairu ummah) dan umat terpilih (ummatan wasathan). Hal ini senada dengan firman Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi” (QS Fathir: 29). Mudah-mudahan di bulan Syawal ini dan bulan-bulan berikutnya kita terus mengamalkan tiga warisan Ramadhan di atas. Amin.

Oleh: M Iqbal Dawami

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.