Meraih Kemulian

ilmu-itu-lebih-berharga-dari-harta-_140806144542-372Meraih Kemuliaan Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS Al-Mujadilah: 11) Allah SWT telah menjanjikan setiap orang yang mempunyai ilmu akan ditinggikan derajatnya di atas manusia yang lain. Ditinggikan derajatnya bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat nanti. Ini menunjukkan tingginya kedudukan ilmu di sisi Allah Azza Wa Jalla. Ilmu menjadi mulia di sisi Allah karena ilmu akan menjadi alat yang akan membimbing seseorang menuju kebaikan hidup, kesempurnaan iman, dan selanjutnya akan menuju ma’rifatullah, sebuah tingkat pengenalan manusia akan perintah-perintah Allah. Ilmu yang dimiliki seseorang bisa menjadi alat untuk mengenal, mendekatkan diri pada Tuhannya, dan akan menjadi panduan bagi seseorang untuk hidup di dunia, menjauhi larangan-Nya dan menjadi panduan akan apa yang harus dilalui di dunia yang fana ini sesuai ketentuan-Nya.

Dengan ilmu ini, maka muncullah sikap takwa, takut kepada Allah, taat pada hukum dan aturan serta akan hidup yang baik dan memberikan kontribusi positif bagi diri, keluarga, dan lingkungannya. Mencari ilmu adalah sebuah kewajiban bagi Muslimin dan Muslimat, sejak lahir hingga akhir hayat. Dalam sebuah hadis di sebutkan, “Utlubul `Ilma minal mahdi ilal lahdi (Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga liang lahat).” Bahkan, dalam Islam juga diperintahkan untuk menuntut ilmu walaupun sumber ilmunya jauh di seberang lautan: “Utlubul `ilma walau bissiin (Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina).” Hal itu menunjukkan bahwa mencari imu harus dilakukan ke manapun dan kapan pun. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa ilmu adalah sesuatu yang utama sebagaimana kata ilmu disebut dalam Alquran sebanyak 780 kali. Realitas menunjukkan, seseorang bisa diangkat derajatnya, misalnya, dari kalangan miskin menjadi kalangan menengah atau kaya, hanya bisa dilakukan melalui pendidikan/mencari imu. Karena dengan ilmu yang dimiliki, maka ia akan memiliki kualitas, pengetahuan, dan keterampilan dalam mengerjakan sebuah pekerjaan dan jabatannya. Realitas kekinian juga menunjukkan bahwa sumber daya alam (SDA) yang dimiliki oleh sebuah bangsa dan negara bukanlah syarat utama sebuah bangsa maju dan sejahtera. Namun, yang paling penting adalah keterampilan dan kemampuan teknologi yang dimiliki oleh penduduknya yang bisa mengolah SDA itu untuk menjadi sebuah bangsa menjadi maju dan sejahtera. Sesungguhnya yang akan berpeluang besar menjadi alat untuk kemajuan seseorang adalah kemampuan ilmu yang dimlikinya. Semakin tinggi ilmu yang dimiliki oleh seseorang, maka akan semakin baik jabatan dan pekerjaan yang dianugerahkan oleh Allah dibanding orang yang tidak berilmu. Melihat hal tersebut, hendaknya bagi kaum Muslimin, terutama bagi kalangan pelajar, untuk tidak silau dengan indahnya usia dan dunia, serta tetap fokus mencari ilmu, di manapun dan kapan pun. Masa muda hendaknya diisi dengan mengasah dan me ngeruk sedalamda lamnya bahtera ilmu.

Oleh Farida Farichah

Pakain Taqwa

takwa-ilustrasi-_120508200427-645Imam Hasan al-Bashri bertutur bahwa pada suatu hari Khalifah Utsman ra berpidato di atas mimbar. Dia menyampaikan apa yang pernah didengarnya dari Rasulullah SAW. Katanya, “Wahai sekalian manusia, tak seorang pun dari kalian yang melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi kecuali Allah SWT akan menampakkan padahari kiamat melalui selendang [pakaian] yang akan dikenakan kepadanya. Apabila perbuatanya bagus maka selendang yang dikenakan bagus dan apabila perbuatannya buruk maka selendang yang dikenakannya buruk pula.” Lalu, Khalifah Utsman membacakan kepada hadirin ayat ini, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Mudah-mudahan, mereka selalu ingat.” (QS al-A’raf [7]: 26). Pakaian atau sandang dalam ayat di atas dikemukakan dengan kata libas dan risy. Menurut para pakar bahasa Alquran, libas semakna dengan kata tsaub atau tsiyab (QS al-Muddatstsir [74]: 4 ), yaitu sesuatu yang dipergunakan untuk menutup [sebagian] anggota badan. Sebagai contoh, gamis (qamish) adalah pakian; sarung (al-ditsar) juga pakaian; serban (`imamah) begitu juga. Sementara, kata risy atau riyasy secara harfiah berarti bulu burung yang halus dan indah. Risy menunjuk pada pakaian yang dikenakan untuk memperindah atau mempercantik diri (ma yatajammalu bihi al-insan). Selain dua kata (libas dan risy) ini, ayat di atas memperkenalkan pakaian lain yang disebutnya lebih baik, yaitu pakaian takwa (libas al-taqwa). Terdapat lima fungsi pakaian bila merujuk pada ayat di atas dan beberapa ayat lain yang semakna, yaitu menutup aurat, memperindah dan mempercantik diri, membangun identitas [menunjukkan kelas], menjaga dan melindungi diri dari bahaya perang, dan terakhir memperkuat moral dan spiritual untuk kemuliaan diri lahir batin, dunia dan akhirat. Yang terakhir ini merupakan fungsi dari pakaian takwa. Dalam suatu hadis diterangkan bahwa iman itu telanjang (al-iman `uryanun), pakaiannya adalah takwa (wa libasuhu al-taqwa), dan hiasannya adalah rasa malu (wa zinatuhu al-haya’). (Lihat, Qut al-Ulub fi Mu`amalat al-Mahbub: 1/139). Lantas, apa yang dimaksud pakaian takwa itu? Zaid bin Ali berpendapat, pakaian takwa itu adalah agama Islam itu sendiri. Menurut Ibn Abbas ra ia adalah iman dan amal shalih (huwa al-iman wa  al-`amal al-shalih). Pendapat lain menyatakan bahwa pakaian takwa adalah moralitas dan keluhuran budi pekerti. (Tafsir al-Manar: 8/320).Jadi, pakaian takwa adalah ketakwaan itu sendiri, yaitu sikap tunduk dan patuh kepada Allah dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Wallahu alam!!

Oleh: A Ilyas Ismail

Melemahkan Setan

kelugasan-ibrahim-dan-keluarganya-menolak-pengaruh-setan-itulah-_140920173549-947Setan adalah musuh kita. Dia akan berupaya terus menyesatkan dan membinasakan manusia. Tidak ada kata menyerah baginya untuk mencelakakan kita. Sepanjang kita hidup, setan tidak akan pernah berhenti menggoda dan membiarkan kita selamat. Oleh karena itu, Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya untuk hati-hati terhadap setan. Tuhan pun memerintahkan kita untuk menjadikan setan sebagai musuh serta mengumumkan kepada kita tentang peperangan melawan setan sebagaima firman Allah SWT  QS Fatir ayat 6, “Sesungguhnya, setan itu adalah musuh bagimu maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” Untuk itu, hendaknya kita mencari cara melemahkan dan melumpuhkan setan agar bisa selamat dari bujuk rayunya. Caranya, dengan rajin membaca dan memaknai kalimat basmalah dan takbir. Dengan membaca basmalah akan membuat setan menjadi kecil dan tak berdaya. Sebagaimana diungkapkan Imam Ahmad bin Hambal dalam musnadnya meriwayatkan dari seseorang yang dibonceng oleh Nabi SAW. Dia berkata, “Tunggangan Nabi SAW tergelincir maka aku katakan: Celaka setan.” Nabi SAW bersabda, “Jangan engkau mengucapkan‘celaka setan’. Karena, jika engkau mengucapkannya maka setan akan membesar dan berkata: Dengan kekuatanku, aku jatuhkan dia. Jika engkau mengucapkan bismillah maka ia akan menjadi kecil hingga seperti seekor lalat.” (Hadis Riwayat Ahmad dan Abu Dawud).

Begitu pula dengan kalimat takbir yang akan menjadikan setan semakin kecil.  Zat Yang Mahabesar itu hanyalah Allah SWT dan selain-Nya adalah kecil. Berkaitan dengan kalimat takbir ini pula, Umar bin Khaththab pernah mengatakan, “Seorang hamba yang mengatakan Allahu Akbar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” Namun, harus diingat, bacaan itu bukan sekadar ucapan yang keluar dari lisan, melainkan untuk dimaknai dan direalisasikan. Tidak sedikit orang yang mengucapkan kalimat ini, tapi perbuatannya menyimpang dari makna yang diucapkan. Lafaz bismillah mengandung pengertian aku memulai pekerjaanku dengan menyebut nama Allah atau aku mulai melakukan sesuatu dengan menyebut nama Allah. Realisasi dari basmalah ini hendaknya menjadikan segenap aktivitas yang dilakukan dilandasi niat karena Allah SWT menjadikan kita sebagai pribadi yang bertanggung jawab dan amanah dalam mengemban amanat Allah SWT. Sedangkan, realisasi dari kalimat takbir ini hendaknya menjadikan kita menjadi orang yang selalu mengagungkan, membesarkan, dan mengutamakan seruan-Nya di atas seruan selain-Nya. Takbir seharusnya menghapus sifat takabur yang ada pada diri kita. Untuk itu, bacalah “bismilaahi Allahuakbar” saat kita digoda oleh setan dengan penuh penghayatan. Dengan seizin Allah SWT, setan pun menjadi lemah.

Oleh: Mochammad Hisyam

Berprasangka Baik kepada Allah

bibitHidup ini adalah sebuah perjalanan singkat, pada akhirnya nanti kita pasti akan kembali kepada Allah. Saat kembali menghadap Allah, kita akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan kita di dunia ini. Saat hidup di dunia inilah, kita sebaiknya terus-menerus berprasangka baik kepada Allah. Apabila telah berhasil, kita akan menjadi hamba yang menebarkan energi positif untuk diri sendiri, lingkungan, dan menerima ketentuan Allah dengan tulus ikhlas. Peristiwa yang menimpa Ummul Mukminin Aisyah RA ketika difitnah berbuat serong dengan salah seorang sahabat, berkatalah istri Abu Ayub kepada suaminya tentang istri Rasulullah. “Abu Ayub, tidakkah engkau mendengar apa yang dibicarakan orang tentang Aisyah?” “Ya, aku mendengarnya. Tetapi, semua itu dusta. Engkau sendiri Ummu Ayub, apakah mungkin melakukannya?” Abu Ayub balik bertanya. “Demi Allah aku tidak mungkin melakukannya,” jawab sang istri tegas. “Ya dan Aisyah lebih baik daripada dirimu.” Begitu kata akhir Abu Ayub. Kisah ini, mengingatkan kita untuk berprasangka baik kepada diri sendiri, lingkungan, dan ketentuan Allah. Sukses tidaknya seseorang tergantung keyakinannya tentang dirinya dan prasangka baiknya kepada Allah. Sebagaimana yang terdapat dalam penjelasan hadis nabi, “Sesungguhnya Allah berkata, Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap Aku dan Aku bersamanya ketika ia berdoa kepada-Ku.” (HR. Muslim). Senada dengan sabda di atas, Jalaluddin Rumi juga mengingatkan, “Engkau adalah apa yang engkau pikirkan, saudaraku, selebihnya adalah tulang dan serat. Jika engkau memikirkan bunga mawar, engkau adalah mawar kebun. Jika engkau pikir engkau adalah onak, engkau adalah bahan bakar tungku.” Dalam kehidupan ini, orang yang berhasil merupakan mereka yang memiliki tujuan untuk menjadi orang yang bertakwa, kemudian berusaha terus-menerus merealisasikan tujuannya menjadi orang yang bertakwa tersebut. Selain itu, juga memiliki pemikiran dan harapan yang positif terhadap kehendak Allah. Setiap saat seseorang menghadapi masalah dan tantangan dalam hidup ini. Orang-orang yang berprasangka baik kepada Allah tentu memiliki keyakinan bahwa bersama kesulitan terdapat kemudahan. Sebagaimana yang tergambar dalam firman Allah, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS al-Insyirah [94]: 5-6). Mungkin saat ini kita termasuk orang miskin, memiliki keterbatasan fisik, berpendidikan rendah, serta sudah lanjut usia, dan memiliki hambatan lainnya. Namun, apabila kita selalu berprasangka baik kepada Allah, tentu akan selalu ada harapan untuk perubahan hidup yang lebih positif dan bahagia.

Oleh: Muslimin

Sahabat dan Shalawat Nabi

hudzaifah-senantiasa-mendampingi-rasulullah-saw-_140708133754-804Dalam berbagai kesempatan, baik saat memberi tausiyah, seminar, maupun lainnya, saya mengajak jamaah untuk senantiasa berdoa. Tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Untuk ayah ibunya, kakaknya, adiknya, istrinya, suaminya, anak-anaknya, tetangganya, teman-temannya, dan juga orang lain. Baik yang dia kenal maupun tidak. Karena, pada hakikatnya, doa yang dia panjatkan untuk orang lain juga akan dirasakan manfaatnya oleh dirinya sendiri. Dalam bershalawat pun demikian juga. Selain bershalawat untuk Rasulullah SAW, hendaknya juga bershalawat untuk para sahabat Rasulullah. “Maa raaitu ahadan yuhibbu ahadan. Kahubbi ashhabi Muhammadin, Muhammadaa.” Saya nggak pernah melihat seorang pencinta yang mencintai seseorang seperti cintanya para sahabat Nabi Muhammad terhadap Nabi Muhammad. (Juga tentunya istri-istri Nabi dan keluarga Nabi). Karena itu, saya mengajak diri saya, keluarga saya, jamaah saya, dan juga pembaca koran yang kita sayangi ini untuk bersama-sama bershalawat. Dan, dalam shalawat itu, sebutlah selalu sahabat-sahabat Nabi. Mengapa kita perlu bershalawat untuk para sahabat Nabi? Karena, mereka adalah orang-orang mulia yang berjuang bersama-sama Rasulullah SAW. Mereka banyak mengetahui sosok dan kiprah Rasulullah dibandingkan kita. Mereka sangat mencintai Rasulullah. Mereka tak pernah rela sesuatu terjadi pada diri Rasulullah. Mereka tak rela Rasulullah disakiti, dihina, dicaci maki, atau apa pun yang melukai perasaan Rasulullah. Karena itu, perbanyak shalawat untuk Rasulullah, juga untuk sahabatnya dan keluarganya, serta untuk seluruh umat Islam. Sebab, shalawat itu juga akan kita rasakan manfaatnya. Semoga Allah mempertemukan dan mengumpulkan kita semua dengan semua sahabat Nabi.

Saya banyak membayangkan, di Padang Mahsyar nanti, kita dijemput oleh sahabat-sahabat Nabi yang kita selalu sebut dalam shalawat, diantar, serta dipertemukan dengan Nabi. “Ya Rasulullah, inilah orang yang juga mencintaimu dan mencintai yang mencintaimu ….” Allahumma shalli wa sallim wa baarik, ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin wa ikhwaanihii minal ambiyaa-i wal mursaliin, wa azwaajihim wa aalihim wa dzurriyyaatihim wa ash-haabihim wa ummatihim ajma’iin. Ya Allah, berilah shalawat, keselamatan, dan keberkahan untuk Nabi Muhammad dan saudara-saudaranya dari para nabi dan rasul, dan istri-istri mereka semua, keluarga mereka, turunan-turunan mereka, dan sahabat-sahabat dari semua nabi dan rasul, termasuk sahabat-sahabat Nabi Muhammad dan semua yang terkait dengan Nabi Muhammad.

Oleh: Yusuf Mansur

Hikmah Kegagalan

takdir-ilustrasi-_130719141805-286.jpgKita pasti menginginkan agar cita-cita menjadi kenyataan. Hanya saja, tidak semua harapan selalu terpenuhi. Kerap ada kekurangan dalam kehidupan, sebuah fakta bahwa kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Ketika rencana dan harapan yang ditetapkan tidak tercapai, apakah itu kegagalan? Dalam sudut pandang sebagai manusia yang memiliki keinginan, mungkin ya. Sesal, kecewa, sedih, dan marah bercampur aduk. Sadari dan tanamkan dalam hati dan pikiran, di balik sesuatu yang dinilai gagal itu sesungguhnya ada hikmah. Bukankah yang terbaik selalu diminta kepada Allah Yang MahaRahman dan Rahim? Allah SWT selalu memberikan yang terbaik, bukan yang selalu diinginkan. Hanya saja, manusia dengan hawa nafsunya tidak dapat membedakan apakah yang dialaminya sebagai pelajaran, ujian, dan memberikan kebaikan. Tugas kita sebagai manusia untuk menangkap hikmah di balik setiap yang dialami. Teruslah berdoa meminta yang terbaik dalam kehidupan. Percayalah, doa akan selalu dikabulkan. Di sinilah maksud dari firman-Nya dalam QS al-Mu’’min [40]: 60, “Berdoalah kepada-Ku maka akan Aku menerima doa kalian.”

Allah SWT pasti akan memenuhi doa, baik langsung atau tidak langsung dan memberikan yang terbaik bagi makhluk-Nya,  bukan karena keinginan makhluk-Nya. Karena keinginan itu belum tentu sesuai dengan kadar, kemampuan, atau kondisi terbaik makhluk-Nya. Inilah yang dimaksud takdir. Secara etimologis, takdir (taqdir) berasal dari kata qaddara. Akar katan qaddara yang diartikan ukuran memberi kadar atau mengukur. Dengan demikian, sebagai pencipta (khaliq), Allah Yang Mahakuasa telah menetapkan ukuran, batas tertentu dalam ciptaan-Nya. Dalam Alquran al-Karim ada banyak ayat yang berbicara tentang takdir, antara lain, dalam QS al-Furqan [25]: 2,  Yaasin [36]: 38-39,  al-Shaffat [37]: 96, al-A’la [87]: 1-3, dan seterusnya. Dalam QS al-A’la [87] : 1-3 disebutkan, “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi; Yang menciptakan semua makhluk dan menyempurnakannya; Yang memberi takdir kemudian mengarahkannya.”  Keyakinan akan takdir bukan berarti membuat kita pasrah apalagi putus asa. Putus asa sangat dibenci Allah SWT. Allah Yang Mahakuasa hanya menetapkan batas kemampuan dan ukuran makhluknya saja. Berusaha keras sampai darah tinggal satu aliran, nafas satu helaan merupakan wajib hukumnya. Setelah seluruh daya upaya terbaik dilakukan, bertawakal dan memohonlah kepada Allah SWTyang terbaik. Terimalah dengan senyum apa pun hasilnya, berusaha keraslah untuk meraihnya kembali jika dianggap masih belum maksimal. Jangan-jangan karena strategi, situasi dan kondisi yang belum pas. Bukankah dalam banyak hal kita tidak tahu di mana batas kemampuan? Sedangkan, kemampuan itu tumbuh seiring dengan bertambahnya pengalaman, ilmu, dan kapasitas diri. Bila hari ini tidak mampu dilakukan, mungkin esok lusa bisa. Semuanya berproses, jadikan semuanya proses pembelajaran. Bersabar, pantang menyerah, dan tawakal atas semua proses yang dijalani. Inilah hidup maka berbuatlah yang terbaik dan bermanfaat bagi diri, manusia, dan lingkungan sekitar. Yakinlah, dengan berbagi dan bermanfaat bagi seluruh makhluk, Allah Yang Maharahman dan Rahim memberi kita yang terbaik. Wallahu’alam.

Oleh: Lu Rusliana

Impian

ustaz-yusuf-mansur-_140709201706-715Menjadi impian hampir semua muslim-muslimah untuk bisa ke Tanah Suci. Melihat langsung Ka’bah yang selama ini menjadi kiblat shalat. Menginjakkan kakinya di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dua masjid yang paling dirindukan. Menjadi impian hampir semua muslimin untuk bisa umrah dan berhaji. Menyempurnakan rukun Islam yang kelima. Dikatakan hampir, sebab masih ada yang dikasih segala kesempatan dan peluang, tapi ada ketakutan dan mungkin keengganan. Tapi jumlahnya insya Allah sangat kecil. Dengan sedikit nasihat dan motivasi yang pas, insya Allah bisa segera lompat dan berangkat. Kebahagiaan yang lain, adalah kebahagiaan kita. Terbayang oleh saya, sama saat saya dikasih izin Allah menatap cahaya Masjidil Haram dari jarak yang sudah dekat. “Dhuyuufurrahmaan, tamu-tamu Allah, lihat ke depan, masjid yang bermandikan cahaya, itulah Masjidil Haram…” Selanjutnya, saya sudah tidak lagi dapat mendengar ucapan muthowwif. Sudah tenggelam dalam kerinduan yang membuat jantung berdegup kencang. Tanpa terasa air mata menetes. Labbaik Allaahumma Labbaik… Yaa Allah, makasih Engkau sudah mengizinkanku memenuhi panggilan-Mu…

Ucapan ini pula yang insya Allah akan kita ucapkan, manakala Allah menyebut nama kita di hari akhir nanti… Labbaik yaa Allah… Labbaik Allaahumma Labbaik. Saya bisa merasakan kebahagiaan para jamaah haji yang hari ini insya Allah mulai terbang menuju Makkah dan Madinah. Aaahhh… Air mata ini sungguh menetes. Ya, saat menulis ini, saya mengenang kembali saat pertama dipastikan secara administratif berangkat ke Tanah Suci. Perasaan bahagia sudah duluan menyelimuti. Ga bisa tidur. Kelewat seneng. Dan air mata ini juga untuk segenap kawan-kawan saya se-Tanah Air dan sedunia, yang belum ke sana. Sungguh, Tanah Suci sejengkal buat mereka yang percaya dengan Kebesaran dan Kekuasaan Allah. Tanah Suci begitu dekat buat mereka yang tidak mengandalkan uang. Percayalah. Allah SWT pun merindukan kalian semua bertakbir, membesarkan Nama-Nya, bertahmid, memuji Nama-Nya, langsung di Rumah-Nya. Allah SWT Senang Menyenangkan Hamba-Hamba-Nya. Termasuk memberikan segala kejutan ketidakmungkinan berangkat menjadi mungkin. Di dunia ini, jutaan orang merasakan lembutnya Kasih Sayang dan Kemurahan Allah SWT. Hingga ia bisa menatap Ka’bah yang anggun berselimutkan Kiswah hitam. Air mata kekaguman, keharuan, kebahagiaan, kesedihan, harapan, campur aduk ga keruan. Selamat jalan Saudara-Saudaraku… Selamat jalan. Jangan lupa mendoakan Indonesia di tempat paling mustajab itu. Insya Allah haji kalian semua, mabruur. Doanya maqbuul. Badan dikasih sehat. Umur dikasih panjang. Hingga bisa kembali ke Tanah Air dan ke tempat masing-masing. Semoga yang belum berangkat, bisa diizinkan Allah berangkat. Dengan rizki yang halal, dengan pengetahuan yang cukup, dengan bekal iman taqwa yang bagus. Aamiin. Salam, dari Yusuf Mansur yang selalu merindukan Kota Makkah dan Madinah.

Oleh: Ustaz Yusuf Mansur

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.