Sedekah itu Gampang

Assalamualaikum Wr.Wb

PT PLN sebagai penyedia layanan listrik telah berdiri puluhan tahun yang lalu bahkan esok akan menginjak umur yang ke 69. Kalau boleh dibilang PLN sebagai perusahaan yang jarang mendapat pujian tapi banyak kritik pedas disaat ada gangguan listrik seperti pemadaman listrik, tegangan yang kurang stabil yang akibatnya telah banyak memakan korban bagi peralatan elektronik rumah tangga, perkantoran dan industri, seperti halnya tv, kulkas, komputer dan masih banyak lainya. Memang miris mendengar berita baik di media cetak maupun online bahwa PLN banyak mengalami kerugian terlepas benar atau tidaknya hal tersebut, bagi masyarakat awam tidak peduli yang mereka tahu bayar tagihan listrik tiap bulan dan tidak ada gangguan listrik padam, bahkan sudah menjadi momok yang horor bagi masyarakat, saya menyoroti dari pengguna sektor perumahan terutama ibu2 rumah tangga yang mempunyai balita dirumah, jadi serba salah akibat ketergantungan kebutuhan mereka terhadap listrik begitu besar seperti pompa air yang tidak tidak bisa dinyalakan karena padamnya listrik yang mengakibatkan kurangnya persedian air, cucian baju menumpuk , bahan makanan di kulkas jadi bau dan tentu masih banyak lagi. Kami sebagai pengguna jasa listrik PLN banyak berharap ada perubahan yang signifikan khususnya pelayanan yang baik dimulai dari level paling bawah yaitu rumah tangga, kami tidak minta yang banyak, kami sadar tugas berat PLN dalam mendistribusikan listrik keseluruh pelosok indonesia tidak segampang membalik tangan. Bagi saya sudah ada listrik di negeri ini sudah bersyukur sehingga dunia makin terang. Untuk itu dihari PLN yang ke 69 saya ingin memberikan ide sederhana melalui tulisan di blog yang mungkin sepele tapi bagi kami merasa dipedulikan, dihargai sebagai pemakai jasa listrik saya berharap dengan prinsip sedekah itu gampang yaitu PLN menggunakan sebagian dananya untuk melakukan brodcast sms resmi dari pihak PLN per wilayah setempat dimana listrik akan dipadamkan atau mengalami gangguan. Isi format dalam sms tersebut berisikan pengumuman akan ada pemadaman listrik diwilayah tertentu baik hari dan waktunya tercantum jelas. Menurut saya itu mudah dan tidak perlu bangun system komputerisasi yang mahal serta perlu kerjasama yang baik dengan menggandeng pihak operator seluler. Dari segi database pelanggan sudah terekam karena setiap pelanggan PLN yang akan mendaftar untuk mendapatkan pelayanan listrik selalu dicatat data pribadinya seperti halnya nomer handphone, karena handphone sudah menjadi barang yang umum bisa terjangkau tidak perlu canggih asal bisa terima sms sudah cukup. Dimana broadcast sms didesain agar tidak menerima umpan balik dari setiap pelanggan karena akan membebani trafik server sms. Apalah arti teknologi yang tinggi dan canggih tapi dari sisi pelayanan ke pelanggan diabaikan, ingat!! PLN dan pelanggan adalah mitra sejati.Tanpa sadar PLN sudah menerapkan prinsip sedekah itu gampang, karena Allah sangat menyukai hambanya yang suka bersedekah dan berbagi dalam hal ini berbagi informasi yang sangat berguna bagi pelangganya. Karena dengan sms tadi pelanggan merasa dipedulikan dari hal kecil sehingga pelanggan lebih siap bila ada pemadaman seperti menyediakan lilin, senter, petromax  atau diesel bagi industri menengah keatas  dengan demikian dampak kerusakan akibat listrik padam dapat diminimalisasi oleh pelanggan, dengan pemberitahuan tadi masyarakat indonesia akan berdoa tanpa dikomando agar PLN cepat tumbuh dan berkembang lebih jaya lagi dan menurut saya lebih efisien dan mengena dibanding menaruh pengumuman di media online karena tidak semua pelanggan memantau terus. Demikian ide saya semoga dengan dimulainya dari hal kecil PLN bisa terhindar dari masalah yang sering menimpanya. Sekali lagi selamat ulang tahun PLN yang ke 69 dan terimakasih bagi blog detik yang telah memfasilitasi lomba ini.

Wassalammuallaikum wr.wb

Pakaian Malu

para-jamaah-sufi-berdoa-agar-allah-menyelamatkan-dokter-nasrani-_140813190326-650Menurut fitrahnya, manusia mempunyai sifat malu, tetapi tergerus akibat godaan syaitan, seperti peristiwa merujuk kepada peristiwa Adam dan Hawa yang diceritakan dalam Alquran saat mereka masih tinggal di surga. Allah SWT berfirman, “Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya sudah merasai buah itu,tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun. Kemudian, Tuhan mereka menyeru mereka, ‘Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu, ‘Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS Al-‘Araaf [7]:22).

Aspek iman tidak boleh dipisahkan dengan sifat malu karena malu itu merupakan cabang iman. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sifat malu adalah satu cabang daripada cabang iman.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim). Pada kesempatan lain, Rasulullah bersabda, “Malu itu sebagian dari iman. Dan iman tempatnya di surga, sedangkan ucapan keji termasuk sebagian tabiat kasar dan tabiat kasar itu tempatnya di neraka”. (Hadis riwayat al-Tirmizi). Malu termasuk sifat mulia. Sifat ini perlu diwujudkan dalam setiap individu Muslim. Adanya malu akan mencegah seseorang melakukan kemungkaran dan perbuatan keji yang dilarang agama. Oleh sebab itu, perasaan malu akan menjadi pakaian iman bagi seseorang Muslim. Dalam diri orang yang beriman akan muncul perasaan malu untuk melakukan dosa. Namun,  jika keimanan nipis dan dikuasai nafsu serta godaan syaitan, ia tidak akan malu melanggar perintah Allah. Malah tanpa rasa malu itu ada yang sanggup bermegah mencanangkan perbuatan kejinya. Allah SWT berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang yang beriman, hendaklah mereka senantiasa merendahkan pandangan dan memelihara kehormatan mereka.” (QS an-Nuur [24] ayat 30). Malu bukan saja boleh mengawal perlakuan, melainkan juga emosi dan tingkah laku. Seseorang yang malu mengeluarkan kata-kata kasar apabila marah merupakan hasil kemampuan diri mengawal perasaannya. Jika dilihat konteks malu dalam Islam dan kaitannya dengan masyarakat Islam, banyaknya kemungkaran saat ini karena berkurangnya sifat malu. Sekaligus memperlihatkan kerapuhan iman dalam kalangan generasi muda. Kebebasan tidak pernah dihalangi, tetapi perlu melihat pada batasan. Ini karena kebebasan mutlak akan menghancurkan fitrah malu yang ada dalam diri hingga perbuatan dan tindakan yang sepatutnya memalukan sudah tidak lagi dianggap sebagai memalukan. Oleh karena itu, malu sebagai benteng kepada kekukuhan iman perlu ditanam dalam diri anak kecil, remaja, dewasa, hingga orang tua supaya hanya contoh terbaik dapat dilihat serta diamalkan dalam kehidupan. Biarlah jadi pemalu daripada dikatakan tidak tahu malu. Dari Abu Mas’ûd ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshârî al-Badri RA ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu,berbuatlah sesukamu.”

Oleh: Aji Setiawan 

Meraih Kemulian

ilmu-itu-lebih-berharga-dari-harta-_140806144542-372Meraih Kemuliaan Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS Al-Mujadilah: 11) Allah SWT telah menjanjikan setiap orang yang mempunyai ilmu akan ditinggikan derajatnya di atas manusia yang lain. Ditinggikan derajatnya bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat nanti. Ini menunjukkan tingginya kedudukan ilmu di sisi Allah Azza Wa Jalla. Ilmu menjadi mulia di sisi Allah karena ilmu akan menjadi alat yang akan membimbing seseorang menuju kebaikan hidup, kesempurnaan iman, dan selanjutnya akan menuju ma’rifatullah, sebuah tingkat pengenalan manusia akan perintah-perintah Allah. Ilmu yang dimiliki seseorang bisa menjadi alat untuk mengenal, mendekatkan diri pada Tuhannya, dan akan menjadi panduan bagi seseorang untuk hidup di dunia, menjauhi larangan-Nya dan menjadi panduan akan apa yang harus dilalui di dunia yang fana ini sesuai ketentuan-Nya.

Dengan ilmu ini, maka muncullah sikap takwa, takut kepada Allah, taat pada hukum dan aturan serta akan hidup yang baik dan memberikan kontribusi positif bagi diri, keluarga, dan lingkungannya. Mencari ilmu adalah sebuah kewajiban bagi Muslimin dan Muslimat, sejak lahir hingga akhir hayat. Dalam sebuah hadis di sebutkan, “Utlubul `Ilma minal mahdi ilal lahdi (Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga liang lahat).” Bahkan, dalam Islam juga diperintahkan untuk menuntut ilmu walaupun sumber ilmunya jauh di seberang lautan: “Utlubul `ilma walau bissiin (Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina).” Hal itu menunjukkan bahwa mencari imu harus dilakukan ke manapun dan kapan pun. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa ilmu adalah sesuatu yang utama sebagaimana kata ilmu disebut dalam Alquran sebanyak 780 kali. Realitas menunjukkan, seseorang bisa diangkat derajatnya, misalnya, dari kalangan miskin menjadi kalangan menengah atau kaya, hanya bisa dilakukan melalui pendidikan/mencari imu. Karena dengan ilmu yang dimiliki, maka ia akan memiliki kualitas, pengetahuan, dan keterampilan dalam mengerjakan sebuah pekerjaan dan jabatannya. Realitas kekinian juga menunjukkan bahwa sumber daya alam (SDA) yang dimiliki oleh sebuah bangsa dan negara bukanlah syarat utama sebuah bangsa maju dan sejahtera. Namun, yang paling penting adalah keterampilan dan kemampuan teknologi yang dimiliki oleh penduduknya yang bisa mengolah SDA itu untuk menjadi sebuah bangsa menjadi maju dan sejahtera. Sesungguhnya yang akan berpeluang besar menjadi alat untuk kemajuan seseorang adalah kemampuan ilmu yang dimlikinya. Semakin tinggi ilmu yang dimiliki oleh seseorang, maka akan semakin baik jabatan dan pekerjaan yang dianugerahkan oleh Allah dibanding orang yang tidak berilmu. Melihat hal tersebut, hendaknya bagi kaum Muslimin, terutama bagi kalangan pelajar, untuk tidak silau dengan indahnya usia dan dunia, serta tetap fokus mencari ilmu, di manapun dan kapan pun. Masa muda hendaknya diisi dengan mengasah dan me ngeruk sedalamda lamnya bahtera ilmu.

Oleh Farida Farichah

Pakain Taqwa

takwa-ilustrasi-_120508200427-645Imam Hasan al-Bashri bertutur bahwa pada suatu hari Khalifah Utsman ra berpidato di atas mimbar. Dia menyampaikan apa yang pernah didengarnya dari Rasulullah SAW. Katanya, “Wahai sekalian manusia, tak seorang pun dari kalian yang melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi kecuali Allah SWT akan menampakkan padahari kiamat melalui selendang [pakaian] yang akan dikenakan kepadanya. Apabila perbuatanya bagus maka selendang yang dikenakan bagus dan apabila perbuatannya buruk maka selendang yang dikenakannya buruk pula.” Lalu, Khalifah Utsman membacakan kepada hadirin ayat ini, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Mudah-mudahan, mereka selalu ingat.” (QS al-A’raf [7]: 26). Pakaian atau sandang dalam ayat di atas dikemukakan dengan kata libas dan risy. Menurut para pakar bahasa Alquran, libas semakna dengan kata tsaub atau tsiyab (QS al-Muddatstsir [74]: 4 ), yaitu sesuatu yang dipergunakan untuk menutup [sebagian] anggota badan. Sebagai contoh, gamis (qamish) adalah pakian; sarung (al-ditsar) juga pakaian; serban (`imamah) begitu juga. Sementara, kata risy atau riyasy secara harfiah berarti bulu burung yang halus dan indah. Risy menunjuk pada pakaian yang dikenakan untuk memperindah atau mempercantik diri (ma yatajammalu bihi al-insan). Selain dua kata (libas dan risy) ini, ayat di atas memperkenalkan pakaian lain yang disebutnya lebih baik, yaitu pakaian takwa (libas al-taqwa). Terdapat lima fungsi pakaian bila merujuk pada ayat di atas dan beberapa ayat lain yang semakna, yaitu menutup aurat, memperindah dan mempercantik diri, membangun identitas [menunjukkan kelas], menjaga dan melindungi diri dari bahaya perang, dan terakhir memperkuat moral dan spiritual untuk kemuliaan diri lahir batin, dunia dan akhirat. Yang terakhir ini merupakan fungsi dari pakaian takwa. Dalam suatu hadis diterangkan bahwa iman itu telanjang (al-iman `uryanun), pakaiannya adalah takwa (wa libasuhu al-taqwa), dan hiasannya adalah rasa malu (wa zinatuhu al-haya’). (Lihat, Qut al-Ulub fi Mu`amalat al-Mahbub: 1/139). Lantas, apa yang dimaksud pakaian takwa itu? Zaid bin Ali berpendapat, pakaian takwa itu adalah agama Islam itu sendiri. Menurut Ibn Abbas ra ia adalah iman dan amal shalih (huwa al-iman wa  al-`amal al-shalih). Pendapat lain menyatakan bahwa pakaian takwa adalah moralitas dan keluhuran budi pekerti. (Tafsir al-Manar: 8/320).Jadi, pakaian takwa adalah ketakwaan itu sendiri, yaitu sikap tunduk dan patuh kepada Allah dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Wallahu alam!!

Oleh: A Ilyas Ismail

Melemahkan Setan

kelugasan-ibrahim-dan-keluarganya-menolak-pengaruh-setan-itulah-_140920173549-947Setan adalah musuh kita. Dia akan berupaya terus menyesatkan dan membinasakan manusia. Tidak ada kata menyerah baginya untuk mencelakakan kita. Sepanjang kita hidup, setan tidak akan pernah berhenti menggoda dan membiarkan kita selamat. Oleh karena itu, Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya untuk hati-hati terhadap setan. Tuhan pun memerintahkan kita untuk menjadikan setan sebagai musuh serta mengumumkan kepada kita tentang peperangan melawan setan sebagaima firman Allah SWT  QS Fatir ayat 6, “Sesungguhnya, setan itu adalah musuh bagimu maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” Untuk itu, hendaknya kita mencari cara melemahkan dan melumpuhkan setan agar bisa selamat dari bujuk rayunya. Caranya, dengan rajin membaca dan memaknai kalimat basmalah dan takbir. Dengan membaca basmalah akan membuat setan menjadi kecil dan tak berdaya. Sebagaimana diungkapkan Imam Ahmad bin Hambal dalam musnadnya meriwayatkan dari seseorang yang dibonceng oleh Nabi SAW. Dia berkata, “Tunggangan Nabi SAW tergelincir maka aku katakan: Celaka setan.” Nabi SAW bersabda, “Jangan engkau mengucapkan‘celaka setan’. Karena, jika engkau mengucapkannya maka setan akan membesar dan berkata: Dengan kekuatanku, aku jatuhkan dia. Jika engkau mengucapkan bismillah maka ia akan menjadi kecil hingga seperti seekor lalat.” (Hadis Riwayat Ahmad dan Abu Dawud).

Begitu pula dengan kalimat takbir yang akan menjadikan setan semakin kecil.  Zat Yang Mahabesar itu hanyalah Allah SWT dan selain-Nya adalah kecil. Berkaitan dengan kalimat takbir ini pula, Umar bin Khaththab pernah mengatakan, “Seorang hamba yang mengatakan Allahu Akbar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” Namun, harus diingat, bacaan itu bukan sekadar ucapan yang keluar dari lisan, melainkan untuk dimaknai dan direalisasikan. Tidak sedikit orang yang mengucapkan kalimat ini, tapi perbuatannya menyimpang dari makna yang diucapkan. Lafaz bismillah mengandung pengertian aku memulai pekerjaanku dengan menyebut nama Allah atau aku mulai melakukan sesuatu dengan menyebut nama Allah. Realisasi dari basmalah ini hendaknya menjadikan segenap aktivitas yang dilakukan dilandasi niat karena Allah SWT menjadikan kita sebagai pribadi yang bertanggung jawab dan amanah dalam mengemban amanat Allah SWT. Sedangkan, realisasi dari kalimat takbir ini hendaknya menjadikan kita menjadi orang yang selalu mengagungkan, membesarkan, dan mengutamakan seruan-Nya di atas seruan selain-Nya. Takbir seharusnya menghapus sifat takabur yang ada pada diri kita. Untuk itu, bacalah “bismilaahi Allahuakbar” saat kita digoda oleh setan dengan penuh penghayatan. Dengan seizin Allah SWT, setan pun menjadi lemah.

Oleh: Mochammad Hisyam

Berprasangka Baik kepada Allah

bibitHidup ini adalah sebuah perjalanan singkat, pada akhirnya nanti kita pasti akan kembali kepada Allah. Saat kembali menghadap Allah, kita akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan kita di dunia ini. Saat hidup di dunia inilah, kita sebaiknya terus-menerus berprasangka baik kepada Allah. Apabila telah berhasil, kita akan menjadi hamba yang menebarkan energi positif untuk diri sendiri, lingkungan, dan menerima ketentuan Allah dengan tulus ikhlas. Peristiwa yang menimpa Ummul Mukminin Aisyah RA ketika difitnah berbuat serong dengan salah seorang sahabat, berkatalah istri Abu Ayub kepada suaminya tentang istri Rasulullah. “Abu Ayub, tidakkah engkau mendengar apa yang dibicarakan orang tentang Aisyah?” “Ya, aku mendengarnya. Tetapi, semua itu dusta. Engkau sendiri Ummu Ayub, apakah mungkin melakukannya?” Abu Ayub balik bertanya. “Demi Allah aku tidak mungkin melakukannya,” jawab sang istri tegas. “Ya dan Aisyah lebih baik daripada dirimu.” Begitu kata akhir Abu Ayub. Kisah ini, mengingatkan kita untuk berprasangka baik kepada diri sendiri, lingkungan, dan ketentuan Allah. Sukses tidaknya seseorang tergantung keyakinannya tentang dirinya dan prasangka baiknya kepada Allah. Sebagaimana yang terdapat dalam penjelasan hadis nabi, “Sesungguhnya Allah berkata, Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap Aku dan Aku bersamanya ketika ia berdoa kepada-Ku.” (HR. Muslim). Senada dengan sabda di atas, Jalaluddin Rumi juga mengingatkan, “Engkau adalah apa yang engkau pikirkan, saudaraku, selebihnya adalah tulang dan serat. Jika engkau memikirkan bunga mawar, engkau adalah mawar kebun. Jika engkau pikir engkau adalah onak, engkau adalah bahan bakar tungku.” Dalam kehidupan ini, orang yang berhasil merupakan mereka yang memiliki tujuan untuk menjadi orang yang bertakwa, kemudian berusaha terus-menerus merealisasikan tujuannya menjadi orang yang bertakwa tersebut. Selain itu, juga memiliki pemikiran dan harapan yang positif terhadap kehendak Allah. Setiap saat seseorang menghadapi masalah dan tantangan dalam hidup ini. Orang-orang yang berprasangka baik kepada Allah tentu memiliki keyakinan bahwa bersama kesulitan terdapat kemudahan. Sebagaimana yang tergambar dalam firman Allah, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS al-Insyirah [94]: 5-6). Mungkin saat ini kita termasuk orang miskin, memiliki keterbatasan fisik, berpendidikan rendah, serta sudah lanjut usia, dan memiliki hambatan lainnya. Namun, apabila kita selalu berprasangka baik kepada Allah, tentu akan selalu ada harapan untuk perubahan hidup yang lebih positif dan bahagia.

Oleh: Muslimin

Sahabat dan Shalawat Nabi

hudzaifah-senantiasa-mendampingi-rasulullah-saw-_140708133754-804Dalam berbagai kesempatan, baik saat memberi tausiyah, seminar, maupun lainnya, saya mengajak jamaah untuk senantiasa berdoa. Tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Untuk ayah ibunya, kakaknya, adiknya, istrinya, suaminya, anak-anaknya, tetangganya, teman-temannya, dan juga orang lain. Baik yang dia kenal maupun tidak. Karena, pada hakikatnya, doa yang dia panjatkan untuk orang lain juga akan dirasakan manfaatnya oleh dirinya sendiri. Dalam bershalawat pun demikian juga. Selain bershalawat untuk Rasulullah SAW, hendaknya juga bershalawat untuk para sahabat Rasulullah. “Maa raaitu ahadan yuhibbu ahadan. Kahubbi ashhabi Muhammadin, Muhammadaa.” Saya nggak pernah melihat seorang pencinta yang mencintai seseorang seperti cintanya para sahabat Nabi Muhammad terhadap Nabi Muhammad. (Juga tentunya istri-istri Nabi dan keluarga Nabi). Karena itu, saya mengajak diri saya, keluarga saya, jamaah saya, dan juga pembaca koran yang kita sayangi ini untuk bersama-sama bershalawat. Dan, dalam shalawat itu, sebutlah selalu sahabat-sahabat Nabi. Mengapa kita perlu bershalawat untuk para sahabat Nabi? Karena, mereka adalah orang-orang mulia yang berjuang bersama-sama Rasulullah SAW. Mereka banyak mengetahui sosok dan kiprah Rasulullah dibandingkan kita. Mereka sangat mencintai Rasulullah. Mereka tak pernah rela sesuatu terjadi pada diri Rasulullah. Mereka tak rela Rasulullah disakiti, dihina, dicaci maki, atau apa pun yang melukai perasaan Rasulullah. Karena itu, perbanyak shalawat untuk Rasulullah, juga untuk sahabatnya dan keluarganya, serta untuk seluruh umat Islam. Sebab, shalawat itu juga akan kita rasakan manfaatnya. Semoga Allah mempertemukan dan mengumpulkan kita semua dengan semua sahabat Nabi.

Saya banyak membayangkan, di Padang Mahsyar nanti, kita dijemput oleh sahabat-sahabat Nabi yang kita selalu sebut dalam shalawat, diantar, serta dipertemukan dengan Nabi. “Ya Rasulullah, inilah orang yang juga mencintaimu dan mencintai yang mencintaimu ….” Allahumma shalli wa sallim wa baarik, ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin wa ikhwaanihii minal ambiyaa-i wal mursaliin, wa azwaajihim wa aalihim wa dzurriyyaatihim wa ash-haabihim wa ummatihim ajma’iin. Ya Allah, berilah shalawat, keselamatan, dan keberkahan untuk Nabi Muhammad dan saudara-saudaranya dari para nabi dan rasul, dan istri-istri mereka semua, keluarga mereka, turunan-turunan mereka, dan sahabat-sahabat dari semua nabi dan rasul, termasuk sahabat-sahabat Nabi Muhammad dan semua yang terkait dengan Nabi Muhammad.

Oleh: Yusuf Mansur

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.