Taat Pada Suami

ketaatan-seorang-istri-kepada-suami-merupakan-bagian-penting-yang-_140821204931-541Seorang lelaki datang menghampiri Rasulullah SAW. Sekonyong-konyong, Muadz, nama lelaki itu, menghampiri kaki Baginda Nabi Muhammad dan bersujud di hadapannya. Maka, Rasulullah pun menegur Muadz. “Apa yang kau lakukan ini, wahai Muadz?” Dia lantas menjawab, “Aku mendatangi Syam, aku dapati mereka (penduduknya) sujud kepada uskup mereka. Maka aku berkeinginan dalam hatiku untuk melakukannya kepadamu, wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW pun melarang Muadz. “Jangan engkau lakukan hal itu karena sungguh andai aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah, niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang istri tidaklah menunaikan hak Rabb-nya sampai ia menunaikan hak suaminya. Seandainya suaminya meminta dirinya dalam keadaan ia berada di atas pelana (hewan tunggangan) maka ia tidak boleh menolaknya.” Hadis yang diriwayatkan dari sahih Ibnu Majah dan sahih Ibnu Hibban dari Abdullah Ibnu Abi Auf RA tersebut menggambarkan betapa seorang istri harus taat kepada suami. Islam meninggikan kedudukan seorang suami sebagai imam sehingga istri harus patuh. Ketaatan seorang istri kepada suami merupakan bagian penting yang harus diperhatikan oleh seorang istri.

Ketaatan kepada suami menunujukkan kesalehan seorang istri. Hal ini dapat kita pahami dari firman Allah SWT yang termaktub dalam Alquran surah an-Nisa (4) ayat 34. “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian, jika mereka menaatimu maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” Ketika seorang istri taat dan patuh kepada suaminya, akan menjadi sebab bagi sang istri mendapatkan surga. Sebaliknya, pembangkangan seorang istri terhadap suaminya akan berakibat mendapatkan laknat Allah dan di akhirat masuk neraka. Dalam saahih Ibnu Abi Hatim dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.” Dalam hadis lain, “Jika seorang suami mengajak istrinya berhubungan dan istri menolak, lalu suami marah kepadanya sepanjang malam, para malaikat melaknat istri itu sampai pagi.” (HR Bukhari dan Muslim) Dengan demikian, bisa dikatakan, bila surganya anak itu terletak pada telapak kaki (keridaan) ibu, surganya istri itu terletak pada telapak kaki (keridaan) suami. Dari Ummu Salamah ra. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Wanita (istri) mana saja yang meninggal dalam keadaan suaminya ridoa kepadanya niscaya ia akan masuk surga.”(HR Tirmidzi) Untuk itu, seorang istri yang ingin dimasukkan ke surga, hendaknya ia selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta mencari keridaan suami dengan cara taat dan patuh kepada suaminya. Ketaatan sepanjang suaminya itu tidak memerintahkan dan mengajak kepada kemaksiatan dan kemungkaran. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada khalik (Allah).” Wallahu’alam.

Oleh: Mochammad Hisyam

Sinyal-Sinyal Kematian

kematian-ilustrasi-_120509080818-218Suatu hari, Iyas bin Qatadah, pemimpin Bani Tamim, melihat bulu jenggotnya sudah putih. Ia pun berucap: “Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari perkara (petaka atau kematian) secara mendadak. Kulihat kematian sudah menuntutku dan aku tak bisa mengelak darinya.
Kemudian, ia pun keluar menemui masyarakatnya, seraya berseru: “Wahai kaum Bani Tamim, aku sungguh sudah memberikan masa mudaku untuk kalian maka hendaknya kalian memberikan untukku di masa tuaku. Mengapa kalian tak bisa memperlihatkan kepadaku perihal krusial dan mendesaknya kebutuhan; kematian ini begitu dekat denganku.” Kemudian, ia mengibaskan surbannya, menyendiri, lalu meminta izin kepada kaumnya untuk fokus beribadah kepada Rabb-nya, dan tidak melibatkan diri dalam percaturan kekuasaan, hingga meninggal. Sinyal-sinyal dari kerentaan usia, yang sekaligus merupakan salah satu indikasi dari dekatnya seseorang akan kematian, kerap hadir di hadapan kita. Misalnya, anak-cucu yang sudah beringsut dewasa, kulit yang sudah mengeriput, gigi yang sudah mulai tanggal satu demi satu, tulang mengalami osteoporosis yang selanjutnya mengakibatkan nyeri, menurunnya daya pendengaran, indra pengecap, dan daya ingat (memori). Demikian pula dengan tumbuhnya uban di bulu-bulu kita.

Melalui narasi di atas, bagaimana Iyas bin Qatadah, pemimpin Bani Tamim, begitu cerdas menangkap sinyal-sinyal kematian itu dengan hadirnya uban di jenggotnya. Maka, berbahagialah kita yang tersadarkan dengan segenap fase kehidupan yang mau tidak mau mesti kita jalani, sehingga babak kehidupan kita pun berakhir dengan indah. Sebaliknya, hati-hatilah, jika semua itu sama sekali tidak menorehkan keinsyapan pada kita, sehingga “makin tua justru makin jadi”. Allah berfirman: Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (ar-Rum: 54). Sedang, Nabi SAW bersabda: “Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. Siapa saja yang beruban dalam Islam, walaupun sehelai, maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat.” (HR Ibnu Hibban). Gemerlap jabatan dan kekuasaan (al-jah) memang acap kali meninabobokan manusia, sehingga dia bebal untuk mengingat kematian. Itulah sebabnya mengapa banyak guru spiritual mewanti-wanti agar seseorang tidak tersandung dalam jebakan ini. Bahwa, kekuasaan juga merupakan wahana bagi sang hamba untuk lebih banyak beramal saleh memang benar. Tapi, banyak tokoh politik dan pemimpin terkapar di dalamnya adalah fakta yang sulit dibantah, sehingga dia terpasung dalam janji-janji muluk yang diikrarkannya sendiri dan sifat amanah pun menjadi jauh sekali. Sosok Iyas bin Qatadah sebagai pemimpin, moga bisa menginspirasi para tokoh politik kita, sehingga akhir hidupnya sungguh memesona, ia sukses dalam menjalin hubungan dengan sesama dan Rabb-nya.

Oleh: Makmun Nawawi

Allah pun Suka

meminta-maaf-memang-terkadang-bukanlah-perkara-yang-mudah-namun-_140803115423-669“… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. 3:134). Hari Raya Idul Futri memiliki kesan tersendiri bagi setiap orang. Bagi Penulis, lebaran tahun ini begitu bermakna. Empat tahun tidak mudik ke kampung nun jauh, Patihe, Sei. Kanan, Labusel, Sumut. Perjalanan selama tiga hari tiga malam menelusuri jalan lintas timur Sumatera. Sebagian besar masjid nan megah di berbagai kota pun disinggahi, meski sulit menemukan masjid yang bersih. Menjadi Imam dan Khatib Shalat Ied di pinggiran tebing yang curam dikelililingi sungai yang bening. Lalu, ziarah ke kuburan kedua orang tua tercinta. Doa disertai derai air mata kerinduan pun dipanjatkan. Kiranya mereka dikumpulkan kelak bersama para Nabi, as-Shiddiqin, asy-Syuhada wa ash-Shalihin. Amin. Silaturrahim menjadi misi utama perjalanan ini. Menurut Pakar Tafsir, Tuan Guru Prof Dr M Quraish Shihab, dalam buku Membumikan Al-Qur’an, silaturrahim terambil dari kata shilat dan rahim. Shilat (washl) artinya menyambung dan menghimpun. Berarti hanya yang terputus dan terserak yang dituju kata shilat. Kata rahim pada mulanya berarti kasih sayang, kemudian berkembang menjadi peranakan (kandungan). Biasanya, anak yang dikandung selalu mendapatkan curahan kasih sayang. Silaturrahim berintikan rasa kasih sayang yang diwujudkan dengan pemberian atau hadiah yang tulus. Nabi SAW. pernah berpesan : Laysa al-muwashil bil mukafi’ wa lakin al-muwashil ‘an tashil man qatha’ak. Artinya, bukanlah bersilaturrahim orang yang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturrahim adalah yang menyambung apa yang terputus (HR. Bukhari). Demikian pula keuntungan silaturrahim akan menambah keberkahan umur dan rezki. (HR. Bukhari). Dalam hidup ini, Kita akan menghadapi sikap manusia yang buruk dan menyakitkan. Apalagi keburukan itu dari orang yang sepatutnya berbuat baik kepada kita atas segala kebaikan yang pernah diberikan. Air susu di balas air tuba, begitu kata pepatah. Nabi SAW. juga pernah merasakan sakit hati yang sangat, ketika Paman tercinta Hamzah ra, disayat-sayat hatinya lalu dikunyah oleh Hindun. Beliau pun bertekad untuk membalas lebih dari perlakukan itu. Tapi Allah SWT menegurnya agar bisa bersabar (QS.16:126).  Al-Qur’an memberi petunjuk, bagaimana sepatutnya menyikapi keburukan atau kesalahan orang lain. Mereka yang mampu melakukan akan termasuk orang yang disukai oleh Allah SWT dan patut diberi ganjaran surga (QS.3:133-136).
Dalam Tafsir Al-Misbah, M. Quraish Shihab menyebutnya sebagai kelas atau jenjang sikap manusia. Penulis rumuskan dengan empat  M. Tiga merujuk ke surah Ali Imran : 134 dan satu ke Surat an-Nuur : 22.

Pertama, Menahan amarah (al-kazhimin al-ghaidzo). Kata al-Kadzhimin menunjukkan makna penuh dan “menutupnya dengan rapat”, seperti wadah yang penuh air lalu ditutup rapat agar tidak tumpah. Artinya, perasaan tidak bersahabat masih memenuhi hati yang bersangkutan, pikiran masih menuntut balas. Tetapi ia tidak memperturutkan ajakan hati dan pikirannya. Dia menahan diri sehingga tidak mencetuskan kata-kata buruk atau perilaku negatif. Orang yang tidak mampu menahan amarah (emosi), akan membayarnya lebih mahal dari tindakannya.

Kedua, Memaafkan kesalahan (al-‘aafina ‘an an-naas). Kata maaf berasal dari al-afwu yang artinya menghapus. Karena yang memaafkan akan menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Bukanlah memaafkan jika masih ada tersisa bekas luka di dalam hati dan dendam yang membara. Pada hakikatnya, kita diperintahkan memberi bukan meminta maaf. Memberi maaf itu tindakan terpuji, dan meminta itu terhinakan. Karenanya, memberi maaf kepada orang yang melakukan kesalahan, sebelum ia meminta maaf adalah sikap terpuji. Bagi yang melakukan kesalahan, akuilah dengan jujur dan kembalikan apa yang pernah diambil darinya.

Ketiga, Melapangkan dada (al-shafhu). Sikap ini lebih tinggi dari memaafkan (al-afwu). Kedua kata ini disandingkan dalam satu ayat. Hendaklah kamu memaafkan dan melapangkan dada.” (QS.24:22). Al-shafhu berarti kelapangan. Dari kata ini pula muncul shafhat (lembaran atau halaman) dan mushafahat (berjabat tangan). Dengan demikian, orang yang melakukan al-shafhu dituntut untuk melapangkan dadanya, sehingga mampu menampung segala ketersinggungan dan dapat menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru.

Keempat, Melakukan kebaikan (ihsan). Inilah tingkat tertinggi dari sika-sikap terpuji terhadap kesalahan orang lain. Bukan hanya menahan amarah, memaafkan dan melapangkan dada, namun mampu berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk. Juga, menjalin silaturrahim dengan orang yang memutuskannya.  Kata yuhibbu (mencintai) sebanyak 18 kali dalam al-Qur’an dan lima kali ditujukan kepada al-muhsiniin (orang-orang baik). Yakni orang yang berbuat baik kepada orang bersalah atau berbuat lebih baik kepada orang yang telah berbuat baik. Keempat sikap terpuji di atas adalah karakteristik orang-orang bertakwa (al-muttaqin) sebagai tujuan akhir dari ibadah puasa (QS.2:183) dan seluruh ibadah dalam Islam. Oleh karena itu, sikap terpuji ini hanya mampu dilakukan oleh orang yang bertakwa kepada Allah SWT. Insya Allah, detak jantung akan normal, aliran darah lancar, nafas akan lega, pikiran jernih dan otot terasa rileks. Kinerja  meningkat, rezki bertambah dan umur jadi berkah. Allahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Ustaz Hasan Basri Tanjung MA

Kisah Akhir Pak Misrun

ust-arifin-ilham-_120720062708-553Sebut saja namanya Pak Misrun. Seorang mandor sebuah pengembang perumahan. Selama ini perusahaan yang mempekerjakannya selalu puas atas kinerjanya. Usianya sudah menginjak kepala enam. Fisiknya sudah terlihat rapuh. Pernah suatu waktu, Pak Misrun yang sadar fisiknya tidak seprima 20 tahun yang lalu menyampaikan untuk mengundurkan diri. Tapi selalu ditolak halus oleh pimpinannya. Sampai tibalah di hari itu, Pak Misrun ingin berpamit untuk berhenti kerja. Namun, kali ini sepertinya akan dikabulkan. Boleh, jika Pak Misrun ingin mengundurkan diri tapi mohon kerjakan satu proyek rumah untuk yang terakhir kali, ujar sang pimpinan. Pak Misrun sebenarnya sudah tidak bisa menikmati segala macam pekerjaannya ini. Sehingga, meski diterima, tapi tidak dengan semangat seperti awal-awal dia bekerja. Kali ini dia mengerjakannya asal-asalan, setengah hati, dan cenderung yang penting selesai, pilihan bahan-bahan bangunan dan furnitur pun tidak seperti biasa. Singkat cerita, selesai sudah proyek rumah besar tersebut. Dan Pak Misrun pun berniat menghadap sang pimpinan. Beberapa kunci rumah dan kamar di genggamnya. Namun, ketika hendak masuk ruangan si bos, sekretaris kantor memberi kabar si bos sedang mengerjakan umrah dan menitipkan dua amplop besar untuknya. Penasaran dengan isi dari dua amplop tersebut, Pak Misrun membukanya dengan seksama.

Amplop pertama berisi ucapan terima kasih perusahaan kepada beliau atas pengabdiannya selama ini. Sedangkan amplop kedua berisi Surat Sertifikat Tanah. Sedikit terkaget, ketika isi surat kepemilikan tanah tersebut ternyata mencantumkan nama beliau sebagai pemilik dari rumah yang baru saja diselesaikannya. Terselip secarik kertas kecil, tulisan tangan sang pimpinan, Dengan telah dibukanya kedua amplop ini saya mengucapkan untuk terakhir kalinya ucapan terima kasih atas pengabdian yang tulus dari Pak Misrun untuk perusahaan ini. Sebagai tanda mata kami, mohon berkenan menerima satu unit rumah dengan seluruh isi yang telah Pak Misrun siapkan. Kunci langsung saja dipegang untuk selamanya oleh Pak Misrun. Kontan, berbagai gejolak rasa menyergap hatinya. Di antara rupa-rupa rasa itu adalah penyesalan yang tak terhingga. Kenapa, untuk terakhir dia bekerja, dia tidak maksimal mengerjakan proyek yang sebenarnya direncanakan untuk sebuah hadiah atas pengabdiannya selama ini. Ikhwah, begitulah sebuah fragmen cerita untuk kita unduh hikmahnya. Ternyata atas semua pengabdian kita selama ini, pada titik tertentu pasti Allah akan memberi apresiasi yang tidak kita duga sebelumnya. Dan itu adalah haq. Apresiasi Allah terkadang sesuai dengan yang sudah kita kerjakan atau bahkan dilebihkan dari yang telah kita persembahkan (baca QS al-Muzamil, 20). Wallahu a’lam.

Oleh: Ustaz HM Arifin Ilham

Tiga warisan Ramadhan

Tiga Warisan Ramadhan

spirit-ramadhan-mesti-kita-jaga-dengan-sebaik-baiknya-_140807132451-584Tamu agung itu telah pergi. Kita tidak tahu apakah tahun depan masih dipertemukan kembali atau tidak. Ya, bulan suci Ramadhan telah berlalu. Kini Syawal telah tiba. Harapan apa yang hendak diraih di bulan Syawal hingga bulan-bulan selanjutnya setelah kita digodok sebulan penuh di bulan Ramadhan? Kita tidak ingin nuansa Ramadhan menjadi pudar. Untuk itu, spirit Ramadhan mesti kita jaga dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita terlena kembali oleh hiruk-pikuk dunia sehingga melupakan apa yang sudah kita bangun pada bulan Ramadhan. Kita masih ingat bagaimana menyambut Ramadhan dengan antusias. Pada siang hari menahan lapar dan haus  serta menjaga dari hal-hal buruk. Selama Ramadhan kita bersemangat ibadah Tarawih dan tadarus Alquran. Kita juga rela bangun pukul tiga dini hari untuk sahur. Apakah antusiasme dan keseriusan itu masih ada di bulan ini?
Bulan suci Ramadhan memberikan tiga warisan penting yang perlu kita pegang erat-erat dalam keseharian kita.

Pertama, Alquran. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran. Rasulullah SAW dan para sahabat memberikan teladannya. Mereka begitu rajin membaca Alquran hingga beberapa kali khatam. Kita juga di bulan Ramadhan melakukan tadarus setiap hari yang lain dari biasanya. Kebiasaan ini selayaknya dipertahankan di bulan-bulan selanjutnya. Sebagai petunjuk, Alquran tidak hanya dibaca tetap juga diamalkan segala perintah serta larangan yang tertera di dalamnya. Firman Allah: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) …” (QS al-Baqarah: 185).

Kedua, shalat. Pada bulan Ramadhan juga intensitas shalat begitu meningkat. Hal ini disebabkan semua amalan akan dilipatgandakan, sehingga memacu kita untuk melaksanakan shalat-shalat sunah. Paling tidak kita melaksanakan shalat sunah Tarawih sebelas rakaat ataupun 23 rakaat. Selayaknya amalan shalat sunah itu tetap dilakukan di bulan-bulan selanjutnya sebagai tanda keberhasilan kita di bulan Ramadhan.

Ketiga, infak. Pada bulan Ramadhan, kita juga dengan mudah memberi, mulai dari yang sunah seperti berinfak, menyantuni fakir-miskin, memberi iftar, hingga yang wajib, yaitu zakat fitrah dan zakat mal. Kebiasaan memberi ini sepatutnya dipertahankan dan terus dilestarikan di bulan-bulan berikutnya.

Ketiga hal di atas merupakan warisan berharga dari bulan Ramadhan yang mesti kita jaga dan amalkan terus-menerus dari bulan ke bulan hingga Ramadhan datang kembali di tahun berikutnya. Maka, dengan demikian,  kita bisa mencapai predikat manusia fitri, yang berhasil mengimplementasikan spirit Ramadhan di setiap bulannya.Bukan tidak mungkin apabila implementasi ini muncul dari kesadaran kolektif, kaum Muslim betul-betul mencapai umat terbaik (khairu ummah) dan umat terpilih (ummatan wasathan). Hal ini senada dengan firman Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi” (QS Fathir: 29). Mudah-mudahan di bulan Syawal ini dan bulan-bulan berikutnya kita terus mengamalkan tiga warisan Ramadhan di atas. Amin.

Oleh: M Iqbal Dawami

Musyawarah Dan Tawakal

komisi-pemilihan-umum-kpu-_140709095915-719Dalam sejarah Islam dikenal Perang Uhud yaitu peperangan yang terjadi antara kaum Muslimin dan Musyrikin. Sebelum berperang, Rasulullah SAW dengan para sahabatnya dan pasukan perangnya menggelar musyawarah untuk mengatur taktik dan strategi Perang. Kemudian peserta musyawarah pun menyepakati strategi perang untuk menghadapi kaum musyrik. Namun, dalam Perang Uhud, pasukan kaum Muslim mengalami kekalahan. Hal itu disebabkan pasukan perang yang ditugaskan untuk tetap di pos, ia indisipliner meninggalkan pos yang ditugaskan Nabi Muhammad SAW. Ia ingin mengejar keuntungan material yaitu gonimah perang yang akhirnya pada Perang Uhud pasukan kaum muslimin mengalami kekalahan, tidak seperti pada perang Badar yang meraih kemenangan yang gemilang. Allah SWT berfirman Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah.” (Q.S Ali Imron 159). Mukmin yang bertawakal akan menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah SWT dan meyakini hanya Allah-lah yang mampu memberi atau tidak memberi sesuatu dan mendatangkan manfaat atau marabahaya. Bangsa Indonesia telah menyelenggarakan Pemilu Pilpres 9 Juli 2014 dengan sukses, tidak ada gangguan yang berarti bahkan Obama memuji dan mengucapkan selamat kepada penyelenggaraan Pemilu Pilpres di Indonesia berjalan sukses. Tanggal 22 Juli 2014 hasil Pilpres diumumkan KPU dan ditetapkan pemenangnya, karena itu kita sebaiknya menyikapi hasil Pilpres dengan sikap:

Pertama, bersyukur. Kita bersyukur kepada Allah SWT, Pilpres telah berjalan sukses. Sebagai bangsa Indonesia, kita harus bangga sebagai Negara Demokrasi terbesar nomor tiga di dunia setelah Amerika dan India, sesuai dengan Firman Allah SWT  ”Kalau kita bersyukur maka Allah akan menambah, tetapi jika kufur maka Allah menyiksa dengan siksa yang pedih.”

Kedua: Legowo. Capres Cawapres dan pendukungnya legowo, siapapun yang menang harus kita dukung. Yang menang adalah rakyat Indonesia. Mari kita kembali ke asal hidup bangsa kita rukun dan damai, yang menang tidak arogan dan yang kalah tidak putus asa. Silahkan bersaing kembali lima tahun yang akan datang. Kita harus membangun jiwa kesatria, siap kalah dan siap menang sehingga kita dapat mewariskan tradisi yang positif yang bisa diteladani generasi setelah kita dalam berdemokrasi secara santun, cerdas dan dewasa.

Ketiga: Ambil hikmah. Kedua Capres dan Cawapres sudah berusaha seoptimal mungkin agar menang namun kenyataan menunjukan menurut peraturan hanya ada satu pemenang sebagai Presiden dan Wakil Presiden, karena itu ambil hikmah dari yang terjadi. Firman Allah SWT  Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S Al Baqarah:216). Karena itu, kita bangsa Indonesia harus mengambil hikmahnya apa yang terjadi pada kita mungkin lebih baik bagi bangsa kita. Marilah kita bermusyawarah dan bertawakal kepada Allah SWT. Mudah mudahan Presiden dan Wakil Presiden terpilih dapat meningkatkan kesejahteraan yang berkeadilan lebih baik lagi di masa mendatang.

Oleh: Prof Nanat Fatah Natsir

Jasad dan Ruh Alquran

alquran-_130702103109-621Alquran itu terdiri dari jasad dan ruh. Hal ini dijelaskan Rasulullah SAW dalam hadisnya, “ Lahu dzahrun wabathnun” (baginya (Alquran) mempunyai jasmani (zahir) dan ruhani (batin).” (Syarhussunnah) Dalam kitab Fadhailul Amal, disebutkan sebagian ulama berpendapat yang dimaksud dengan jasad Alquran adalah merujuk pada kalimat-kalimat dalam Alquran yang dapat dibaca dengan baik oleh setiap orang. Sedangkan, batin (ruh) Alquran merujuk pada maksud-maksudnya, baik yang tersurat maupun tersirat, yangpemahamannya berbeda sesuai dengan kemampuan pembacanya. Di antara hikmah adanya jasad dan ruh Alquran ini untuk menunjukkan kepada kita bahwa Alquran bukan sekadar kitab bacaan semata, melainkan merupakan kitab pedoman hidup yang harus dijadikan rujukan dalam bersikap dan beramal yang bisa diawali dengan membaca dan memahaminya. Oleh karena itu, Allah SWT menjadikan Alquran dengan menggunakan bahasa Arab, bukan hanya karena Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai orang Arab. Lebih daripada itu, bahasa Arab adalah bahasa yang mudah dipelajari dan dipahami setiap orang dari berbagai suku dan bangsa. Allah SWT berfirman,Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Alquran dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya.” (QS Yusuf [12]: 2). Selain itu, Allah SWT menjadikan Alquran sebagai sesuatu yang mudah dibaca, mudah untuk dipahami, dan mudah untuk dipelajari sehingga dapat memberikan kemudahan kepada kita untuk mengamalkannya.

Allah SWT berfirman, Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS al-Qomar (54): 17) Ketika kita mampu menyatukan jasad dan ruh Alquran, akan menjadikan kita mendapatkan ilmu yang luas dan mendalam. Ibnu Masud berkata, “Jika kamu ingin memperoleh ilmu, hendaklah kamu memikirkan dan merenungkan makna-makna Alquran karena di dalamnya mengandung ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang yang sesudahnya.” Ketika kita mampu menyatukan jasad dan ruh Alquran, kitab suci itu akan hidup dalam diri kita yang tergambar dari akhlak-akhlak keseharian kita. Inilah yang dibuktikan Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW digambarkan sebagai sosok Alquran yang berjalan. Hal ini ini dinyatakan oleh Aisyah RA ketika ia ditanya mengenai akhlak Rasulullah SAW. Beliau menjawab, “Budi pekerti Nabi SAW adalah Alquran.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad). Sebagai seorang Muslim sudah selayaknya kita berupaya menghidupkan jasad dan ruh dari Alquran agar tidak hanya sebagai bacaan semata, lebih daripada itu dapat menjadi petunjuk bagi kita dalam mengarungi kehidupan dunia ini. Kini, kita berada pada bulan Ramadhan. Pada bulan ini Rasulullah SAW selalu menghidupkannya dengan menyatukan jasad dan ruh Alquran. Dalam hadis riwayat Bukhari dinyatakan Rasulullah SAW memperbanyak membaca Alquran al-Karim pada Ramadhan dan Malaikat Jibril datang kepada beliau untuk membacakan Alquran. Untuk itu, mari kita upayakan untuk selalu membaca Alquran dengan sebaik-baiknya dan kita pahami maksudnya. Lalu, berupaya untuk mengamalkannya sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah SAW sehingga jasad dan ruh Alquran dapat kita amalkan dalam keseharian. Wallaahualam.

Oleh: H Moch Hisyam

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.